Ini Sosok Pengarang Humor Mukidi

Reporter : Maulana Kautsar
Sabtu, 27 Agustus 2016 13:22
Ini Sosok Pengarang Humor Mukidi
Pria pensiunan sebuah perusahaan farmasi di Jakarta itu sebetulnya telah menuliskan karya-karya humor Mukidi sejak lama.

Dream - Humor bertokoh utama Mukidi telah menggemparkan sosial media. Humor-humor ringan nan jenaka itu kerap disebar di grup perpesan.

Tapi, tahukah Anda siapa kreator dari humor-humor Mukidi tersebut? Pengarang cerita keseharian Mukidi itu tak lain adalah Soetantyo Moechlas.

Pria yang akrab disapa kawan-kawannya dengan sebutan Pakde Tantyo itu merupakan pria asal Banyumas, Jawa Tengah, yang kini berdomisili di Jalan Pembangunan I no 1 Jatibening I Bekasi, Jawa Barat.

Pria pensiunan sebuah perusahaan farmasi di Jakarta itu sebetulnya telah menuliskan karya-karya humor Mukidi sejak lama.

Akun Dina Mumpuni, menulis, humor-humor karya Yoyok sebetulnya telah lama muncul. Dari banyaknya cerita humor tersebut, beberapa telah dibukukan.

Dia menyebut salah satu buku yang paling terkenal yaitu Trilogi Laskar Pelawak: Balada Mukidi dan Wakijan.

" Sosok dibalik pencipta Mukidi yang sekarang menjadi viral di WA dan medsos lain adalah Soetantyo Moechlas. Kami teman lama beliau biasa memanggil Pakde Tantyo, seorang humoris, membumi, dan mempunyai kemampuan imajinasi humoris luar biasa. Atas seijin beliau berikut ini saya capture beberapa buku yang sudah beliau tulis. YANG PALING HITS ADALAH TRILOGI LASKAR PELAWAK, BALADA MUKIDI DAN WAKIJAN (jilid 1-3). Guyonan santai dan ringan tentang MUKIDI yang menjadi hiburan kami saat galau dan baper. Proud of u pakde," tulis Dina di dinding Facebook Tantyo.

Pria kelahiran 7 Februari 1954 itu dalam blog ceritamukidi.wordpress.com menyebut sosok Mukidi sebagai pria asal Cilacap, Jawa Tengah. Mukidi merupakan sosok yang tak mencolok, tidak terlalu alim tapi mudah akrab dengan siapa saja.

Oleh Tantyo sosok Mukidi dibuat memiliki pendamping. Mukidi diberi istri bernama Markonah dan memiliki dua orang anak bernama Mukirin yang sudah remaja dan Mukiran yang masih duduk di bangku SD. Salah satu sahabat Mukidi adalah Wakijan.

1 dari 4 halaman

Humor-humor Mukidi

Humor-humor Mukidi © Dream

Dream - Humor Mukidi tiba-tiba menyebar secara viral. Di berbagai grup messenger WhatsApp juga sosial media. Entah siapa yang memulai, humor Mukidi yang begitu Indonesia itu menjadi perbincangan.

Semua humor yang mengocok perut itu bersumber dari blog Cerita Mukidi dengan akun twitter @CeritaMukidi.

Siapa tokoh Mukidi itu? Disebutkan, Mukidi berasal dari Cilacap, Jawa Tengah. Tipikal orang yang biasa saja, tidak terlalu alim, mudah akrab dengan siapa saja.

Punya karir tapi kadang-kadang bisa menjadi apa saja. Istrinya Markonah, juga punya karir tapi tidak terlalu istimewa. Anak mereka 2 orang, Mukirin yang sudah remaja dan Mukiran yang masih duduk di bangku SD. Sahabatnya adalah Wakijan.

Postingan blog Cerita Mukidi dimulai sejak empat tahun lalu, Agustus 2012. Banyak kategori humor di dalamnya. Begitu kaya. Tapi isi blog Cerita Mukidi tak melulu soal humor. Ada pula wejangan-wejangan, tausiyah dan sejenisnya.

 

Berikut beberapa humor Mukidi:

When The Cookie Jar Is Empty 2, 18 Juli 2013

Markonah belanja untuk bikin kue lebaran


" Mas ada terigu?"
" Gak ada bu"

" Telor?"
" Kosong bu?"

" Gula pasir?"
" Habis"

" Terigu gak ada, telor kosong, gula pasir habis. Kenapa gak ditutup saja tokonya?"

" Kuncinya gak ada bu."

2 dari 4 halaman

Bantu Nenek

Bantu Nenek © Dream

Dream - Judul: No Mercy, 24 Juni 2013.

Mukidi melihat mbah Kartinem sedang kebingungan di kantor pos.

" Bisa saya bantu nek?"

" Tolong pasangin perangko sama tulis alamatnya nak."

" Ada lagi nek?"

" Bisa bantuin tulis isi suratnya sekalian?" Mukidi mengangguk. Si mbah lalu mendiktekan surat sampai selesai.

" Cukup nek?"

" Satu lagi nak. Tolong di bawah ditulis: maaf tulisan nenek jelek

3 dari 4 halaman

Makan Siang

Makan Siang © Dream

Dream - Judul: Lunch, 21 Juni 2013

Pulang Jumatan, Mukidi diajak ustad yang mengisi khutbah siang ini makan siang di Sederhana. Maklum amplop pak ustad siang ini cukup tebal.

" Ayo mas, sikat saja…" kata ustad, begitu makanan selesai dihidangkan. Bagaikan musafir yang menemukan air di padang pasir, Mukidi mengawali makan siangnya dengan ayam pop lengkap, lalu gulai kepala ikan, giliran berikutnya udang goreng yang menggoda. Pak ustad juga tak kalah gesit. Yang penting halal, lagipula mentraktir orang, besar pahalanya.

Mukidi melengkapi makan siang yang mengesankan itu dengan jus durian. Pak ustad memanggil pelayan untuk menghitung jumlah makanan yang mereka embat. Seperti biasa, si pelayan cekatan sekali menghitung tanpa kalkulator.

“ Ustad, apa doanya sesudah makan?” tanya Mukidi sambil mencuci tangan “ Astaghfirullah!” ustad berseru.

Loh doanya sudah ganti ya? ko astaghfirullah?”

“ Bukan! itu doa kalau melihat bon makan siang….”

4 dari 4 halaman

Salah Sambung

Salah Sambung © Dream

Dream - Salah Sambung

Ketika waktu istirahat, Mukidi memasuki kantin karyawan di pabriknya pada hari pertama dia bekerja di perusahaan itu. Gadis pelayan kantin menyambutnya dengan ramah.

“ Selamat siang mas Wakijan, mau makan apa?” Mukidi kaget atas sambutan akrab tadi walaupun dia kaget karena dipanggil sebagai Wakijan. Tadinya dia mau menjelaskan nama sebenarnya, namun karena pengunjung makin bertambah dan pelayan makin sibuk maka dia diam saja : “ What is in a name?” pikirnya.

Mukidi memilih menu, lalu menunggu pesanannya.Makan siang berikutnya demikian pula, kembali si mbak pelayan melayaninya dengan akrab dan masih tetap memanggilnya Wakijan.

Hari berikutnya masih begitu, dan dia berusaha mendiamkan kekeliruan ini berlangsung terus, sampai sebulan kemudian karena merasa tidak tahan dengan kelirumologi itu, suatu kali makan siang dia sengaja tidak buru-buru kembali ke kantor dan mengajak bicara si mbak pelayan yang sok akrab itu.

“ Mbak, dengarkan baik-baik ya, nama saya Mukidi bukan Wakijan!” Mukidi menjelaskan dengan mantap, “ ingat ya, Mukidi..” sementara si mbak hanya senyam-senyum saja.

Keesokan harinya ketika istirahat makan siang si mbak kantin berlari-lari menyambutnya lebih semangat dari hari-hari sebelumnya.

“ Mas Wakijan….mas Wakijan…ke sini deh saya bilangin..” si mbak menggandengnya dan menarik kursi duduk berhadapan, lalu:

“ Mas Wakijan percaya nggak, kemarin ada orang miriiiip sekali sama mas Wakijan. Namanya Mukidi!” Mukidi hampir pingsan…

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More