Foto Ilustrasi Seorang Mualaf Membaca Alquran
Dream - Abdul Walee Gomez adalah seorang mualaf asal El Salvador. Perkenalan Gomez terhadap Islam dimulai saat dia belajar di sekolah menengah atas di Amerika Serikat.
Ketika baru pertama kali menginjakkan kaki di AS, Gomez yang dibesarkan dalam lingkungan religius sangat terkejut mengetahui agama sudah bukan hal yang suci.
Agama adalah ranah pribadi yang orang lain tidak boleh mencampuri. Dia tidak merasakan kasih Tuhan seperti yang dirasakannya saat masih di El Salvador. Kendati demikian, Gomez masih mencoba untuk menjaga Tuhan di dalam hatinya.
Selama sekolah, Gomez seperti orang yang tidak tertarik pada kehidupan. Teman-temannya banyak berkhotbah tentang agama. Namun Gomez kurang bersemangat menanggapinya.
Gomez juga punya teman seorang muslim. Dia bercerita tentang Alquran. Jika ada kesempatan, Gomez diminta sesekali membacanya. Gomez menyanggupinya. Saat membaca Alquran, Gomez terkejut karena di sana ada juga kisah Isa, Musa dan Abraham seperti di Alkitab.
Gomez senang ada agama yang bisa memberikan jawaban atas keraguannya, namun dia belum bisa menerima Islam sepenuhnya.
Setahun setelah lulus sekolah menengah atas, Gomez bekerja di kafetaria sebuah universitas pada 1995. Di tempat kerjanya, Gomez melihat orang-orang dari berbagai budaya dan agama yang berbeda.
Di minggu pertama Gomez bekerja, dia melihat sekelompok mahasiswa Timur Tengah yang saling berebut untuk mentraktir.
Kejadian ini sangat menyentuh Gomez karena ia adalah orang yang suka memberi tapi banyak teman-temannya yang mengambil untung dari sifatnya itu. Berbeda sekali dengan sekelompok mahasiswa itu yang justru berebut membayar untuk orang lain.
Seminggu kemudian, Gomez bertanya pada salah satu dari kelompok mahasiswa itu, mengapa orang-orang Timur Tengah begitu murah hati antara satu sama lain? Dia menjawab, " Lihat, kita berterima kasih kepada Islam karena Islam mengajarkan kita untuk bermurah hati. Meskipun sebagian dari kita tidak banyak yang mempraktekannya, tapi Islam tetap tertanam dalam hati kita."
Pernyataan ini membuat Gomez tertegun. Gomez pun bercerita dia dulu mempelajari Islam karena alasan politik saja. Mahasiswa Timur Tengah itu bertanya, " Kenapa kau berhenti?" Gomez menjawab dirinya tidak tahu di mana mendapatkan informasi lebih lanjut tentang Islam.

Mendengar jawaban Gomez, mahasiswa itu kemudian memperkenalkan seorang muslim Amerika yang sudah menjadi mualaf enam bulan yang lalu.
Keesokan harinya mereka datang mengunjungi Gomez. Mualaf Amerika itu mulai bertanya tentang keadaan Gomez. Dia tidak menyebutkan apa-apa tentang agama. Gomez sangat senang hingga menyuruh pria itu untuk datang setiap saat dia mau.
Selama dua bulan kemudian, banyak orang Islam mengunjungi Gomez dengan membawa buku, pamflet, atau hanya sekedar berbicara. Jadi selama dua bulan Gomez belajar tentang Islam. Di bulan berikutnya, kafetaria tutup karena liburan musim panas.
Jadi selama dua bulan liburan musim panas Gomez hanya bersantai dan berpesta. Namun, dia mulai merasa bersalah karena minum-minum alkohol. Keesokan harinya, Gomez meminta teman muslim membawanya ke masjid.
Saat tiba di Masjid Dar-Al-Hijrah di Virginia utara, Gomez diliputi perasaan gugup sekaligus senang. Di masjid itulah akhirnya Gomez benar-benar menyatakan seorang Muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
" Hidupku sudah siap untuk perjalanan berikutnya di bumi, perjalanan ke surga," kata Gomez. (Ism)