Jejak (1): Kisah Azab di Tiga Kota

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 19 Agustus 2015 19:35
Jejak (1): Kisah Azab di Tiga Kota
Kisah kota-kota yang memberi pelajaran bagi manusia, bahkan hingga beribu tahun kemudian. Zaman ketika khamr dan zina merebak.

Dream - Helikopter itu meraung.  Menderu mendekati tanah menghamburkan pasir ke angkasa. Berulang kali berputar, seolah penumpangnya mencari sesuatu yang amat berharga di daratan berselimut pasir itu.

Helikopter yang mengangkut sejumlah peneliti itu enggan menyerah. Yang ketiga burung besi itu mendekati tanah, masih tajam menyidik ke sejumlah penjuru. Meski telah berkali-kali manuver, hanya gundukan pasir yang ditemukan.

Tunggu dulu. Mata jeli peneliti melihat sesuatu yang tak wajar. Sebuah gundukan pasir menyembul sendirian ditengah hamparan pasir itu. Di sampingnya ada ceruk penuh air. Pemandangan aneh di padang nan tandus itu, menambah rasa curiga. Cekungan itu seperti sengaja diciptakan demi menampung air.

Para peneliti di dalam helikopter itu terkejut demi melihat gundukan dan cekungan itu. Semua seperti sedang bertanya, inikah yang sedang mereka cari.

Wow! Lihat ini. Kalian harus melihat struktur ini," ujar Juris Zarins, seorang penasihat arkeolog dari Kesultanan Oman, yang ikut serta dalam helikopter itu. Zarins kegirangan mengisahkan pengalaman dalam ekspedisi ini, sebagaimana ditayangkan di laman berbagai video Youtube.

Pada video itu terlihat sejumlah arkeolog, peneliti, dan geologis dari Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) berlarian menuju gundukan, yang kemudian disebut situs itu. Tangan meraba kesana-kemari. Memegang dinding dan bangunan yang terbuat dari batu. Jelas terlihat. Semua material bagunan itu sering dipakai orang-orang zaman kuno.

Jauh sebelum NASA dengan teknologi majunya tiba, seorang arkeolog amatiran Nicholas Clapp sesungguhnya sudah lebih dahulu bergerak. Menggunakan alat seadanya, Clapp yang juga seorang pembuat film itu akhirnya menyerah. Butuh dana cukup besar untuk melanjutkan pengamatan lebih detil. Juga perlu sejumlah pakar yang hidupnya mengabdi bagi arkeologi. Dia menyerah, mencari situs yang diyakini bakal menguncang peradaban itu.

Clapp sebelumnya sudah meminta kepada NASA agar merekam foto dari langit. Foto citra satelit di kawasan itu.  Foto itu sudah diberikan dan pria ini sudah memulai. Mengali dari kawasan Zhaafar. Hasilnya menakjubkan. Dinding setinggi 1,8 sampai 2,4 meter mengitari situs itu. Tujuh menara tanah liat setinggi 9,1 meter menjulang di areal penggalian.

Sebagian besar bangunan menyembul ke luar tanah. Lubang-lubang terlihat menyerupai bagian pintu. Di dalamnya ada beberapa ruang berukuran besar, seperti pernah dihuni makhluk bertubuh besar.

Pencarian diperluas. Menggali makin dalam. Hingga belasan bangunan dan dipercaya tiap bangunan memiliki fungsi tertentu. Salah satunya adalah tempat peletakan sesaji. Selain itu, ada juga bangunan khusus tempat kremasi jenazah.

Gegerlah jagat para peneliti. Bangunan, menara, benteng, dan artefak yang dikawasan itu memicu sejumlah spekulasi. Sejumlah agamawan ikut memeras otak. Tiang-tiang yang menjulang pernah mereka dengar. Tiang-tiang dari kota yang binasa karena murka Sang Pencipta.

Lalu mereka menemukan  sebuah kisah Alquran tentang kehidupan kaum Aad, penghuni kota Ubar. Tiang-tiang itulah yang membawa mereka pada kitab suci itu.

Di kalangan umat beragama, Ubar adalah kota yang terabadikan dalam kitab suci dengan sebutan ‘Iram’. Situs ini dipercaya sebagai bekas kota yang dilaknat.

***

Penemuan kota yang hilang, begitu orang menyebutnya. Sebelumnya, Kota Iram memang cuma dianggap dongeng semata. Sedikit yang yakin kota ini benar-benar nyata. Bumbu cerita misterius yang cenderung mistis juga membuat orang makin sulit percaya.

Namun Clapp dan NASA pelan-pelan membuktikan kebenaran kisah ini. Kota Iram, kota yang diazab karena kebebalan dan ketamakan penduduknya, memang benar adanya. Begitulah menurut kesimpulan mereka.

Tersembunyinya kota Iram ini seolah merekam ulang kisah dalam Alquran. Surat Al A’raf, Hud, dan Al Haqqah sudah ratusan tahun bercerita tentang kaum ‘Aad. Kaum berisi manusia bertubuh besar yang dibinasakan Allah SWT.

Kaum ‘Aad disebut golongan manusia yang melampaui batas. Moral mereka begitu rendah. Berhala jadi sesembahan, keesaan Allah diabaikan.

Allah kemudian mengutus Nabi Hud memperbaiki moral mereka. Hud merupakan salah satu nama di antara 25 utusan Allah yang dikirim demi  memperbaiki moral manusia.

Susah payah menjalankan tugas dakwah, Nabi Hud hanya mendapat sedikit pengikut. Kaum ‘Aad menolak menyembah Allah SWT.  Mereka justru menantang.  Dengan pongahnya, meminta Nabi Hud mengirimkan azab Allah SWT kepada mereka.

Kesombongan itu didengar. Tantangan dijawab. Allah mengirimkan angin kencang yang berhembus secara memutar. Kepala kaum ‘Aad yang tersambar angin itu putus dari tubuhnya. Mayat bergelimpangan mati dengan tubuh tergeletak tanpa kepala.

Sebagian sempat lolos dari kematian. Berlarian menjauh dan berlindung di balik bangunan besar yang telah dibangun. Azab pertama belum meluluhkan kesombongan mereka. Tetap tak mau mengakui kekuasaan Sang Pencipta.

Kali ini angin kencang menerjang dengan hembusan hawa panas. Panasnya melebihi api. Hawa panas menyusup ke setiap rongga pintu, celah jendela, dan lubang angin. Penduduk Kota Iram pun terbakar. Tiada yang lolos dari azab.

***

Sejatinya, Ubar atau Iram bukanlah satu-satunya kota hilang yang berhasil terungkap para arkeolog. Sebuah kota hilang lainnya juga mengingatkan manusia akan kesombongan. Pompeii, nama kota itu. Kisah kehancuran kota megah ini memberi banyak pelajaran kepada manusia.

Bertahun-tahun dipenuhi kemewahan dan kekayaan berlimpah, masyarakat Pompeii mulai lupa daratan. Mengumbar semua kegilaan duniawi. Khamr atau minuman keras jadi hidangan. Perzinahan diamini penguasa.

Sampai tiba waktunya gunung Vesuvius mengamuk. Memuntahkan semua isi perut gunung bersama lava panas yang membakar kota. Amukan awan panas membuat tak ada satupun orang yang selamat.

Ajaibnya, sebagian besar mayat ditemukan nyaris utuh. Seolah Allah SWT ingin menunjukkan kepada manusia, contoh kebejatan yang digelar dimuka bumi ini.

Kisah tentang Pompeii, mengingatkan azab yang jatuh pada kaum penduduk Sodom atau Sadum, yang banyak dikisahkan dalam Alquran. Merekalah manusia yang bisa melakukan berbagai kejahatan yang tidak biasa dilakukan oleh penjahat manapun.

Selain merampok, berkhianat pada sesama teman, sampai berwasiat dalam kemungkaran. Penduduk Sodom melakukan maksiat yang tiada pernah terbayangkan manusia di muka bumi. Homoseks di kalangan para lelaki dan lesbian di kalangan wanita menjadi jamak.

Atas kemaksiatan yang melampaui batas itu, Allah menurunkan azab. Gempa bumi, hujan batu panas, dan petir yang memekakkan telinga membuat kehancuran kota itu. Bertebaranlah mayat-mayat yang dilaknat Allah di kota Sodom.

Meski telah lenyap berabad-abad yang lalu, jejak Kota Sodom ternyata masih dapat ditelusuri. Penelitian arkeologis mendapati Kota Sodom terletak di tepi Laut Mati --dahulunya merupakan Danau Luth. Kota ini memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania.

Iram, Pompeii dan Kota Sodom adalah kota hilang yang menyimpan sejarah yang tak lekang oleh waktu. Kisah-kisah ini memberi banyak pelajaran kepada manusia, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian.

Beri Komentar