Penularan Covid-19 Masih Tinggi, WHO Desak Indonesia Perketat Pembatasan Sosial

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 22 Juli 2021 19:00
Penularan Covid-19 Masih Tinggi, WHO Desak Indonesia Perketat Pembatasan Sosial
WHO mendesak Indonesia untuk menerapkan pembatasan lebih ketat dan lebih luas setelah PPKM Darurat berakhir

Dream - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak Indonesia untuk menerapkan pembatasan lebih ketat dan lebih luas setelah PPKM Darurat berakhir, guna menekan angka infeksi dan kematian akibat Covid-19.

Indonesia telah menjadi salah satu episentrum pandemi global, dengan kasus Covid-19 yang melonjak lima kali lipat dalam waktu lima minggu terakhir. Minggu ini, kematian harian mencapai rekor tertinggi, di antara jumlah korban tertinggi di dunia, yakni lebih dari 1.300.

Dalam laporan terbaru tersebut, WHO menyatakan penerapan pembatasan sosial dan penerapan protokol kesehatan secara ketat penting dilakukan. Tak hanya itu, disarankan juga Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan tambahan guna mengatasi peningkatan tajam di 13 dari 34 provinsi di Indonesia.

" Indonesia saat ini menghadapi tingkat penularan yang sangat tinggi dan ini menunjukkan betapa penting penerapan kesehatan masyarakat dan langkah-langkah pembatasan sosial yang ketat, terutama pembatasan pergerakan di seluruh negeri," bunyi laporan terbaru WHO seperti dikutip Reuters, Kamis 22 Juli 2021.

Pada Selasa lalu, Presiden Joko Widodo mengatakan adanya tren penurunan infeksi dalam beberapa hari terakhir. Para ahli epidemiologi mengatakan, penurunan efek dari kebijakan PPKM.

“ Jika tren kasus terus menurun, maka pada 26 Juli 2021, pemerintah akan mencabut pembatasan secara bertahap,” kata Jokowi.

1 dari 7 halaman

Kasus Positif Tinggi

Ilustrasi© Shutterstock

Sementara itu, tingkat kasus positif COvid-19 Indonesia rata-rata 30 persen selama seminggu terakhir. WHO menyatakan bahwa tingkat positif Covid-19 di atas 20 persen berarti penularan virus corona " sangat tinggi" di wilayah itu.

Lebih jauh, data WHO juga menunjukkan semua provinsi di Indonesia kecuali Aceh, memiliki tingkat positif diatas 20%. Sedangkan Aceh, memiliki tingkat positif 19%.

Sumber: Reuters

2 dari 7 halaman

Komite Darurat WHO Peringatkan Kemunculan Varian Covid-19 yang Lebih Berbahaya

Dream - Virus Covid-19 varian delta kini tengah mendominasi di Indonesia. Penularannya yang begitu cepat membuat kasus melonjak drastis hingga membuat fasilitas kesehatan kewalahan.

Belum juga terselesaikan dengan baik, Komite darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa ada varian Covid-19 yang baru dan lebih berbahaya. Diperkirakan akan menyebar ke seluruh dunia.

Kondisi tersebut membuat akan sangat sulit untuk menghentikan pandemi, seperti dikutip dari laman France24. Kabar dari WHO ini tentu saja jadi berita buruk.

" Pandemi belum selesai," komite WHO memperingatkan dalam sebuah pernyataan Kamis 15 Juli, setelah pertemuan sehari sebelumnya.

Ketua komite darurat WHO, Didier Houssin mengakui bahwa " tren baru-baru ini mengkhawatirkan" . Untuk saat ini, empat varian terkait COVID-19 mendominasi gambaran pandemi global: Alpha, Beta, Gamma dan terutama varian Delta yang menyebar cepat.

 

3 dari 7 halaman

Komite memperingatkan bahwa yang lebih buruk bisa terjadi di depan, menunjuk pada " kemungkinan kuat munculnya dan penyebaran global varian baru yang mungkin lebih berbahaya, bahkan lebih menantang untuk dikendalikan."

" Pandemi tetap menjadi tantangan secara global dengan banyak negara-negara menavigasi tuntutan kesehatan, ekonomi dan sosial yang berbeda," kata Didier.

Ia juga mengungkap kalau negara-negara dengan akses terbatas ke vaksin bakal mengalami gelombang infeksi baru. " Melihat erosi kepercayaan publik meningkatnya kesulitan ekonomi, dan dalam beberapa kasus, meningkatkan kerusuhan sosial," ungkapnya.

4 dari 7 halaman

Vaksin Berbayar di Indonesia Dikritik WHO

Kepala Unit di bagian Imunisasi WHO, Dr Ann Lindstrand, buka suara soal kebijakan pemerintah Indonesia yang menjual belikan vaksin Gotong Royong. Ia mengkritik soal kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, demikian disampaikan dalam publikasi wawancara Lindstrand di situs resmi who.int, Kamis, 15 Juli 2021.

" Penting bagi setiap warga negara memiliki kemungkinan yang sama untuk mendapatkan akses apapun. Termasuk pembayaran (vaksin) yang akan menimbulkan masalah etika dan akses khususnya selama pandemi," ujar Lindstrand.

Selain itu ada dosis COVAX yang disampaikan melalui kerjasama dengan badan UNICEF, WHO, dan badan lain. Tentu saja mereka memiliki akses vaksin gratis untuk tiap negara.

" Yang penting di sini adalah bahwa setiap orang memiliki hak dan harus memiliki akses ke vaksin secara setara terlepas dari masalah keuangan," kata Lindstrand.

Laporan Teddy Tri/ Sumber: Liputan6.com

5 dari 7 halaman

Mutasi Baru, Corona Varian Lambda Jadi Perhatian WHO

Dream - Seluruh negara masih berkutat dengan virus SARS-CoV-2 atau virus Corona penyebab COVID-19. Indonesia saat ini sedang dibanjiri varian delta yang diketahui penularannya memang lebih cepat.

Belum selesai sampai di situ, ternyata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja memasukkan satu lagi varian SARS-CoV-2/virus Corona penyebab COVID-19 ke dalam variants of interest, yaitu varian Lambda.

Dikutip dari laman resmi WHO, virus Corona varian Lambda memiliki nama ilmiah C.37, dan pertama kali diidentifikasi di Peru pada Desember 2020.

Menurut WHO, isolat SARS-CoV-2 dapat dimasukkan dalam VOI jika (dibandingkan isolat referensi) genomnya memiliki mutasi dengan implikasi fenotipik yang telah ditetapkan atau diduga, dan salah satu dari:

- Telah diidentifikasi menyebabkan beberapa penularan komunitas/beberapa kasus/klaster COVID-19, atau telah terdeteksi di banyak negara, atau

- Dinyatakan sebagai VOI oleh WHO yang berkonsultasi dengan WHO SARS-CoV-2 Virus Evolution Working Group.

 

6 dari 7 halaman

Sudah Tersebar di 29 Negara

Secara keseluruhan sudah ada 7 variants of interest (VOI) COVID-19 yang dilaporkan oleh WHO. Selain Lambda, varian yang masuk kategori VOI lainnya adalah Epsilon, Zeta, Eta, Theta, Iota, dan Kappa.

Sementara, untuk varian virus corona COVID-19 yang masuk ke dalam variants of concerns (VOC) hingga sejauh ini adalah Alpha, Beta, Gamma, dan Delta.

Sampai pada pertengahan Juni 2021, dari laporan Xinhua, WHO mengungkap bahwa varian Lambda sudah diidentifikasi di 29 negara, terutama di wilayah Amerika Selatan.

7 dari 7 halaman

Banyak Terdapat di Amerika Selatan

Varian Lambda dimasukkan ke dalam VOI karena adanya peningkatan prevalensi di Amerika Selatan.

Sejak April 2021, Lambda dikabarkan telah menyebar di Peru, di mana 81 persen kasus COVID-19 terkait dengan varian ini. WHO menyebutkan, garis keturunan Lambda memiliki mutasi yang dapat mungkin bisa meningkatkan penularan atau memperkuat ketahanan virus terhadap antibodi.

Sayangnya menurut WHO, bukti mengenai dua hal tersebut masih sangat terbatas. Sehingga diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami varian Lambda dengan lebih baik.

Sementara, dikutip dari laman pemerintah Inggris, gov.uk, Public Health England (PHE) menemukan ada enam kasus varian Lambda yang ditemukan di Inggris, dan semuanya terkait dengan perjalanan ke luar negeri.

" Saat ini tidak ada bukti bahwa varian ini menyebabkan penyakit yang lebih parah atau membuat vaksin yang saat ini digunakan menjadi kurang efektif," tulis PHE pada 25 Juni 2021 lalu.

Laporan Giovani Dio/ Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar