Alhamdulillah, BJ Habibie Sehat Walafiat

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 1 November 2016 14:44
Alhamdulillah, BJ Habibie Sehat Walafiat
Yayasan The Habibie Center membantah kabar tersebut dan mengatakan Habibie sedang berada di Jerman.

Dream - Sebuah kabar beredar melalui aplikasi percakapan WhatsApp. Kabar itu menyebut Presiden ke-3 RI Baharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia.

" Innalillahiwainnailahirajiun. Indonesia berduka atas kembalinya ke haribaan Allah SWT, Bapak Prof. Dr. Baharuddin Jusuf Habibie, mantan Presiden RI. Jasa dan pengorbanan Bapak akan menjadi amal jariah Bapak bagi rakyat, bangsa dan negara ini. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah Bapak dan memberi tempat yang damai dan bahagia buat Bapak di alam sana," demikian kabar yang tersebar melalui WhatsApp, diterima Dream pada Selasa, 1 November 2016.

Kabar ini segera disanggah pengurus Yayasan The Habibie Center. Sanggahan tersebut disampaikan melalui akun media sosial Twitter @habibiecenter.

" Alhamdulillah Bapak B.J. Habibie dalam keadaan sehat walafiat. Saat ini beliau sedang di Jerman. Terima Kasih atas perhatiannya," tulis pengelola akun @habibiecenter.

Pengelola yayasan juga menyebut Habibie kini tengah berada di Jerman. Dia memiliki jadwal mengisi kuliah umum di Hamburg dan Muenster.

" Alhamdulillah, Bapak BJ Habibie sehat walafiat. Kemarin beliau jalan-jalan di Jerman. Beliau di Jerman untuk menyampaikan beberapa pidato di Hamburg dan Muenster," tulis pengelola akun. (Ism) 

1 dari 2 halaman

Tak Mau Berpoligami, BJ Habibie Anggap Ainun Masih Hidup

Dream - Kecintaan BJ Habibie pada mendiang Ainun masih tergambar jelas dari setiap tindakannya. Begitu pula diungkapkan pria asal Gowa, Sulawesi Selatan tersebut seusai acara nonton bersama film "  Surga Yang Tak Dirindukan," yang menyatakan bahwa dirinya tidak bisa menjalani kehidupan poligami.

" Kalau saya lihat pilihan seperti itu selalu menguntungkan yang poligami. Saya tidak mampu membagi cinta dan perasaan saya selain pada Ainun. Meskipun pada hari ini persis lima tahun dua bulan dan 11 hari yang lalu dia meninggal," ungkap Presiden ketiga Indonesia itu pada Senin, 3 Agustus 2015.

Bahkan bagi pria yang lama menetap di Jerman ini jika sang istri tidak pernah mati. Bagi Habibie, mereka hanya dipisahkan oleh dimensi yang lain. " Tapi saya tidak pernah tahu. Tidak pernah satu detik pun dalam tarikan napas saya,tidak bersama Ainun," jelasnya di gedung MD Plaza, Setiabudi.

Lebih jauh pria yang akrab disapa Eyang ini mengungkapkan jika agama Islam sendiri memberi toleransi bagi mereka yang ingin memiliki istri lebih dari satu. " Susah kalau nanya ke Pak Habibie mengenai hal ini, tapi Islam membolehkan mengambil yang kedua asal dengan persetujuan yang pertama," jelas Habibie diplomatis.

Tak ketinggalan, pria yang berusia 80 tahun ini mengungkap syukur. kehadiran film "  Habibie dan Ainun" yang mengangkat kisah hidupnya mendapat respon yang cukup bagus dari masyarakat. " Setelah ada produk dari MD yang namanya "  Habibie dan Ainun" kegagalan dalam rumah tangga itu statistiknya menurun. Bukan hanya di sini, tapi di tempat-tempat yang lain juga demikian," Tutup Habibie.

Sehingga dirinya bangga pada cucu-cucu intelektual yang sudah bergerak di jalan yang benar. Produktivitas para sineas harus menghasilkan produk yang berdaya saing yang tepat.

2 dari 2 halaman

Dicintai Jerman, Sering kelaparan...

Dream - Habibie hidup susah saat menempuh pendidikan di Jerman. Kadang dia tak punya makanan. Dia hanya mengandalkan kiriman dari sang ibu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo.  

Maklum, Habibie tak mendapat beasiswa penuh, seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia lain. Dia hanya bermodal 'paspor hijau'. Sementara lainnya 'paspor merah'. Paspor dinas.  

" Kiriman ibu saya sering telat. Saya sering kelaparan. Tapi ada kawan baik pada saya. Namanya Ilona. Dia sering datangi saya ke perpustakaan, beri apel dan roti," kata Habibie mengenang masa muda di sekolah Jerman.  

Jika musim libur tiba, Habibie tak bisa berleha-leha seperti temannya. Ia justru harus sibuk bekerja, mencari uang tambahan biaya hidup di negeri rantau. Jika ada sisanya, ia beli buku.  

Anak ke-4 dari delapan bersaudara ini memulai bangku kuliahnya di Institut Teknologi Bandung(ITB). Dia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955.  

Habibie berhasil menyelesaikan strata 1 pada usia 22 tahun dan strata dua pada usia 24 tahun.    Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3 dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cum laude.   

Kejeniusan Habibie membuat takjub dunia. Dibuktikan ketika menemukan teori-yang disebut dunia internasional sebagai teori-krack progression. Teori ini menemukan perhitungan titik rawan kelelahan badan pesawat.  

Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat atau antara sayap dan dudukan mesin. Elemen inilah yang mengalami guncangan keras dan terus-menerus, baik ketika tubuhnya lepas landas maupun mendarat.  

Ketika menyentuh landasan, sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin ini menanggung empasan tubuh pesawat.   

Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (krack). Titik rambat tersebut semakin hari kian memanjang dan bercabang-cabang. Habibie yang kemudian menemukan bagaimana rambatan titik krack (keretakan) itu bekerja.   

Dengan teori ini industri pembuat pesawat bisa mengerjakan badan pesawat dengan perhitungan yang lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.  

Berkat berbagai prestasinya, Habibie mendapat ganjaran dengan sejumlah penghargaan di antaranya bidang kedirgantaraan, Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International Council for Aeronautical Sciences.  

Selepas meraih gelar doktor, Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB Hamburg, sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang (1965-1969).  Kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973).  

Karier Habibie makin mencorong, pada 1969 dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978.  

Namun setahun kemudian, Habibie rela meletakkan jabatan prestisius itu saat 'Ibu Pertiwi' memanggil pulang. Ia diminta membangun industri pesawat terbang di negeri sendiri.  

" Di situ (MBB Hamburg) lahir Airbus, yang sekarang membuat A-380 di situ. Waktu saya mulai ke situ 3.000 (karyawan), waktu saya tinggalkan 4.500, sekarang 16.000, " kata Habibie.  

Dalam skala internasional, Habibie terlibat erbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang seperti Fokker F 28, Transall C-130 (militer transport), Hansa Jet 320 (jet eksekutif), Air Bus A-300, pesawat transport DO-31 (pesawat dengan teknologi mendarat dan lepas landas secara vertikal),   

Kemudian CN-235 dan CN-250 (pesawat dengan teknologi fly-by-wire). Selain itu, ia secara tidak langsung ikut terlibat dalam proyek perhitungan dan desain Helikopter Jenis BO-105, pesawat tempur multi function, beberapa peluru kendali dan satelit.  

Beri Komentar