Survei: Muslimah Indonesia Berpotensi Jadi Agen Perdamaian

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 30 Januari 2018 07:00
Survei: Muslimah Indonesia Berpotensi Jadi Agen Perdamaian
Kaum pria dianggap lebih radikal ketimbang perempuan.

Dream – Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, mengatakan, Muslimah di Indonesia berpotensi menjadi agen perdamaian. Berdasarkan hasil survei, 80,7 persen Muslimah di Indonesia mendukung hak kebebasan menjalankan ajaran agama dan berkeyakinan.

“ Ini adalah hasil survei yang memaparkan situasi potensi toleransi sosial keagamaan di kalangan perempuan Muslim dan menyoroti faktor yang berkontribusi terhadap penerimaan terhadap penguatan toleransi di Indonesia,” kata Yenny, Senin 29 Januari 2018.

Dari survei yang digelar UN Women dan Wahid Foundation yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia diketahui bahwa sebanyak 80,8 persen perempuan lebih tidak bersedia bertindak radikal dibanding laki-laki, yang besarnya mencapai 76,7 persen. Sementera itu, jumlah perempuan yang bertindak intoleral sebanyak 55 persen, lebih sedikit dibanding laki-laki sebanyak 59,2 persen.

Sementara itu, sebanyak 53,3 persen perempuan juga memiliki lebih sedikit kelompok yang tidak disukai dibanding laki-laki 60,3 persen. “ Dalam analisisnya, survei ini juga menunjukkan rekomendasi terkait peran perempuan Muslim dalam membangun nilai toleransi dan perdamaian,” ujar Yenny.

UN Women Representative Sabine Machl mengatakan survei ini dibentuk sebagai dukungan atas peran perempuan untuk membangun kohesi sosial dan kontribusinya dalam menanamkan toleransi.

“ Perempuan memiliki peran penting dalam menyebarkan nilai-nilai kepada keluarga dan komunitas. Namun, potensi dan kontribusi dari perempuan dalam perdamaian, sejak dulu, seringkali diabaikan,” kata Machl.

Survei nasional ini juga melihat persepsi perempuan Muslim di Indonesia mengenai kesetaraan gender. Berdasarkan hasil survei ini, 14,9 persen Muslimah Indonesia mendukung pandangan dan sikap progresif tentang gender. Sementara itu, 8,6 persen Muslimah mendukung pandangan dan sikap yang pro keadilan gender.

Hasil survei juga menunjukan bahwa tingkat otonomi perempuan 53,3 persen untuk mengambil keputusan dalam hidupnya lebih rendah dibanding laki-laki 80,2 persen.

“ Ini menunjukan jika upaya pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan merupakan agenda strategis dalam upaya penguatan toleransi dan perdamaian di kalangan perempuan,” kata Yenny.

Survei nasional ini merupakan bagian dari program “ Perempuan Berdaya, Komunitas Damai”. Survei ini dilaksanakan pada Oktober 2017 melibatkan 1500 responden laki-laki dan perempuan di 34 provinsi di Indonesia.

Beri Komentar