Kepala Staf Presiden RI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Dream - mengantisipasi wabah yang sudah menyerang puluhan negara did unia, pemerintah membentuk pusat informasi penanganan virus corona Wuhan (2019-nCoV). Pusat informasi ini berada di Kantor Staf Presiden (KSP)
" Tujuannya adalah kita sepakat untuk menentukan di KSP sebagai tempat Posko dimana pusat informasi dan komunikasi atas dampak corona dilaksanakan," kata Moeldoko, dilaporkan Liputan6.com, Kamis, 6 Februari 2020.
Pembentukan pusat informasi ini atas keputusan bersama Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko, Menko Polhukam Mahfud Md, Menteri Pariwisata Wishnutama, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Komunikasi dan Informastika Johnny G. Plate. Kemudian, Menteri Sosial Juliari Batubara hingga Kepala BNPB Doni Monardo.
Pusat informasi dibuat agar masyarakat dapat menerima segala informasi seputar wabah virus corona secara akurat.
Moeldoko mengatakan, pusat informasi ini akan menghimpun data dari berbagai kementerian dan lembaga. Nantinya, data tersebut diberikan kepada masyarakat secara berkala.
" Data informasi yang dihimpun selanjutnya secara update, akan kita berikan kepada publik terhadap hal-hal yang menonjol atau yang perlu kita sampaikan," ujar dia.
Moeldoko mengatakan, informasi tersebut dapat dijadikan bahan pemberitaan oleh para awak media. Dengan begitu, dia berharap tak ada lagi kesimpangsiuran pemberitaan tentang virus corona.
" Teman-teman sekalian bisa mendapatkan berbagai informasi dari layar yang dibawah. Dari layar itu lagi update perkembangan corona bisa diikuti dengan baik," ucap dia.
(Sah, Sumber: Liputan6.com/Lizsa Egeham)
Dream - China sedang mengajukan permohonan untuk mematenkan kandidat obat dari virus Corona Wuhan, yang sedang dikembangkan oleh Gilead Science, perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat (AS).
Menurut South China Morning Post, Pengajuan hak paten itu dilakukan Institute of Virology, yang disokong pemerintah China. Langkah tersebut mendapat kritik karena menimbulkan kekhawatiran kekayaan intelektual dan hak pemasaran.
Paten yang diajukan Institute of Virology yaitu penggunaan remdesivir untuk melawan virus Corona Wuhan. Jika disetujui, obat itu akan digunakan untuk memfasilitasi penggunaannya di pasar global.
Saat ini, remdesivir belum disetujui di manapun. Kepala Petugas Medis Gilead Science, Merdad Parsey, mengatakan, formula ini belum terbukti aman atau efektif untuk penggunaan apa pun.
" Perusahaan bekerja sama dengan otoritas kesehatan China untuk melakukan uji klinis pada pasien dengan gejala pneumonia untuk menguji keamanan dan kemanjurannya, katanya. Data klinis masa lalu pada virus Corona, memberinya " harapan," ujar Gilead.
Seorang juru bicara di Foster City, California, mengatakan telah menemukan remdesivir, dan telah mengajukan aplikasi paten untuk senyawa dan penggunaannya terhadap virus corona secara global, termasuk di Cina, pada 2016. Aplikasi di China masih tertunda.
" Kami mengetahui laporan aplikasi paten Institut Wuhan untuk Virologi," kata Sonia Choi, Wakil Presiden Hubungan Publik Gilead Science.
“ Fokus kami saat ini adalah menentukan dengan cepat potensi remdesivir sebagai pengobatan untuk [coronavirus baru] dan mempercepat pembuatan untuk mengantisipasi potensi kebutuhan pasokan di masa depan,” ucap dia.
Institut Wuhan dan Institut Farmakologi dan Toksikologi Beijing yang diterbitkan dalam Cell Research Journal, penelitian terhadap obat itu telah dilakukan obyek di luar tubuh manusia. Ditemukan bahwa senyawa remilei Gilead dan obat malaria chloroquine sangat efektif dalam mengendalikan infeksi virus Corona Wuhan.
“ Karena senyawa ini (secara terpisah) telah digunakan pada pasien manusia dengan rekam jejak keselamatan dan terbukti efektif melawan berbagai penyakit, kami menyarankan agar mereka dinilai pada pasien manusia yang menderita penyakit coronavirus yang baru,” tulis para peneliti.
Dream - Virus Corona Wuhan menyerang kapal pesiar Jepang, Diamond Princess. Sebanyak 10 penumpang di atas kapal dinyatakan positif virus 2019-nCoV.
Tak ingin virus tersebut menyebar, pemerintah Jepang memutuskan kapal bersama 3.700 penumpangnya dikarantina. Otoritas terkait mengarantina para penumpang kapal pesiar tersebut di pelabuhan dekat Yokohama.
Para 3.700 penumpang dikarantina di kapal sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Dilaporkan World of Buzz, kapal sudah dalam proses dikarantina di pelabuhan ketika kasus pertama ditemukan. Seorang pria berusia 80 tahun yang telah meninggalkan kapal ditemukan didiagnosis menderita virus Corona Wuhan.
Setelah meminta penumpang untuk tetap di kapal, tim medis menggali lebih jauh dan menemukan sembilan orang lagi yang terkonfirmasi terpapar virus tersebut.
Para penumpang kapal pesiar saat ini dikurung di kamar mereka, membuat kapal yang biasanya ramai menjadi sepi.
Di antara sepuluh orang yang terinfeksi adalah dua penumpang Australia, tiga penumpang asal Jepang, tiga penumpang asal Hong Kong, satu penumpang asal Amerika Serikat (AS) dan satu awak kapal dari Filipina.
Pria berusia 80 tahun itu saat ini dilaporkan dalam kondisi stabil dan anggota keluarganya tampak bersih dari virus.
Advertisement