Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Perlakuan tidak menyenangkan dialami petugas Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Surabaya. Saat menjemput pasien positif, salah satu petugas dilumuri kotoran oleh istri dari pasien tersebut.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Surabaya, Febriadhitya Prajatara, membenarkan hal itu. Dia menyebut insiden itu terjadi di Rusun Bandarejo, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, pada Selasa, 29 September 2020.
" Iya, kemarin (Selasa) kejadiannya," ujar Febri.
Febri mengatakan tim Satgas Covid-19 hendak menjemput pasien untuk dibawa ke rumah sakit guna menjalani perawatan. Pasien tersebut dinyatakan positif sekaligus memiliki penyakit penyerta.
Saat melakukan penjemputan, salah satu petugas dilumuri kotoran oleh istri dari pasien tersebut. Meski begitu, petugas tetap menjalankan evakuasi terhadap pasien.
" Alhamdulillah, berhasil mengevakuasi dan membawa ke RS BDH," kata Febri.
Usai kejadian tersebut, seluruh keluarga pasien akhirnya bersedia menjalani tes usap (swab test). Padahal, saat tes massal yang sebelumnya digelar, mereka tidak hadir.
" Alhamdulillah, hari ini mereka mau dilakukan tes swab dan dilakukan isolasi di tempat yang disediakan Pemkot," kata Febri.
Febri menceritakan kronologi awal sebelum terjadinya insiden ini. Menurut dia, Pemkot Surabaya sempat menggelar swab test massal di Rusun Bandarejo pada Rabu, 23 September 2020 dan hasilnya keluar lima hari kemudian.
" Pada saat tes swab massal kepada Bapak X. Namun saat itu, petugas datang keluarganya tidak berada di rumah [rusun]. Yang ada hanya Pak X saja," kata dia.
Saat hasil tes keluar, X dinyatakan positif Covid-19. Satgas Covid-19 Puskesmas Sememi lalu melakukan pelacakan terhadap orang yang pernah kontak dekat dengan X.
Dari fakta di lapangan, X tinggal bersama istri dan dua anak. Selain itu, ternyata X memiliki komorbid.
" Menurut petugas, itu membahayakan kesehatan pribadinya. Sehingga mau tidak mau harus dirujuk ke Rumah Sakit BDH," kata Febri.
Saat menjalankan pelacakan, petugas sempat mengadapi kendala. Salah satu anak X menolak untuk tes.
Petugas datang kembali pada Selasa untuk melakukan mediasi dengan harapan keluarga mengizinkan pasien dirujuk ke rumah sakit terdekat. Akhirnya didapat kesepakatan, sang anak mengizinkan X dibawa ke rumah sakit.
" Ada kesepakatan, oke bersedia. Anak pertamanya bersedia, welcome karena sudah diberi penjelasan oleh satgas untuk dirujuk. Karena mengingat ada komorbidnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," kata dia.
Petugas kemudian menyiapkan tandu untuk membawa pasien tersebut karena kondisi X tidak memungkinkan berjalan. Petugas pun menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.
" Namun ternyata istri dari Bapak itu keluar dari ruangan sambil membawa bingkisan (berisi kotoran)," terang Febri.
Petugas lalu berusaha memberikan penjelasan kepada wanita tersebut. Penjemputan yang dilakukan demi kebaikan pasien agar mendapat perawatan yang memadai.
" Namun sudah disampaikan seperti itu, yang bersangkutan tetap saja mengambil bingkisan [berisi kotoran] lalu melumurkan ke pakaian para petugas," kata dia.
Lebih lanjut, Febri mengatakan peristiwa ini bisa terjadi lantaran masih kurangnya pemahaman masyarakat mengenai bahaya Covid-19. Ke depan, pihaknya akan lebih memassifkan lagi sosialisasi kepada masyarakat.
" Karena sebenarnya ini bukan aib dan harus ditangani, kalau nggak akan merugikan kita sendiri," ucap Febri.
Sumber: Madiun Pos