Virus Corona Mana yang Lebih Bahaya, Varian Baru Inggris, Brasil, atau Afsel?

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Minggu, 28 Maret 2021 14:00
Virus Corona Mana yang Lebih Bahaya, Varian Baru Inggris, Brasil, atau Afsel?
Lebih berbahaya yang mana?I

Dream - Pandemi virus corona belum juga reda. Meski vaksin sudah mulai diedarkan, kasus penularan masih saja tinggi. Belakangan bahkan muncul varian baru virus corona, hasil mutasi.

Mutasi merupakan perubahan pada DNA virus dan dapat mengubah bentuk dan perilakunya. Ketik avirus mulai menginfeksi sel manusia, tugas utamanya melipatgandakan diri dan menyebar.

Virus kemudian menginstruksikan sel terinfeksi, untuk memperbanyak diri dan menyebar menginfeksi lainnya. Ketika itu terjadi, pasien yang terkenal bisa mengalaami batuk, bersin, kesulitan bernapas dan sangat rentan menyebarkan virus kepada orang lain.

Replikasi virus corona yang saat ini sudah ditemukan, relatif cepat yang berarti terjadi kesalahan dalam penanggulangan pandemi. Seiring berjalannya waktu, apabaila kesalahan ini tak diselesaikan sesegera mungkin, virus akan lebih kuat dan penularan akan mengalami peningkatan.

Dilansir Al Jazeera, ternyata di dunia sudah ditemuka tiga mutasi virus Covid-19 yang berbahaya. Diantara ketiga itu manakah yang paling berbahaya?

1 dari 4 halaman

Varian Brazil

Varian Brasil dikenal dengan varian P1. Pertama kali terindentifikasi di Kota Manus, Amazon, pada Desember 2020. Varian berkontribusi dalam lonjakan kasus besar di Brasil dan menjadi yang paling parah di dunia.

P1 disebut lebih menular daripada virus versi asli, menjadi varian paling dominan ditemukan.

Meski belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa varian ini bisa membuat pasien mengalami sakit parah, tetapi P1 mampu menginfeksi lebih banyak orang dan lebih bisa menimbulkan banyak kematian. Lebih dari 2.000 kematian per hari telah tercacat di Brasil.

Sejak Desember, WHO telah mengidentifikasi P1 telah menyebar di Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, India, Meksiko, Jepang, Italia, dan Korea Selatan.

Menurut penelitian, varian P1 disebabkan oleh tiga mutasi.

Mutasi pertama yakni mutasi E484K yang telah teridentifikasi pada varian Afrika Selatan. Mutasi ini disebut bisa mengubah protein virus asli menjadi lebih mudah mengikat sel dan membentuk koneksi yang lebih kuat dengan sel inang. Sehingga, mutasi ini lebih menular.

Tak hanya itu, varian E484L juga ternyata dapat menghindari vaksin yang sebelumnya efektif menangkal virus asli.

Varian ke dua ada mutasi K417T. Mutasi ini diketahui dapat mempermudah virus untuk mengikat diri ke sel manusia dan meningkatkan ketidakefektifitasannya. Masih diperlukan banyak penelitian untuk mutasi ini, tetapi menurut banyak ilmuwan, apabila mutasi K417T bertemu dengan N501Y, akan membuat varian Brasil sangat berbahaya.

2 dari 4 halaman

Varian Inggris

Varian Inggris atau B.1.1.7 pertama kali teridnetifikasi pada September 2020. Pada awalnya, varian ini hanya menyumbang empat pasien dan pada pertengah Desember, angkanya meningkat menjadi dua pertiga kasus di London.

Sejak ditemukan, varian Inggris telah terdeteksi di Amerika Serikat, Kanada, Denmark, Prancis, Belgia, Spanyol, Finlandia, Nigeria, Ghana, Yordania, Australia, dan Singapura.

Sebanyak 17 mutasi telah terindentifikasi oleh varian ini yang tergabung dengan mutasi N501Y (terdapat pada varian Brasil). Mutasi baru ini, memungkinkan virus untuk membentuk ikatan yang lebih erat dengan sel dan mempermudahnya masuk.

Kabar baiknya, semakin banyaknya orang yang menerima vaksin, efektif dalam menangkal varian baru ini.

Penelitian yang dilakukan Pfizer menunjukan respons imun baik pada orang yang telah diberi vaksin dan kemudian terpapar mutasi N501Y. Penelitian Universitas Oxford juga menunjukan, vaksin Oxford-AstraZeneca setidaknya 75% efektif melawan varian Inggris.

3 dari 4 halaman

Varian Afrika Selatan

Varian ini menjadi fokus kekhawatiran para ilmuwan. Varian Afsel tidak hanya memiliki mutasi N501Y, ini juga ternyata mengandung mutasi E474K. Sehingga ia akan lebih menular dan dapat menghidari antibodi buatan.

Vaksin yang dikembangkan saat ini terbukti kurang efektif melawan varian baru ini, tetapi saat ini masih dilakukan penelitian pengembangan vaksin. Selain di Afrika Selatan, varian ini telah teridentifikasi di Austria, Belgia, Kenya, Uni Emirat Arab, dan Jepang.

4 dari 4 halaman

Penemuan Varian Baru

Tak hanya ketiga varian baru tersebut, menurut laporan terbaru, para ilmuwan Inggris telah mengidentifikasi adanya varian baru lainnya yang lebih berpotensi mengkhawatirkan. Varian ini diklaim berasal dari Nigeria dikenal dengan B1525.

Varian ini telah ditemukan di Denmark, Australia dan Amerika Serikat. Menurut informasi, varian Nigeria ini juga memiliki mutasi E484K yang berarti dapat menghindari respon imun. Para ilmuwan saat ini tengah mempelajari kemungkinan terjadinya penyebaran.

Sumber: aljazeera.com

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More