Viral Video Perlakuan ABK China Terhadap Nelayan WNI Tak Manusiawi

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 7 Mei 2020 14:28
Viral Video Perlakuan ABK China Terhadap Nelayan WNI Tak Manusiawi
Nelayan WNI hanya dibolehkan istirahat 6 jam namun bukan untuk tidur.

Dream - Video berisi suasana pemakanan di sebuah kabar tengah viral di media sosial. Pemakaman tersebut tergolong tak manusiawi, lantaran jenazah diceburkan ke laut.

Video yang diunggah akun Instagram @makassar_iinfo memperlihatkan beberapa orang berkewarganegaraan China tengah melakukan upacara penghormatan kematian sebelum jenazah diceburkan ke laut. Jenazah itu disebut merupakan anak buah kapal yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).

" Sebuah pemberitaan yang disiarkan oleh stasiun televisi Korea Selatan MBC memperlihatkan sebuah kenyataan yang memilukan mengenai nasib beberapa Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di kapal milik China," tulis Admin.

Video dalam bahasa Korea itu kemudian diterjemahkan YouTuber Hansol dalam bahasa Indonesia. Dia juga memberikan penjelasan kasus ini dalam channel YouTubenya, Korea Reomit.

" Video yang bakal kita lihat abis ini adalah kenyataan pelanggaran HAM orang Indonesia yang bekerja di perkapalan China. Jadi, kayak kapal besar untuk nangkap ikan di tengah laut. MBC berhasil mendapatkan informasi ini kebetulan kapal menepi di Busan," kata Hansol.

 

1 dari 5 halaman

Jam Kerja Tak Wajar

Disebutkan, para WNI yang di kapal ikan China tersebut bekerja dengan jam kerja yang tidak manusiawi. Mereka diharuskan bekerja selama 18 jam.

Selain itu, ABK WNI tidak boleh mengonsumsi air mineral namun air laut yang difiltrasi. Sementara air mineral hanya untuk nelayan China.

" Pada awalnya kita melihat video yang ditunjukkan, kami tidak bisa mempercayai hal itu dan sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, kapalnya sudah pergi, terlihat dibutuhkan investigasi internasional secepat mungkin," ucap presenter MBC yang diterjemahkan Hansol.

3 dari 5 halaman

Cerita Para WNI Terjebak Lockdown Corona di Negeri Orang

Dream - Virus corona telah menyebar nyaris di seluruh negara di dunia. Tak hanya penduduk lokal, banyak warga negara Indonesia yang berada di luar negeri terjebak karena lockdown dan merasakan kengerian akibat virus Corona Covid-19 ini. Tidak sedikit dari WNI tersebut yang khawatir akan kesehatan mereka.

Selain memikirkan kesehatan diri sendiri, mereka juga memikirkan keadaan keluarga di Indonesia sambil berharap tak ada pengalaman buruk dirasakan seperti yang mereka alami.

Ada lebih dari 780 ribu kasus Covid-19 yang sudah dikonfirmasi di Amerika Serikat, dengan penularan tertinggi terjadi di kota New York, yang menjadi pusat bisnis dan hiburan.

Sementara di Eropa, Spanyol, Italia, dan Prancis menjadi tiga negara dengan kasus tertinggi dengan total kematian di tiga negara ini sudah mencapai lebih dari 60 ribu orang.

Inilah beberapa kisah WNI yang berada diluar negeri yang saat ini masih berjuang melawan pandemi Corona Covid-19, dikutip dari ABC Australia.

4 dari 5 halaman

Pengalaman di Amerika Serikat

Amerika Serikat kini menjadi negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia. Ada lebih dari 780 orang yang dinyatakan positif, 42 ribu pasien meninggal dunia dan setengahnya berdomisili di New York City.

Tingginya angka kasus positif corona di New York City membuat pasangan asal Indonesia, Hendy Bernandi dan Istrinya, Caroline Ronauli merasa khawatir akan kesehatannya.

Pasangan ini telah menetap di dekat kota New York selama lebih dari dua tahun. Mereka tinggal di kawasan Forest Hills di Queens, sekitar 20 menit dari pusat kota New York.

Bersyukur kawasan tempat mereka tinggal bukanlah kawasan yang dinyatakan sebagai 'hot spot', tidak sepeti Bronx ataupun Broklyn. Warga sekitar tempat pasangan ini tinggal juga mematuhi peraturan pemerintah dengan melakukan 'physical distancing'.

Inilah yang membuat Hendy, Olin dan Hayzel, anak mereka, merasakan atmosfer positif ditengah wabah corona yang melanda New York City.

Hayzel kini duduk di bangku kelas 6 SD, sudah lebih dari sebulan pembelajaran dilakukan secara daring. Semua kebutuhan seperti ipad dan laptop telah disediakan oleh Kementerian Pendidikan Amerika Serikat.

Tidak hanya peralatan sekolah, jatah makan murid di kantin sekolah sebanyak tiga kali pun tetap diberikan. Orang tua bisa mengambil jatah makan anak antara pukul 8 hingga pukul 1 siang.

" Mungkin karena ini sekolah publik ada anak-anak dari keluarga yang tidak mampu, pemberian makanan ini masih terus dilakukan pihak sekolah," Olin menjelaskan.

Kekhawatiran Olin lebih tertunju ke sang suami, Hendy. Hendy bekerja di salah satu bank BUMN Indonesia di New York, sehingga ia tetap harus ke kantor satu kali dalam seminggu.

" Setiap mau keluar rumah, saya ingatkan, jangan lupa pakai ini-itu, semprot disinfektan. Begitu balik [ke rumah] juga jaket dicopot dulu, disemprot-semprot lagi, mandi dulu, baru makan," kata Olin kepada Hellena Souisa dari ABC Indonesia.

Sementara untuk mengatasi kebosanan di rumah karena kondisi 'pause' di New York, Hendy dan Olin melakukan banyak kegiatan, termasuk yang mereka tidak pernah lakukan sebelumnya.

" (Karena) enggak tahu lagi mau ngapain, kami bertiga senam di depan televisi dengan panduan YouTube ... kami ber-zumba bertiga dengan baju olahraga lengkap," tutur Olin, yang mengaku sebelumnya ia tidak suka berolahraga.

Seiring pemberitaan yang mengerikan tentang situasi New York, Hendy dan Olin harus sering menenangkan orang tua dan keluarga di Indonesia yang mengkhawatirkan keadaaan mereka.

Selain itu, karena tinggal di negeri orang, Hendy dan Olin kerap bersilatuhrahmi dengan sesama muslim asal Indonesia, terutama jelang bulan Ramadhan dan saat lebaran nanti.

Kini mereka juga merisaukan potensi meningkatnya tindakan kriminalitas di New York, karena naiknya jumlah pengangguran.

Akhir pekan kemarin, ribuan warga Amerika Serikat turun ke jalan melakukan unjuk rasa dengan tuntutan segera dibukanya kembali pusat-pusat dan kegiatan ekonomi, karena mereka telah merasakan dampaknya.

 

5 dari 5 halaman

WNI di Italia

Virus corona telah memakan korban meninggal dunia sebanyak 23.000 dari 178.000 kasus positif corona hingga akhir pekan kemarin (19/4/20).

Marlina Cardioli, asal Bandung atau yang biasa disapa Inna, sudah tinggal di Italia selama 10 tahun. Ia tinggal di kota Verona, Italia Utara.

Inna bercerita, keluarganya telah tinggal dirumah sejak awal Maret lalu.

" Benar-benar seperti mimpi rasanya, karena awalnya kita melihat apa yang terjadi di Wuhan, tapi kini di rumah sendiri, di negara yang kita tinggali," kata Inna kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Sejak pertama kali pemberlakuan lockdown di Italia, Inna mengatakan perekonomian nasional menjadi kacau. Banyak aktivitas bisnis yang berhenti, hanya supermarket dan apotek saja yang dapat dikunjungi warga.

Kekhawatiran akan virus corona semakin Inna rasakan saat melihat berita di media.

" Benar-benar mempengaruhi secara psikologis, akhirnya kami memutuskan untuk tidak melihat TV lagi dan pernah tiga minggu tidak mengecek sosial media," ujarnya.

Inna kemudian menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal positif agar tidak stres.

" Sekarang kesibukan malah bertambah, suami juga bekerja dari rumah, kita lebih menyibukkan diri dengan memasak dan beres-beres rumah," kata Inna.

Memasuki awal April, keadaan di Italia 'sedikit tenang' menurut Inna. Hal ini karena laporan jumlah pasien di perawatan intensif kian menurun.

Namun kini yang menjadi kekhawatiran adalah kondisi keluarga di Indonesia melihat berita kasus covid-19 yang kian bertambah tiap harinya.

" Jujur aku lebih takut karena jumlah penduduknya lebih banyak, di Italia warga yang sudah di-swab [salah satu metode tes virus corona] lebih dari satu juta orang, tapi di Indonesia masih kurang," ujar Inna.

" Saya juga melihat temen-temen masih bisa pergi untuk treatment (perawatan kecantikan), suntik vitamin C, padahalnya harusnya jangan dulu ketemu siapa-siapa, termasuk keluarga sendiri demi menyelematkan orang lain."

" Ini jangan dianggap masalah yang sepele, karena di Italia kita sudah mengalaminya," ujarnya mengingatkan pentingnya untuk diam di rumah.

 

Beri Komentar