5 Tahun Belajar Agama, Jatuh Lembah Maksiat Usai Kenal Ponsel

Reporter : Sugiono
Rabu, 17 Januari 2018 08:30
5 Tahun Belajar Agama, Jatuh Lembah Maksiat Usai Kenal Ponsel
Inilah peringatan bagi kita. Dunia yang ditinggali saat ini sudah sangat berubah.

Dream - Ada yang bilang seorang anak ibarat sebuah kain putih polos. Orang tua yang bertanggung jawab untuk menjaganya agar tetap baik dan berakhlak mulia.

Namun, di dunia yang semakin penuh tantangan seperti saat ini, pengetahuan agama saja tidak cukup untuk membendung anak agar tidak jatuh ke dalam lembah setan.

Seperti cerita yang dibagikan oleh laman Facebook Baitus Solehah ini. Seorang anak adopsi diberi pendidikan agama yang cukup kuat. Tetapi jalan hidup berkata lain. 

Dia terjebak melakukan maksiat karena kejutan budaya. Yang mengejutkan lagi, dia mengatakan ingin hidup bebas tanpa dikekang.

Inilah kisah yang diceritakan wanita tersebut dan semoga bisa menjadi hikmah bagi kita, Sahabat Dream.

Jangan Pikir Pendidikan Agama Saja Cukup

Saya mengungkap cerita ini agar orang tua yang anak-anaknya belajar di madrasah tahfiz bisa mengambil pelajaran.

Jangan berpikir jika anak diberi pendidikan agama dan dikirim belajar tahfiz sudah terlindung dari maksiat.

Perlu usaha pengendalian dan pengawasan. Anak hidup bukan zaman kita dulu, tapi di zaman sekarang. Zaman di mana ada yang namanya ponsel.

Awasi dan kendalikan agar anak tahu manfaat ponsel, bukan malah menyalahgunakannya.

Selain itu, doa yang tidak pernah putus agar Allah senantiasa memelihara anak dari kejahatan.

Buat amal kebajikan dan jaga lidah kita sendiri dari menjelekkan dan mencari salah anak orang lain.

...

 

1 dari 4 halaman

Antar Anak ke Tahfiz dan Pergi Haji

Dream - Saya didatangi sepasang suami istri keluarga angkat. Mereka datang membawa anak angkat mereka untuk konseling di Baitus Solehah. Saat itu rambut anak tersebut sudah dicat warna keemasan.

Anak angkat ini seorang gadis, sebut saja Kartika. Dia diadopsi pasangan ini saat berumur 3 hari. Sejak saat itu pasangan tersebut telah menjaga Kartika dengan penuh kasih dan memberikan pendidikan agama.

Kartika dibentuk menjadi ibu rumah tangga Muslim yang baik, pintar, dan pandai masak. Kartika mendapat pendidikan agama dan pendidikan umum. Saat berumur 12 tahun, mereka membawa Kartika naik haji.

Kembali dari haji, Kartika diantar ke madrasah tahfiz. Selama 5 tahun Kartika belajar Alquran dan kitab-kitab.

Kartika tidak pernah kenal media sosial dan tidak memiliki ponsel. Dunia Kartika hanya madrasah, rumah, orang tua dan buku.

Setelah 5 tahun menuntut ilmu di madrasah tahfiz, Kartika berhenti dan kembali ke rumah. Selama masa studinya di madrasah, tidak ada keluhan tentang kedisiplinan Kartika.

Saat itu usianya 19 tahun, orang tua angkatnya berencana mengirim Kartika untuk belajar keterampilan menjahit agar bisa digunakan sebagai peluang untuk mencari kerja. Mereka mencari yang dekat rumah agar mudah dikunjungi.

Sayang, baru 3 bulan belajar menjahit telah menghancurkan segalanya. Kartika menghadapi kejutan budaya. Terlebih setelah ayah angkatnya memberi sebuah ponsel untuk memudahkan komunikasi.

2 dari 4 halaman

Belajar Pakai Ponsel, Kenal dengan Lelaki

Dream - Selama di tempat kursus, Kartika menggunakan ponsel tanpa pengawasan. Kartika seperti ditempatkan di tengah jalan raya tanpa bimbingan. Pertama kali mendapat sebuah ponsel pintar dan memiliki teman dari berbagai latar belakang telah menjerumuskan Kartika ke dalam buaya.

Kartika belajar menggunakan media sosial tanpa batasan. Menjelajahi dunia maya tanpa bimbingan. Facebook, Yahoo Messenger, Skype, Instagram, WeChat dan sebagainya.

Perilaku Kartika pun berubah. Malas untuk belajar. Sering melewatkan kelas dan keluar dengan teman lelaki. Saat dilaporkan ke orang tua angkat, mereka langsung mengambil tindakan memberhentikan Kartika dari tempat kursus menjahit.

Namun tindakan tersebut sudah terlambat. Kartika telah menjelajahi alam maya secara bebas. Meski telah berhenti dan tinggal di rumah, Kartika masih bisa keluar rumah. Dia memanfaatkan waktu ketika ayah angkatnya pergi bekerja.

Kenal banyak pria membuat Kartika jadi korban. Banyak pria berambisi terhadap kehidupan naif Kartika. Mereka ajari Kartika memotret dan merekam video. Ketelanjangan tidak memalukan lagi bagi Kartika.

3 dari 4 halaman

Bencana Itu Akhirnya Datang

Dream - Sampailah pada satu hari teman chatting Kartika mengundangnya untuk bertemu. Maksudnya bertemu di atas ranjang. Kartika pun senang dan mengabadikan setiap aksinya dengan ponsel pintar miliknya.

Sayang, aksinya itu tersebar. Maksud hati ingin menghapus gambar dan video, Kartika salah tekan tombol share di grup Whatsapp. Maka bertebaranlah gambar dan video panas Kartika bersama teman.

Hingga akhirnya gambar dan video itu sampai di grup ustazah di madrasah tahfiz tempat dia menuntut ilmu agama. Bukan kepalang terkejutnya ustazah.

Ustazah datang bertemu orang tua angkat Kartika sambil menunjukkan bukti. Betapa malu kedua orang tua angkat. Anak yang mereka berikan pendidikan agama dari kecil. Telah menghafal Alquran dan tidak pernah meninggalkan sholat selama di madrasah. Ketika di rumah, selalu sholat berjamaah dan menyimak bacaan Alquran ibunya. Kini bertingkah macam binatang.

Jika tidak ada gambar dan video, orang tuanya mungkin tidak akan percaya dengan perbuatan anak mereka. Apalagi saat dinasihati, Kartika malah memberontak dan marah.

Mereka tidak menyangka, Kartika malah minta dipulangkan ke orang tua kandungnya. Kartika tidak mau lagi tinggal dengan orang tua angkatnya. Dia merasa terkungkung dan tidak bebas. Dia tidak punya teman. Semua-semua tidak boleh.

4 dari 4 halaman

Diantar ke Rumah Orang Tua Kandung, Tetapi...

Dream - Kartika pun diantar ke rumah ketika dia diambil 20 tahun yang lalu. Masih rumah yang sama dengan kehidupan keluarganya yang miskin. Tidak ada perubahan selama 20 tahun. Namun mau dibilang apa, Kartika memilih pulang ke orang tua kandungnya.

Sebulan tanpa kabar, Kartika tiba-tiba muncul di rumah orang tua angkat. Saat ditanya kenapa kembali, Kartika bilang dia telah diusir ibu kandungnya.

Ibunya telah merampas ponsel pintar miliknya dan mengusirnya keluar dari rumah. Ibunya menyuruh Kartika pulang kembali ke rumah orang tua angkatnya.

Rupanya selama tinggal di rumah orang tua kandungnya, tingkah laku Kartika sudah seperti perempuan nakal. Bahkan kakak kandungnya sendiri juga pernah tidur dengannya.

Mungkin alasan itulah yang membuat Kartika diusir keluar dari rumah orang tua kandungnya. Kedua orang tua angkatnya mencoba memaklumi keadaan Kartika.

Itulah mengapa mereka membawa Kartika ke Baitus Solehah untuk melakukan konseling. Mereka berharap Baitus Solehah bisa memulihkan akidah dan akhlak Kartika seperti semula.

Orang tua angkatnya ingin menyelamatkan Kartika. Sedangkan pilihan Kartika ingin hidup bebas. Sebuah masalah yang cukup pelik.

Ini adalah kisah nyata yang terjadi di masyarakat. Hal semacam ini bisa juga menimpa keluarga kita. Karena itu hati-hati dalam berbicara, jangan mudah menyalahkan orang. Lihatlah diri kita sendiri, anak cucu kita.

(Sumber: OhBulan.com)

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian