Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Rafi Yudha Hidayat, Pencipta BOS (ketemulagi.com)
Dream - Tas merupakan salah satu benda yang selalu melekat di setiap pelajar. Benda ini kerap berfungsi untuk menyimpan peralatan sekolah.
Seringkali, pelajar merasakan kelelahan dan pegal-pegal lantaran membawa beban dalam tas yang begitu berat. Masalah ini menarik perhatian seorang Rafi Yudha Hidayat, siswa kelas V SD Al Azhar 29 Semarang untuk menciptakan alat pendeteksi beban pada tas atau disebut Bag Overweight Sensor (BOS).
Sebelum menciptakan alat tersebut, Rafi sempat melakukan penelusuran di dunia maya. Dia mendapat informasi beban ideal yang diangkut manusia tidak boleh melebihi 10 persen berat badan.
Dapat pula disebutkan, beban ideal dalam tas adalah 10 kilogram. Sementara pada faktanya, beban yang dibawa manusia dalam tas mencapai 15 kilogram.
Rafi mengaku ide menciptakan BOS muncul saat dia menggunakan lift pada pusat perbelanjaan. Setiap lift dilengkapi alat deteksi yang akan akan bekerja dengan menimbulkan bunyi ketika beban yang dibawa berlebih.
Cara kerja ini diterapkan pada BOS. Alat ini dirancang menggunakan komponen sederhana bahkan bekas seperti neraca pegas, jeruji sepeda, kabeltis, kabel biasa, dan sirine.
Rafi memasang neraca pada tali tas yang terhubung pada sirine melalui kabel. Sementara sirine tersebut juga terhubung pada jeruji. Prinsip kerja alat ini adalah ketika beban tas melebihi 10 kilogram, maka jeruji akan menarik kabel dan menghidupkan sirine, serta menggerakkan jarum pada neraca.
Dalam pembuatan alat ini, Rafi dibimbing oleh salah seorang guru, Titan Ajiyan. Penemuan alat ini berhasil mengantarkan Rafi menjadi finalis Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2015 pada September lalu. Selain itu, alat ini juga telah dipatenkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Selengkapnya, baca pada tautan ini. (Ism)
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi
Ayo berbagi traffic di sini!
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan