Demi Bertahan Hidup, Guru Ngaji Ini Sampai Menjual Bolang-baling

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 29 Juni 2021 11:01
Demi Bertahan Hidup, Guru Ngaji Ini Sampai Menjual Bolang-baling
Tutik tak pernah mengenal kata menyerah.

Dream - Hidup dengan keterbatasan mungkin sudah jadi kebiasaan Tutik, 40 tahun. Meski begitu, wanita asal Purwodadi, Jawa Tengah ini tak kenal menyerah.

Dia terus berjuang memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dengan berjualan bolang-baling, roti goreng yang bagi orang Jakarta dikenal dengan kue bantal atau odading bagi orang Sunda. Aktivitas itu dia lakukan di luar kegiatan rutinnya mengajari anak-anak mengaji, belajar membaca Alquran.

Tempat tinggal Tutik sangat sederhana, bangunan rumah ukuran 4,6 meter peninggalan sang suami yang telah meninggal. Tutik tinggal di sana bersama dua anaknya yang beranjak dewasa.

Meski sendirian membesarkan kedua anaknya, Tutik tak pernah mengeluh. Pun dengan berjualan bolang-baling tiap hari, Tutik tak pernah lelah demi bisa membiayai buah hatinya sekolah.

" Alhamdulillah, Insya Allah saya ikhlas menjalani ini semua, Gusti Allah sampun ngatur (sudah mengatur), saya tinggal menjalani saja, jadi saya tidak pernah berpikir yang macam-macam. Saya percaya dengan ketentuan dan rencana-Nya," ujar Tuti.

 

1 dari 2 halaman

Rp45 Ribu Penghasilan Sehari

Sejak menjadi orangtua tunggal, Tutik harus mengusahakan apapun demi buah hatinya. Penghasilan dari berjualan bolang-baling tidaklah seberapa, hanya sekitar Rp45 ribu tiap harinya.

Uang sebesar itu baru bisa didapat jika semua bolang-balingnya terjual. Jika tidak, maka uang yang didapatnya semakin sedikit.

Untuk menambah penghasilan, Tutik juga menerima jasa cuci dan setrika. Selagi pekerjaan itu halal, apapun akan ia lakukan.

Meski sibuk dengan berbagai upaya, Tutik tak menghabiskan waktunya untuk urusan dunia. Dia selalu menyempatkan diri mengajari anak-anak di lingkungannya untuk belajar baca tulis Alquran.

Awalnya, Tutik hanya memiliki satu dua santri yang mengaji di rumahnya. Lambat laun, banyak anak yang ingin belajar padanya.

 

2 dari 2 halaman

Terkena Sumbatan Pembuluh Darah

Kini dia sudah mendidik 14 santri. Bagi Tutik, mengajar ngaji merupakan hal yang menyenangkan karena bisa berbagi ilmu.

Sayangnya, seluruh aktivitas tersebut kini terhambat lantaran Tutik menderita sumbatan pada pembuluh darah di otaknya. Dia pun terpaksa menghentikan seluruh aktivitasnya, termasuk mengajar ngaji.

Namun demikian, Tutik tidak juga mengeluh. Dia menganggap apa yang dialaminya semata sebagai ujian.

Kegigihan Tutik dalam menjalani hidup membuat PPPA Daarul Quran Semarang terpanggil. Yayasan ini memberi dukungan berupa biaya pengobatan.

" Semoga dengan bantuan ini, beliau bisa segera sehat kembali serta bisa menebar manfaat lagi untuk keluarga juga para santri mengajinya. Amin," ujar Kepala Cabang PPPA Daarul Qur'an Semarang, Muhammad Nur Fauzan.

Beri Komentar