Hukum Menyambung Rambut dalam Islam

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 24 Maret 2016 08:43
Hukum Menyambung Rambut dalam Islam
Masih banyak orang yang belum paham mengenai hukum menyambung rambut. Ternyata...

Dream - Berkembangnya zaman membuat teknologi juga semakin canggih. Memiliki rambut panjang dan indah bukanlah hal yang mustahil lagi, meskipun sebenarnya rambut kita pendek.

Strategi yang sering dilakukan oleh para wanita adalah dengan menyambung rambut.

Sekarang ini, hal tersebut tidak menjadi masalah lagi karena terdapat rambut sambungan yang dapat memperpanjang rambut. Namun, masih banyak orang yang belum paham mengenai hukum menyambung rambut.

Ternyata, rambut sambungan yang menjadi perhiasan untuk wanita adalah haram untuk dilakukan, baik sambungan itu berasal dari rambut asli atau buatan. Kita sering menyebut rambut ini dengan nama wig.

Dalam riwayatnya, Imam Bukhari menjelaskan bahwa Rasulullah telah melaknat wanita yang menyambung rambutnya atau meminta orang lain untuk menyambungkan rambutnya.

Tidak hanya untuk wanita, ternyata hukum ini juga berlaku untuk laki-laki. Bahkan untuk laki-laki hal ini lebih diharamkan. Tidak diperbolehkan bagi laki-laki yang menjadi tukang sambung atau tata rias yang menyambung rambut customernya.

Ia juga dilarang untuk menyambung rambutnya sendiri atau meminta orang lain untuk menyambungkan rambutnya, karena rambut sambungan ini identik dengan rambut wanita sehingga akan terlihat menyerupai wanita.

Rasulullah telah melarang keras akan hal ini. Bahkan beliau berupaya untuk memberantas adanya wanita atau laki-laki yang menggunakan rambut sambungan.

Aisyah pernah meriwayatkan bahwa seorang wanita Anshar sudah menikah dan sesungguhnya ia sedang sakit sehingga rambutnya gugur.

Keluarganya ingin untuk menyambung rambut si pengantin tersebut, tetapi mereka bertanya terlebih dahulu kepada Rasulullah. Kemudian, Rasul menjawab bahwa Allah akan melaknat wanita yang menyambung rambutnya atau yang meminta disambung rambutnya.

Rasulullah menyebut perbuatan ini dengan zuur atau dosa yang berarti memberikan isyarat terhadap hikmah diharamkannya perilaku itu.

Beliau menganggap bahwa perbuatan ini tidak lain serupa dengan memalsu, menipu, dan mengelabuhi demikian dengan ajaran Islam yang sangat benci dengan perbuatan menipu.

Ulasan selengkapnya klik di sini. (Ism) 

Beri Komentar
Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak