Kisah Jenaka Abu Nawas, Tokoh Cerdik Semasa Khalifah Harun Al-Rasyid

Reporter : Ulyaeni Maulida
Senin, 8 Juni 2020 18:48
Kisah Jenaka Abu Nawas, Tokoh Cerdik Semasa Khalifah Harun Al-Rasyid
Semoga terhibur ya.

Dream – Abu Nawas merupakan tokoh yang hidup di masa pemerintahan khalifah Harun Al-Rasyid. Abu Nawas dikenal dengan karakternya yang cerdik dan penuh jenaka.

Kisah Abu Nawas banyak memberikan makna kehidupan. Selain itu, kisah jenakanya juga mampu membuat siapapun yang membacanya terhibur.

Berikut adalah beberapa kisah Abu Nawas yang begitu menghibur.

1 dari 3 halaman

Kisah Abu Nawas Menjual Raja

Abu Nawas© Instagram/qasidah_cinta.2

Suatu hari Abu Nawas sangat kebingungan, bahkan ia hampir putus asa. Sudah dua hari dapur tidak mengepul asap karena tidak ada lagi barang yang bisa ia jual. Satu-satunya jalan yang bisa dia ambil adalah menjual manusia untuk dijadikan budak. Sebenarnya jika Abu Nawas mau, dia bisa saja menjual teman-temannya, namun ia tidak tega karena teman-temannya bukan orang kaya melainkan orang miskin seperti dirinya.

Jalan satu-satunya yang bisa dilakukan Abu Nawas adalah menjual manusia. Akhirnya Abu Nawas memutuskan sesuatu yang tidak biasa, ia akan tetap menjual manusia untuk dijadikan oleh si pembelinya. Bukan menjual temannya melainkan rajanya, Harun Al Rasyid.

Menurut Abu Nawas, hanya Baginda Raja yang pantas untuk dijual. Bukankah selama ini Baginda Raja selalu mempermainkan dirinya dan menyengsarakan pikirannya? Maka sudah sepantasnya bagi Abu Nawas untuk menyusahkan Baginda Raja.

Abu Nawas mencari cara agar bisa menjual Baginda Raja Harun Al Rasyid. Ia pun mendapat ide dan menjuampai sang raja.

" Apa itu wahai Abu Nawas?" tanya Baginda langsung tertarik.

" Sesuatu yang hamba yakin belum pernah terlintas di dalam benak Paduka yang mulia," kata Abu Nawas meyakinkan.

" Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya," kata Baginda Raja tanpa rasa curiga sedikit pun.

" Tetapi Baginda …," kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.

" Tetapi apa?" tanya Baginda tidak sabar.

" Bila Baginda tidak menyamar sebagai rakyat biasa maka pasti nanti orang-orang akan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu." kata Abu Nawas.

Karena memiliki keinginan besar dan rasa penasaran yang begitu besar, Banginda Raja bersedia menyamar menjadi rakyat biasa. Melihat penyamaran sang raja berhasil, Abu Nawas dan Baginda Raja berangkat menuju ke sebuah hutan.

Setibanya di sana, Abu Nawas mengajak Baginda Raja mendekati sebuah pohon besar dan rindang, ia pun meminta sang Raja untuk menunggu. Sementara itu, ia pergi menjumpai seorang badui yang pekerjaannya menjual budak. Abu Nawas mengajak pedagang budak itu untuk melihat calon budak yang akan dijual kepadanya dari jarak yang agak jauh.

Abu Nawas enggan menjumpai sang Raja dan merasa tidak tega. Sementara itu, Abu Nawas beralasan calon budak yang akan dijualnya adalah teman dekatnya sendiri. Setelah pedagang budak itu memperhatikan dari kejauhan ia merasa cocok. Abu Nawas pun membuatkan surat kuasa yang menyatakan bahwa pedagang budak sekarang mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu. Abu Nawas pergi begitu menerima beberapa keping uang emas dari pedagang budak.

Baginda Raja masih menunggu Abu Nawas di bawah pohon rindang tersebut, sampai tibalah pedagang budak menghampiri dirinya. Baginda Raja merasa heran, mengapa Abu Nawas tidak juga muncul dan mengapa ada orang lain selain dirinya dan Abu Nawas.

" Siapa engkau?" tanya Baginda Raja kepada pedagang budak.

" Aku adalah tuanmu sekarang," kata pedagang budak itu agak kasar.

Tentu saja pedagang budak itu tidak mengenali Baginda Raja Harun Al Rasyid dalam pakaian yang amat sederhana.

" Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Baginda Raja dengan wajah merah padam.

" Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya," kata pedagang budak dengan kasar.

" Abu Nawas menjual diriku kepadamu?" kata Baginda makin murka.

" Ya!" bentak pedagang budak.

" Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?" tanya Baginda geram.

" Tidak dan itu tidak perlu," kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeret budak barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al Rasyid diberi parang dan diperintahkan untuk membelah kayu.

Baginda Raja merasa heran dengan semua yang diperintahkan. Ia melihat begitu banyak tumpukan kayu di belakang rumah badui itu sehingga memandangnya saja Sultan Harun Al Rasyid sudah merasa ngeri, apalagi harus mengerjakannya.

" Ayo kerjakan!"

Meski ia merasa kebingungan dengan itu semua, Sultan Harun Al Rasyid mencoba untuk melakukan perintah dari tuan barunya. Sultan Harun Al Rasyid secara perlahan memegang kayu dan mencoba membelahnya, namun si badui melihat cara Sultan Harun Al Rasyid memegang parang merasa aneh.

" Kau ini bagaimana, bagian parang yang tumpul kau arahkan ke kayu, sungguh bodoh sekali!"

Sultan Harun Al Rasyid mencoba membalik parang hingga bagian yang tajam terarah ke kayu. la mencoba membelah namun tetap saja pekerjaannya terasa aneh dan kaku bagi si badui.

" Oh, beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerja keras lebih dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga," gumam Sultan Harun Al Rasyid.

Si badui menatap Sultan Harun Al Rasyid dengan pandangan heran dan lama-lama menjadi marah. la merasa rugi barusan membeli budak yang bodoh.

" Hai badui! Cukup semua ini aku tak tahan."

" Kurang ajar kau budakku harus patuh kepadaku!" kata badui itu sembari memukul sang raja. Tentu saja raja yang tak pernah diperlakukan kasar itu menjerit keras saat dipukul kayu.

" Hai badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al Rasyid," kata Baginda sambil menunjukkan tanda kerajaannya.

Pedagang budak itu kaget dan mulai mengenal Baginda Raja. la pun langsung menjatuhkan diri sembari menyembah Baginda Raja. Sang raja mengampuni pedagang budak itu karena ia memang tidak tahu. Tetapi kepada Abu Nawas Baginda Raja amat murka dan gemas. Ingin rasanya beliau meremas-remas tubuh Abu Nawas seperti telur.

2 dari 3 halaman

Kisah Abu Nawas dan Rumah Sempit

Abu Nawas© Instagram/parentingislam

 

Pada suatu hari, ada seorang laki-laki datang ke rumah Abu Nawas. Lelaki itu hendak mengeluh kepadanya mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Dia sedih karena rumahnya terasa sempit ditinggali banyak orang.

" Abu Nawas, aku memiliki seorang istri dan delapan anak, tapi rumahku begitu sempit. Setiap hari, mereka mengeluh dan merasa tak nyaman tinggal di rumah. Kami ingin pindah dari rumah tersebut, tapi tidak mempunyai uang. Tolonglah katakan padaku apa yang harus kulakukan," kata lelaki itu.

Mendengar hal itu, Abu Nawas kemudian berpikir sejak. Tak berapa lama, sebuah ide terlintas di kepalanya.

" Kamu mempunyai domba di rumah?" tanya Abu Nawas padanya.

" Aku tak menaiki domba, jadi aku tak memilikinya," jawabnya.

Setelah mendengar jawabannya, dia meminta lelaki tersebut untuk membeli sebuah domba dan menyuruhnya untuk menaruh di rumah. Pria itu kemudian menuruti usul Abu Nawas dan kemudian pergi membeli seekor domba.

Keesokan harinya, dia datang lagi ke rumah Abu Nawas. " Bagaimana ini? Setelah aku mengikuti usulmu, nyatanya rumahku menjadi tambah sempit dan berantakan," keluhnya.

" Kalau begitu, cobalah beli dua ekor domba lagi dan peliharalah di dalam rumahmu," jawab Abu Nawas.

Kemudian, pria itu bergegas pergi ke pasar dan membeli dua ekor domba lagi. Namun, bukannya seperti yang diharapkan, rumahnya justru semakin terasa sempit.

Dengan perasaan jengkel, dia pergi ke rumah Abu Nawas untuk mengadu yang ketiga kalinya. Dia menceritakan semua apa yang terjadi, termasuk mengenai istrinya yang menjadi sering marah-marah karena domba tersebut.

Akhirnya, Abu Nawas menyarankannya untuk menjual semua domba yang dimiliki.

Keesokan harinya, kedua orang tersebut bertemu kembali. Abu Nawas kemudian bertanya, " Bagaimana keadaan rumahmu sekarang, apakah sudah lebih lega?"

" Setelah aku menjual domba-domba tersebut, rumahku menjadi nyaman untuk ditinggali. Istriku pun tidak lagi marah-marah," jawab pria tersebut sambil tersenyum.

Akhirnya, Abu Nawas dapat menyelesaikan masalah pria dan rumah sempitnya itu.

 

3 dari 3 halaman

Kisah Abu Nawas Ajari Keledai Membaca

Abu Nawas© Instagram/gudang_gaza

 

Pada suatu hari seorang menteri tiba-tiba punya niat jelek kepada Abu Nawas. Menteri tersebut iri pada perhatian Raja yang dia anggap berlebihan pada Abu Nawas. Tak ada angin dan tak ada hujan, menteri tersebut tiba-tiba memberikan seekor keledai pada Abu Nawas.

" Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali kemari, kita lihat akhirnya," ujar sang menteri pada Abu Nawas.

Tanpa mikir panjang dan melontarkan pertanyaan, Abu Nawas menerima keledai pemberian menteri. Padahal dalam hatinya, Abu Nawas merasa cemas, apakah dia bisa menuruti kemauan sang menteri atau tidak. Ia juga penasaran dengan maksud dan tujuan si menteri yang tiba-tiba memberikannya keledai.

" Apakah ini satu di antara tipu dayanya buat menghancurkan nama baikku?" tanya Abu Nawas dalamh hati.

Meski merasa cemas, Abu Nawas tetap berusaha tenang. Dua minggu kemudian, Abu Nawas kembali ke istana dan bertemu dengan menteri. Tanpa banyak bicara, sang menteri kemudian mengajak Abu Nawas menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid.

" Baginda, saya akan perlihatkan siapa sesungguhnya diriku ini," kata menteri tersebut.

" Hai menteri, ada apa dengan dirimu?" tanya Raja Harun Al Rasyid dengan suara tinggi.

" Tenang Baginda, hari ini Baginda akan tahu kecerdasan akalku sesungguhnya, mengungguli kecerdasan Abu Nawas," ucap menteri itu dengan angkuh.

Mendengar pernyataan menteri tersebut, Abu Nawas merasa heran dan penasaran dengan maksu omongan sang menteri.

" Apa yang akan dibuat oleh menteri ini?" gumam Abu Nawas dalam hati.

" Baiklah, bila satu di antara kalian menang, maka ia memiliki hak memperoleh satu kantung dinar ini, namun untuk yang kalah akan dihukum tiga bulan di penjara," tutur Raja Harun.

Tak bisa mengelak, Abu Nawas terpaksa menyanggupi permainan yang ia anggap aneh ini. Belum selesai ia menerka-nerka maksud permainan ini, tiba-tiba menteri itu menunjuk pada satu buku besar.

" Coba tunjukkan bila keledai itu dapat membaca, tidakkah engkau cerdas dalam semua hal?" Pinta menteri pada Abu Nawas.

Tanpa berpikir lama, Abu Nawas lalu menggiring keledainya ke buku itu. Sampul dibuka. Kemudian di keledai memandang buku itu. Selang beberapa saat, keledai mulai membalik halaman demi halaman dengan lidahnya.

Keledai itu terus membalik lembar demi lembar, hingga halaman paling terakhir buku itu. Setelah tak ada lagi lembaran yang harus dibuka, keledai tersebut memandang Abu Nawas.

" Demikian, keledaiku dapat membaca," kata Abu Nawas. Mendengar kata-kata Abu Nawas, sang menteri kembali angkat bicara.

" Bagaimana caramu mengajari dia membaca?" tanya sang menteri mulai merasa panik.

" Sesampainya di rumah, saya siapkan lembaran-lembaran besar serupa buku serta saya sisipkan biji-biji gandum di dalamnya," jawab Abu Nawas.

" Keledai itu harus belajar membalik halaman agar bisa memakan biji-biji gandum itu, hingga ia terlatih benar untuk bisa membalik halaman buku," lanjut Abu Nawas.

" Namun bukankah dia tak tahu apa yang dibacanya?" bantah sang menteri.

" Memang demikian cara keledai membaca, dia cuma membalik-balik halaman tanpa tahu isinya," jawab Abu Nawas enteng.

" Bila kita membuka-buka buku tanpa tahu isinya, kita disebut setolol keledai bukan?" kata Abu Nawas lagi.

Jawaban cerdik Abu Nawas tersebut mendapat anggukan setuju dari Baginda Raja Al Rasyid. Raja tahu, sepintar-pintarnya hewan, tak ada yang bisa sesempurna manusia. Hanya manusia bodoh saja yang tidak mau memakai akalnya buat berpikir.

Mendengar penjelasan Abu Nawas, sang menteri tersebut merasa kesal. Raja akhirnya memberikan hadiah berupa sekantung dinar kepada Abu Nawas, sedangkan menteri masuk penjara sesuai perjanjian yang sudah disepakati.

 

 

 

Beri Komentar