Pilunya Penderitaan Wanita-wanita Tawanan ISIS

Reporter : Sandy Mahaputra
Jumat, 4 September 2015 11:43
Pilunya Penderitaan Wanita-wanita Tawanan ISIS
"Saya ingin dengan mata biru dan kulit putih. Mereka sepertinya yang terbaik. Saya bersedia membayar untuk itu".

Dream - Diculik, dipukuli, diperkosa, dan dijual sebagai budak seks. Itulah penderitaan para wanita Yazidi yang menjadi tawanan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

Melalui sebuah buku yang diterbitkan Selasa kemarin, seorang remaja Yazidi mengungkapkan kekejaman ISIS terhadap para wanita yang menjadi tawanannya. Mereka diperdagangkan sebagai budak seks di pasar internasional di Irak.

Jinan, 18, seorang Yazidi, ditangkap pada awal 2014 dan ditawan oleh militan ISIS selama tiga bulan sebelum dia berhasil melarikan diri, katanya dalam kunjungan ke Paris menjelang peluncuran buku tentang penderitaannya pada Jumat pekan ini.

Ditangkap saat pasukan ISIS menguasai wilayah utara Irak yang dihuni oleh minoritas pemeluk agama Yazidi, Jinan dipindahkan ke beberapa lokasi sebelum dibeli oleh dua orang, seorang mantan polisi dan seorang imam. Dia menjelaskan kepada AFP, bagaimana ia dan tahanan Yazidi lainnya dikurung di sebuah rumah.

" Mereka menyiksa kami, mencoba untuk memaksa kami mengikuti keyakinan mereka. Jika menolak kami dipukuli, dirantai di luar rumah di bawah terik matahari. Kami juga dipaksa minum air dengan tikus mati di dalamnya. Kadang-kadang mereka mengancam akan menyiksa kami dengan sengatan listrik," katanya.

Jinan menambahkan orang-orang ini bukan manusia. Mereka hanya memikirkan kematian dan membunuh. " Mereka selalu menenggak obat dan melakukan balas dendam terhadap semua orang. Mereka mengatakan bahwa suatu hari Negara Islam akan memerintah seluruh dunia," kata Jinan.

Dalam buku itu, Jinan menjelaskan pernah sekali di Mosul dia dibawa ke 'ruang resepsi besar dengan kolom besar dengan puluhan wanita berkumpul di sana'.

" Para teroris itu mengelilingi kami dengan tertawa genit sambil mencubit pantat kami," tulisnya dalam buku 'Daesh's Slave'.

Dia mengatakan salah satu orang itu mengeluh, mengatakan; " Yang satu memiliki payudara besar. Tetapi saya ingin Yazidi dengan mata biru dan kulit putih. Mereka sepertinya yang terbaik. Saya bersedia membayar untuk itu."

Selama tawar-menawar dalam pasar budak seks tersebut Jinan mengaku melihat para pria itu adalah orang Irak dan Suriah, tetapi juga orang Barat yang kewarganegaraannya tidak diketahuinya. Gadis-gadis paling cantik biasanya disediakan untuk para bos atau klien kaya dari negara-negara Teluk.

Setelah terjual, hari-hari Jinan diisi oleh kunjungan para pria ke rumah di mana dia dipenjarakan dengan wanita lainnya.

Penderitaan itu belum berakhir... (Ism)

1 dari 1 halaman

Pistol untuk yang Berambut Merah

Militan membeli budak-budak yang dipajang di ruang tersebut sementara pedagang bertindak sebagai perantara antara pemilik dan emir yang 'melihat-lihat ternak', tulis Jinan dalam buku yang disusun dengan bantuan wartawan Prancis Thierry Oberle.

" Saya akan menukar yang berambut merah dengan pistol Beretta Anda," kata salah satu pedagang. " Jika Anda lebih memilih untuk membayar tunai, harganya US$ 150. Anda juga bisa membayar pakai dinar Irak."

Yakin Jinan tidak mengerti bahasa Arab, dua pemiliknya berbicara dengan bebas di depannya. Dan satu malam Jinan mendengar percakapan mereka yang mengungkapkan bahwa perdagangan budak seks ini akan dijadikan ladang bisnis.

" Seorang pria tidak bisa membeli lebih dari tiga wanita, kecuali dia adalah dari negara Suriah, Turki atau negara Teluk lainnya," kata pemilik Jinan bernama Abou Omar.

" Ini bagus untuk bisnis," jawab yang lain, Abou Anas. " Seorang pembeli Saudi memiliki transportasi dan makanan yang anggota Negara Islam tidak punya. Dia memiliki kuota lebih tinggi untuk melakukan pembelian. Ini bisnis bagus, Negara Islam akan bisa meningkatkan keuntungannya."

Setelah berhasil melarikan diri menggunakan satu set kunci yang dicuri, Jinan kembali ke suaminya dan sekarang tinggal di sebuah kamp pengungsi Yazidi di Kurdistan, Irak.

" Jika kami kembali ke rumah, akan ada genosida lainnya. Satu-satunya solusi adalah bahwa kami memiliki suatu wilayah untuk diri kami sendiri, di bawah perlindungan internasional," katanya.

(Sumber: Al Arabiya)

Beri Komentar