Kampung Kusamba (Yadi Yasin-www.flicker.com)
Dream - Jika berkunjung ke Kampung Kusamba, Bali, jangan heran melihat banyak perempuan berhijab. Jangan heran pula bila bertemu dengan pria-pria berkopiah putih. Sebuah pemandangan yang sama sekali berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Pulau Dewata.
Kampung yang terletak di Klungkung itu memang wilayah dengan mayoritas penduduk muslim. Inilah kampung muslim yang terletak di tanah Bali bagian timur. Islam telah dianut banyak penduduk di kampung ini selama ratusan tahun lalu.
Masyarakat muslim mengenakan atribut-atribut itu untuk membedakan mereka dengan penganut agama lain, yang banyak memeluk Hindu. Meski demikian, penganut Islam dan Hindu di Kampung Kusamba bisa hidup rukun sejak berabad-abad silam.
Harmoni kehidupan kedua keyakinan ini memang telah terjalin erat di sini. Apalagi, tak jarang terjadi pernikahan di antara mereka. Sehingga, ada budaya Islam yang juga terpengaruh kebiasaan setempat, salah satunya soal nama.
Jangan heran jika Anda mengenal nama Wayan, Ketut, Kadek, maupun Nengah, tapi beragama Islam. Atau juga gabungan nama Islam dan lokal, semisal Wayan Mohammad Syaefullah yang menjadi salah satu tokoh masyarakat di sana. Ini terjadi karena telah terjadi akulturasi budaya yang cukup lama.
Kampung Kusamba dikenal banyak menyimpan sejarah penyebaran Islam di Bali. Di wilayah yang dulu terkenal karena produk garamnya ini, ada makam Habib Ali Bin Abubakar Bin Umar Bin Abubakar Al Khamid. Letaknya tepat di pesisir Pantai Kusamba. Hingga kini, makam itu banyak dikunjungi peziarah.

Makam Habib Ali
Sumber: www.kampung-kusamba.blogspot.com
Tokoh ini diyakini sebagai penyebar Islam di Bali. Konon, Habib Ali juga sangat dekat dengan keluarga Kerajaan Gelgel. Bahkan, dia ditunjuk untuk menduduki jabatan sebagai penerjemah atau ahli bahasa yang bertugas mengajarkan bahasa Melayu kepada raja yang saat itu dipimpin oleh Raja Dewa Agung Jambe.
Selain makam Habib Ali, jejak-jejak penyebaran Islam di perkampungan nelayan ini juga bisa dilihat dari Alquran kuno yang diyakini ditulis tangan oleh ulama asal Bugis. Alquran yang ditemukan itu merupakan salah satu dari tiga kitab yang diyakini ditulis tangan oleh sang ulama.
Namun sayang, belum terungkap jati diri penulis Alquran tersebut. Yang jelas, Alquran yang ditemukan itu masih tersimpan baik di Kantor Kepala Desa Kusamba, meski kondisi fisiknya memprihatinkan. (Ism, Dari berbagai sumber)
Advertisement
AI Kini Jadi Penasihat Kecantikan Baru, Ungkap Studi Maverick Indonesia

Thrifting Favorit Gen Z, Tonjolkan Personal Style dan Ekonomi Sirkular

Sraya Nusa Buka Babak Baru Diadona.id, Bangun Ruang Kolaborasi Untuk Perempuan Indonesia

Sehari dalam Kehidupan Purbaya

XLSMART Raih Apresiasi Perempuan Berpengaruh 2026 Kategori Future Forward Lewat Sisternet


8 Cara Membantu Anak Mengembangkan Kecerdasan Intelektual dan Emosional

Cara Mudah Membedakan Buah dan Sayuran Berdasarkan Ilmu Botani

Jejak Purbaya Setahun Jadi Menkeu: 'To the Moon', 'Masih Bisa Senyum', Akhirnya 'Sudah Mati'

8 Cara Sederhana Tetap Aktif Bergerak meski Seharian Bekerja di Kantor

Kisah Elisabeth dan 5 Anaknya Tinggal di Huntara Usai Gempa NTT, Menanti Rumah Baru

Skaer Clinic Resmi Buka Cabang di Tebet, Hadirkan Layanan Estetik hingga Bedah Minor

Mengapa Permen Bebas Gula Bikin Sering Kentut dan Buang Air Besar? Ini Penjelasannya