Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Kampung Kusamba (Yadi Yasin-www.flicker.com)
Dream - Jika berkunjung ke Kampung Kusamba, Bali, jangan heran melihat banyak perempuan berhijab. Jangan heran pula bila bertemu dengan pria-pria berkopiah putih. Sebuah pemandangan yang sama sekali berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Pulau Dewata.
Kampung yang terletak di Klungkung itu memang wilayah dengan mayoritas penduduk muslim. Inilah kampung muslim yang terletak di tanah Bali bagian timur. Islam telah dianut banyak penduduk di kampung ini selama ratusan tahun lalu.
Masyarakat muslim mengenakan atribut-atribut itu untuk membedakan mereka dengan penganut agama lain, yang banyak memeluk Hindu. Meski demikian, penganut Islam dan Hindu di Kampung Kusamba bisa hidup rukun sejak berabad-abad silam.
Harmoni kehidupan kedua keyakinan ini memang telah terjalin erat di sini. Apalagi, tak jarang terjadi pernikahan di antara mereka. Sehingga, ada budaya Islam yang juga terpengaruh kebiasaan setempat, salah satunya soal nama.
Jangan heran jika Anda mengenal nama Wayan, Ketut, Kadek, maupun Nengah, tapi beragama Islam. Atau juga gabungan nama Islam dan lokal, semisal Wayan Mohammad Syaefullah yang menjadi salah satu tokoh masyarakat di sana. Ini terjadi karena telah terjadi akulturasi budaya yang cukup lama.
Kampung Kusamba dikenal banyak menyimpan sejarah penyebaran Islam di Bali. Di wilayah yang dulu terkenal karena produk garamnya ini, ada makam Habib Ali Bin Abubakar Bin Umar Bin Abubakar Al Khamid. Letaknya tepat di pesisir Pantai Kusamba. Hingga kini, makam itu banyak dikunjungi peziarah.

Makam Habib Ali
Sumber: www.kampung-kusamba.blogspot.com
Tokoh ini diyakini sebagai penyebar Islam di Bali. Konon, Habib Ali juga sangat dekat dengan keluarga Kerajaan Gelgel. Bahkan, dia ditunjuk untuk menduduki jabatan sebagai penerjemah atau ahli bahasa yang bertugas mengajarkan bahasa Melayu kepada raja yang saat itu dipimpin oleh Raja Dewa Agung Jambe.
Selain makam Habib Ali, jejak-jejak penyebaran Islam di perkampungan nelayan ini juga bisa dilihat dari Alquran kuno yang diyakini ditulis tangan oleh ulama asal Bugis. Alquran yang ditemukan itu merupakan salah satu dari tiga kitab yang diyakini ditulis tangan oleh sang ulama.
Namun sayang, belum terungkap jati diri penulis Alquran tersebut. Yang jelas, Alquran yang ditemukan itu masih tersimpan baik di Kantor Kepala Desa Kusamba, meski kondisi fisiknya memprihatinkan. (Ism, Dari berbagai sumber)
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


6 Tips agar Perjalanan dengan Bayi Lebih Nyaman dan Minim Drama

Pembalut dan Buku Kena Pajak, Barang Apa Lagi yang Tanpa Sadar Dipajaki?

Kebiasaan Ngemil Setelah Makan Malam Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Hati hingga 30 Persen

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?


Mengapa Tempat Sepi seperti Lorong Kosong Bisa Terasa Menyeramkan? Ini Penjelasan Psikologinya

Penelitian Ungkap Protein Bisa Bantu Membersihkan Sisa Sel dan Kurangi Tanda Peradangan