Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya
© Pexels.com/Allan Mas
Reporter : Abidah
Penyebabnya bukan hanya udara yang tertelan saat mengunyah, tetapi juga kandungan pemanis tertentu dalam permen karet, terutama produk bebas gula.
DREAM.CO.ID - Mengunyah permen karet sering menjadi kebiasaan untuk menyegarkan napas, menghilangkan rasa tidak nyaman di mulut, atau sekadar mengisi waktu luang. Namun, kebiasaan sederhana ini ternyata bisa membuat seseorang lebih sering buang angin. Penyebabnya bukan hanya udara yang tertelan saat mengunyah, tetapi juga kandungan pemanis tertentu dalam permen karet, terutama produk bebas gula.
Dilansir dari Sciencing, ada dua mekanisme utama yang menghubungkan kebiasaan mengunyah permen karet dengan meningkatnya produksi gas di saluran pencernaan. Keduanya berkaitan dengan cara tubuh menelan udara dan memproses bahan pemanis yang sulit dicerna.
1. Mengunyah Permen Karet Membuat Lebih Banyak Udara Tertelan
Tanpa disadari, manusia menelan udara sepanjang hari, terutama ketika makan dan minum. Dalam istilah medis, kondisi menelan udara secara berlebihan disebut aerophagia. Kebiasaan makan terlalu cepat dan mengonsumsi minuman berkarbonasi dapat meningkatkan jumlah udara yang masuk ke saluran pencernaan.
Udara berlebih tersebut harus dikeluarkan dari tubuh. Sebagian keluar melalui sendawa, tetapi sebagian lainnya dapat bergerak ke saluran pencernaan bagian bawah dan akhirnya keluar sebagai kentut.
Mengunyah permen karet dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya aerophagia karena aktivitas mengunyah membuat seseorang menelan kantong-kantong udara kecil. Jika dilakukan berulang kali dalam waktu lama, udara yang terkumpul bisa menimbulkan rasa penuh, kembung, dan ketidaknyamanan pada perut.
Meski demikian, sering buang angin tidak selalu menandakan adanya gangguan kesehatan. Menurut artikel tersebut, hingga 25 kali sehari masih dapat dianggap sebagai frekuensi yang normal. Namun, penumpukan gas dalam jumlah besar bisa membuat perut terasa sakit atau menimbulkan situasi yang memalukan, terutama ketika seseorang sedang berada dalam rapat atau pertemuan penting.
2. Permen Karet Bebas Gula Bisa Memicu Produksi Gas
Selain udara yang tertelan, kandungan permen karet juga dapat memengaruhi jumlah gas dalam saluran pencernaan. Perhatian khusus perlu diberikan pada permen karet bebas gula yang menggunakan pemanis dari kelompok alkohol gula atau sugar alcohols.
Beberapa jenis pemanis yang umum digunakan adalah sorbitol, xylitol, dan erythritol. Bahan-bahan tersebut memberikan rasa manis tanpa menggunakan gula biasa. Namun, sebagian alkohol gula tidak sepenuhnya dicerna atau diserap di usus halus.
Akibatnya, bahan tersebut dapat mencapai usus besar dan difermentasi oleh bakteri di dalamnya. Proses fermentasi ini menghasilkan gas yang dapat meningkatkan perut kembung dan frekuensi buang angin. Pada sebagian orang, konsumsi alkohol gula juga dapat memicu keluhan pencernaan lain, seperti diare.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition pada 2006 membandingkan dampak xylitol dan erythritol terhadap sistem pencernaan, termasuk keluhan mual, kembung, dan tinja berair. Hasilnya menunjukkan bahwa xylitol memberikan dampak pencernaan yang lebih besar dibandingkan erythritol, yang cenderung dapat ditoleransi dengan baik, terutama dalam dosis kecil.
Respons setiap orang terhadap pemanis tersebut dapat berbeda. Jumlah yang dikonsumsi juga berpengaruh terhadap kemungkinan munculnya gejala.
3. Tidak Perlu Berhenti Mengunyah Permen Karet Sepenuhnya
Jika permen karet diduga menjadi pemicu kembung dan sering buang angin, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengurangi frekuensi mengunyahnya. Perhatikan pula apakah keluhan muncul setelah mengonsumsi produk bebas gula tertentu.
Alkohol gula tidak hanya ditemukan dalam permen karet, tetapi juga dalam berbagai makanan olahan berlabel bebas gula. Karena itu, membaca daftar komposisi dapat membantu mengenali bahan yang mungkin memicu keluhan. Mengurangi konsumsi produk dengan sorbitol atau xylitol bisa menjadi langkah yang patut dicoba apabila keluhan berkaitan dengan pemanis tersebut.
Namun, beralih ke permen karet bergula bukan solusi yang ideal. Rata-rata orang dewasa di Amerika Serikat mengonsumsi sekitar 22 sendok teh gula tambahan per hari, jauh di atas batas yang direkomendasikan dalam sumber tersebut, yakni enam sendok teh untuk perempuan dan sembilan sendok teh untuk laki-laki.
Alternatifnya, pilih permen karet dengan jenis pemanis yang lebih dapat ditoleransi tubuh atau kurangi jumlah yang dikonsumsi. Jika tujuan utamanya menyegarkan napas, mengunyah herba segar juga bisa menjadi pilihan. Sementara itu, biji-bijian dapat menjadi alternatif bagi orang yang menyukai aktivitas mengunyah, meskipun jenis dan porsinya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan.
Pada akhirnya, kebiasaan mengunyah permen karet tidak selalu harus dihentikan. Mengenali pemicu, memperhatikan komposisi produk, dan mengurangi konsumsi secara bertahap dapat membantu mengendalikan keluhan. Jika perut kembung atau buang angin berlebihan terus berlangsung, terasa nyeri, atau disertai perubahan pola buang air besar, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis untuk mengetahui kemungkinan penyebab lainnya.