Sering Dikira Makanan Sehat, Sejumlah Makanan dan Minuman Ini Ternyata Makanan Olahan

Lifestyle | Minggu, 23 Agustus 2026 06:00

Reporter : Abidah

Sejumlah makanan yang dikenal sehat ternyata merupakan makanan olahan yang bisa berdampak buruk jika konsumsinya tak tepat.

DREAM.CO.ID - Ketika ingin menjalani pola makan yang lebih sehat, banyak orang mulai memilih makanan dengan label seperti "alami", "rendah lemak", "berbahan nabati", atau "tanpa bahan pengawet". Masalahnya, penampilan dan citra sebuah produk tidak selalu menggambarkan seberapa jauh makanan tersebut telah mengalami pemrosesan.

Beberapa makanan dan minuman bahkan sering dianggap lebih sehat hanya karena memiliki kesan alami. Padahal, sebagian di antaranya merupakan makanan olahan, bahkan ada yang dapat masuk kategori ultra-processed food (UPF), tergantung bahan dan proses pembuatannya.

Penting untuk memahami bahwa makanan olahan tidak selalu berarti makanan tidak sehat. Pengolahan seperti memasak, membekukan, fermentasi, pasteurisasi, atau pengalengan dapat membantu membuat makanan lebih aman dan tahan lama. Yang perlu diperhatikan adalah jenis pengolahan, bahan tambahan, serta komposisi produk secara keseluruhan.

Berikut beberapa makanan dan minuman yang sering disalahpahami sebagai makanan sehat atau alami.

1. Granola

Granola sering menjadi pilihan sarapan karena identik dengan gandum, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah kering. Bahan-bahan tersebut memang dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.

Namun, tidak semua granola memiliki komposisi yang sama. Sebagian produk mengandung tambahan gula, sirup, minyak, cokelat, atau pemanis dalam jumlah cukup tinggi.

Karena itu, jangan hanya melihat gambar gandum dan kacang pada bagian depan kemasan. Periksa daftar bahan dan informasi nilai gizi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terdapat dalam produk.

2. Yogurt dengan Rasa Buah

Yogurt sering dianggap sebagai makanan sehat karena mengandung protein dan, pada produk tertentu, bakteri hidup yang mendukung kesehatan pencernaan.

Namun, yogurt rasa buah berbeda dengan yogurt tawar. Produk dengan rasa buah dapat mengandung tambahan gula, pemanis, perisa, pewarna, atau bahan lain untuk menghasilkan rasa dan tekstur tertentu.

Bukan berarti yogurt rasa buah harus dihindari. Namun, jika ingin pilihan yang lebih sederhana, yogurt tawar dapat menjadi alternatif yang kemudian diberi buah segar sendiri.

2 dari 4 halaman

3. Susu Nabati

Susu kedelai, susu almond, susu oat, dan berbagai minuman nabati lainnya sering dipromosikan sebagai alternatif sehat untuk susu sapi.

Akan tetapi, produk tersebut merupakan hasil pengolahan dan formulasi industri. Beberapa produk dapat mengandung gula tambahan, minyak, garam, penstabil, pengemulsi, vitamin dan mineral tambahan, serta bahan lainnya.

Karena itu, istilah "nabati" tidak otomatis berarti tidak diproses. Perhatikan apakah produk tersebut tanpa gula tambahan dan bagaimana daftar bahannya.

4. Jus Buah Kemasan

Buah memang merupakan makanan yang kaya vitamin, mineral, dan komponen penting lainnya. Namun, mengonsumsi buah utuh tidak selalu sama dengan minum jus buah kemasan.

Dalam proses produksi, buah dapat dihancurkan, disaring, dipanaskan, dikonsentrasikan, lalu dikemas. Produk tertentu juga dapat memperoleh tambahan gula atau bahan lainnya.

Karena itu, label "100 persen jus buah" perlu dibaca bersama informasi nutrisi dan ukuran porsinya. Buah utuh tetap memberikan keuntungan berupa serat dan proses mengunyah yang tidak selalu diperoleh dalam jumlah sama dari jus.

5. Protein Bar

Protein bar sering dianggap sebagai makanan sehat karena mengandung protein dan dipasarkan kepada orang yang aktif berolahraga.

Namun, produk ini pada dasarnya merupakan makanan yang diformulasikan untuk memberikan komposisi nutrisi tertentu dalam bentuk yang praktis. Beberapa produk juga mengandung sirup, pemanis, perisa, lemak, dan berbagai bahan tambahan.

Protein bar dapat berguna ketika membutuhkan makanan praktis, tetapi tidak otomatis lebih sehat daripada makanan utuh hanya karena mencantumkan kata "protein" pada kemasan.

3 dari 4 halaman

6. Sereal Sarapan

Sereal sering dikaitkan dengan sarapan praktis dan bergizi. Namun, kandungan nutrisi antarproduk dapat sangat berbeda.

Sereal yang terbuat dari biji-bijian sederhana tidak sama dengan sereal yang diberi banyak gula, perisa, pewarna, dan bahan tambahan lainnya. Produk yang ditujukan kepada anak-anak bahkan sering memiliki rasa manis yang membuatnya lebih menarik.

Karena itu, jangan berhenti pada klaim seperti "mengandung vitamin" atau "sumber serat". Lihat kandungan gula dan daftar bahan secara keseluruhan.

7. Daging Olahan

Daging merupakan sumber protein, tetapi ketika daging diproses menjadi sosis, nugget, kornet, ham, atau produk sejenis, karakteristiknya berubah.

Daging olahan dapat melalui proses seperti pengasapan, penggaraman, fermentasi, atau penambahan bahan pengawet. Beberapa produk juga diformulasikan dengan berbagai bahan tambahan.

Produk semacam ini memang praktis, tetapi sebaiknya tidak disamakan dengan potongan daging segar yang hanya dimasak di rumah.

8. Keripik dan Camilan "Sehat"

Kini semakin banyak camilan yang menggunakan klaim seperti "berbahan sayuran", "panggang", "gluten-free", atau "tanpa pengawet". Klaim tersebut dapat membuat sebuah produk terlihat lebih sehat.

Namun, bahan utama dan keseluruhan formulasi tetap perlu diperhatikan. Keripik yang dibuat dari sayuran tetap dapat menjadi makanan yang diproses apabila bahan tersebut telah melalui berbagai tahapan pengolahan dan ditambahkan minyak, garam, perisa, atau bahan lainnya.

Nama bahan utamanya tidak otomatis menentukan kualitas keseluruhan produk.

4 dari 4 halaman

Makanan Olahan Tidak Selalu Harus Dihindari

Kesalahpahaman yang juga perlu diluruskan adalah menganggap semua makanan olahan buruk bagi kesehatan. Faktanya, manusia telah mengolah makanan selama ribuan tahun. Memasak, menggiling, fermentasi, pengeringan, dan pengawetan bahkan merupakan bagian penting dari sejarah pangan manusia.

Persoalannya adalah ketika seseorang terlalu bergantung pada produk yang tinggi gula tambahan, garam, lemak tertentu, atau memiliki formulasi yang sangat kompleks, sementara konsumsi makanan utuh seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sumber protein yang minim pemrosesan justru rendah.

Jadi, jangan menilai makanan hanya berdasarkan label "sehat", gambar buah dan sayuran, atau klaim "alami" pada kemasan. Sebaliknya, biasakan membaca daftar bahan dan informasi gizi.

Pada akhirnya, makanan yang terlihat sehat belum tentu memiliki komposisi yang sederhana. Sebaliknya, makanan yang mengalami proses tertentu juga belum tentu buruk. Yang lebih penting adalah memahami apa yang diproses, bagaimana makanan tersebut diproses, apa saja yang ditambahkan, dan seberapa sering makanan tersebut dikonsumsi.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id