Apa yang Masih Bisa Dilakukan Manusia yang Tak Bisa Dilakukan AI?
© Pexels.com/Tara Winstead
Reporter : Abidah
Schaffner menilai keterampilan manusia sebaiknya tidak didefinisikan sekadar sebagai kemampuan yang belum dikuasai AI.
DREAM.CO.ID - Kecerdasan buatan atau AI semakin mampu mengerjakan berbagai hal yang selama ini dianggap sebagai keunggulan manusia. Mulai dari menganalisis informasi, mengenali pola, menggunakan bahasa hingga memecahkan masalah, kemampuan yang dulu menjadi pembeda manusia kini juga dapat dilakukan mesin dengan tingkat kecanggihan yang terus berkembang.
Kondisi ini membuat istilah “human skills” atau keterampilan manusia mendapatkan makna baru. Menurut Anna Katharina Schaffner, Ph.D., burnout dan executive coach sekaligus penulis Exhausted: An A-Z for the Weary, istilah tersebut sebelumnya banyak digunakan untuk menggambarkan kemampuan sosial dan emosional, seperti berkomunikasi, bekerja sama, memahami orang lain, dan memotivasi. Namun, di tengah dunia kerja yang semakin dipenuhi AI, istilah itu kini juga digunakan untuk menyebut keunggulan manusia dibandingkan mesin.
Manusia kini menjadi generasi pertama yang bekerja dalam lingkungan yang tidak lagi sepenuhnya dihuni manusia. AI dapat menjadi “rekan kerja” yang tidak terlihat, sementara pada saat yang sama manusia juga bisa bersaing dengan sistem AI untuk pekerjaan tertentu. Bahkan, organisasi tidak lagi hanya perlu memikirkan interaksi antarmanusia, tetapi juga hubungan antara manusia dan agen AI maupun interaksi antarsistem AI.
Menurut Schaffner, perubahan tersebut membuat manusia kembali mempertanyakan apa yang sebenarnya masih dapat mereka lakukan dengan cara yang berbeda dari AI. Kemampuan kognitif seperti penalaran, analisis, pengenalan pola, bahasa, dan pemecahan masalah semakin sulit digunakan sebagai garis pemisah karena AI justru sangat kuat dalam bidang-bidang tersebut.
Karena itu, perhatian kemudian bergeser kepada kecerdasan emosional dan sosial. Manusia memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain, mengatur emosi, berempati, menjalin hubungan, serta menghadapi dinamika kelompok. Selain itu, kreativitas, penilaian, metakognisi, penalaran moral, imajinasi, penciptaan makna, serta kecerdasan yang berasal dari pengalaman tubuh juga menjadi bagian dari kemampuan yang dianggap penting.
Namun, Schaffner menawarkan satu kemampuan lain yang disebutnya Story Intelligence atau kecerdasan memahami cerita. Konsep ini bukan sekadar kemampuan membuat cerita menarik, melainkan kemampuan untuk mengenali, menafsirkan, mempertanyakan, dan secara sadar membentuk kembali cerita yang memengaruhi emosi dan perilaku manusia.
Manusia pada dasarnya terus menyusun realitas menjadi cerita. Seseorang memilih informasi tertentu, menentukan apa yang dianggap penting, menghubungkan berbagai peristiwa sebagai sebab dan akibat, memberi motif kepada orang lain, lalu menafsirkan maknanya. Proses serupa juga terjadi secara kolektif. Keluarga, organisasi, bahkan bangsa memiliki cerita mengenai siapa mereka, apa yang dianggap penting, siapa yang disalahkan, dan masa depan seperti apa yang dianggap mungkin.
AI memang dapat menghasilkan cerita dengan cepat, meniru gaya tertentu, bahkan menawarkan berbagai interpretasi. Namun, menurut Schaffner, manusia memiliki kemampuan untuk melihat cerita sebagai sebuah konstruksi, memeriksa asumsi di baliknya, memahami pengaruhnya terhadap perilaku, kemudian mengubahnya ketika cerita tersebut tidak lagi membantu. Kemampuan ini berkaitan dengan metakognisi dan kecerdasan budaya.
Perbedaan lainnya terletak pada konsekuensi. Manusia adalah makhluk yang memiliki tubuh, riwayat hidup, budaya, tempat, dan berada dalam konteks sejarah tertentu. Manusia memiliki keinginan, kebutuhan, ketakutan, keterikatan, serta kesadaran bahwa hidupnya terbatas. Karena itu, keputusan memiliki taruhan nyata.
“AI dapat menganalisis kesedihan. Kita dapat berduka. AI dapat menggambarkan keinginan. Kita dapat menginginkannya. AI dapat memodelkan percakapan yang sulit. Kita harus menjalaninya,” tulis Schaffner.
Hal yang sama berlaku terhadap cerita tentang kehidupan. AI dapat menghasilkan narasi mengenai siapa manusia, apa arti sebuah peristiwa, atau apa yang sebaiknya dilakukan berikutnya. Tetapi manusialah yang harus menjalani cerita tersebut beserta konsekuensinya.
Karena itu, Schaffner menilai keterampilan manusia sebaiknya tidak didefinisikan sekadar sebagai kemampuan yang belum dikuasai AI. Definisi semacam itu akan membuat manusia terus mengejar perkembangan teknologi. Keterampilan manusia justru berkaitan dengan kemampuan yang muncul dari sifat manusia yang bertubuh, emosional, relasional, dan mampu menciptakan makna: menggunakan penilaian, menghadapi ketidakpastian, membangun hubungan, menciptakan makna, serta bertanggung jawab atas tindakan.