Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’

News | Selasa, 13 Oktober 2026 06:00

Reporter : Abidah

Liking gap adalah kecenderungan seseorang menganggap dirinya kurang disukai orang lain dibandingkan kenyataannya.

DREAM.CO.ID - Pernah merasa seseorang sebenarnya tidak menyukai Anda, tetapi beberapa waktu kemudian justru mendapat undangan dari orang tersebut atau mendengar bahwa ia mengatakan hal positif tentang Anda? Pengalaman seperti ini mungkin menunjukkan adanya “liking gap”, yaitu kecenderungan seseorang menganggap dirinya kurang disukai orang lain dibandingkan kenyataannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri dalam situasi sosial tidak selalu sama dengan cara orang lain melihatnya. Kita bahkan dapat meninggalkan sebuah percakapan dengan perasaan telah mengatakan sesuatu yang salah, terlalu canggung, atau kurang menarik, sementara lawan bicara justru menikmati interaksi tersebut.

Menurut psikolog Deborah Serani, PsyD, otak sosial manusia cenderung lebih sibuk menganalisis kesalahan yang dirasakan daripada memperhatikan hal-hal yang berjalan dengan baik. Fokus berlebihan pada apa yang dianggap salah kemudian dapat memicu kritik terhadap diri sendiri yang tidak realistis.

Sebuah penelitian pada 2018 mengamati fenomena ini dalam beberapa situasi, mulai dari orang asing yang baru berkenalan di laboratorium, mahasiswa tahun pertama yang mengenal teman satu asrama, hingga orang-orang yang bertemu dalam lokakarya pengembangan diri. Setelah berinteraksi, peserta cenderung meremehkan seberapa besar lawan bicara menyukai mereka dan menikmati kebersamaan tersebut.

Yang menarik, kesenjangan persepsi itu tidak langsung menghilang. Dalam penelitian tersebut, liking gap masih bertahan selama beberapa bulan ketika para peserta mulai membangun hubungan baru. Artinya, seseorang bisa saja disukai lebih banyak daripada yang ia sadari.

2 dari 3 halaman

Fenomena serupa bahkan ditemukan sejak masa kanak-kanak. Penelitian pada 2021 terhadap anak berusia 4 hingga 11 tahun menemukan bahwa anak-anak mulai usia 5 tahun sudah dapat menganggap teman-teman mereka kurang menyukai mereka dibandingkan kenyataan. Seiring bertambahnya usia, kesenjangan tersebut semakin terlihat.

Ada sejumlah faktor yang dapat membuat liking gap terasa lebih kuat. Salah satunya adalah pengalaman dan keyakinan yang terbentuk sejak kecil. Orang yang tumbuh dalam lingkungan tertentu dapat belajar bahwa menunjukkan diri apa adanya berisiko membuat dirinya ditolak. Keyakinan tersebut kemudian dapat terbawa hingga dewasa.

Faktor lain adalah proyeksi, ketika seseorang mengambil sesuatu yang tidak disukai dari dirinya sendiri lalu secara tidak sadar menganggap orang lain juga tidak menyukainya. Jika seseorang sesekali tidak menyukai dirinya sendiri, misalnya, ia mungkin kesulitan mempercayai ketika orang lain mengatakan bahwa mereka menyukainya.

Harga diri yang rendah juga dapat memperkuat pola tersebut. Orang cenderung lebih keras kepada dirinya sendiri dibandingkan kepada orang lain. Kesalahan kecil yang dapat dimaklumi ketika dilakukan orang lain justru dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.

3 dari 3 halaman

Kecemasan sosial dapat membuat liking gap semakin kuat. Seseorang mungkin terus memutar ulang percakapan di kepalanya selama berjam-jam atau berhari-hari setelah interaksi berakhir, mencari kesalahan yang mungkin terjadi. Ia juga dapat berulang kali meminta kepastian dari teman atau pasangan bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang salah.

Masalahnya, keyakinan bahwa orang lain tidak menyukai kita dapat memengaruhi cara kita berperilaku. Seseorang menjadi lebih cemas, sulit bersikap santai, atau tidak sepenuhnya menunjukkan dirinya dalam interaksi. Pada akhirnya, perilaku tersebut justru dapat membuat orang lain menjauh dan menciptakan semacam self-fulfilling prophecy.

Untuk menghadapinya, salah satu pendekatan yang disarankan adalah membangun kepercayaan diri melalui pengalaman. Seseorang dapat mencoba melakukan hal-hal sosial yang biasanya dihindari karena takut dinilai. Ketika berhasil melewati situasi tersebut, persepsi terhadap kemampuan diri dapat ikut berubah.

Selain itu, penting untuk mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, mengembangkan self-compassion, serta memperhatikan ketergantungan emosional pada validasi orang lain. Menulis jurnal berisi afirmasi positif juga disebut dapat membantu membangun penerimaan terhadap diri sendiri.

Pada akhirnya, merasa tidak disukai bukan selalu bukti bahwa orang lain benar-benar tidak menyukai kita. Bisa jadi, penilaian tersebut merupakan hasil dari cara kita melihat diri sendiri. Mengenali liking gap dapat menjadi langkah awal untuk mempertanyakan kembali asumsi sosial yang selama ini dianggap sebagai fakta.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id