Bisakah Kita Terus Bertambah Pintar saat Usia Bertambah? Neuroplastisitas Otak Dewasa
© Pexels.com/Andrea Piacquadio
Reporter : Abidah
Selama otak terus mendapatkan pengalaman, tantangan, dan kesempatan untuk belajar, proses perubahan itu masih dapat berlangsung.
DREAM.CO.ID - Pernah merasa sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu yang benar-benar baru? Misalnya, belajar bahasa asing, memainkan alat musik, memahami program komputer, atau bahkan kembali kuliah setelah bertahun-tahun bekerja. Anggapan bahwa otak semakin "kaku" seiring bertambahnya usia cukup umum. Padahal, otak manusia ternyata tidak berhenti berubah setelah seseorang melewati masa kanak-kanak.
Kemampuan otak untuk berubah sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, dan lingkungan disebut neuroplastisitas. Sederhananya, otak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan apa yang terus kita lakukan. Kemampuan ini memang berubah seiring usia, tetapi tidak menghilang ketika seseorang menjadi dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa otak orang dewasa, termasuk pada usia lanjut, masih memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan membentuk pola kerja baru.
Otak Bukan Mesin yang Berhenti Berkembang
Saat belajar sesuatu yang baru, otak tidak sekadar menyimpan informasi seperti memasukkan file ke dalam komputer. Aktivitas belajar dapat mengubah cara berbagai bagian otak saling berkomunikasi. Hubungan antarsel saraf dapat diperkuat, sementara otak juga dapat menggunakan jalur atau strategi lain untuk menyelesaikan suatu tugas.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang yang terus berlatih dapat menjadi semakin mahir. Bermain gitar, misalnya, pada awalnya mungkin terasa sangat sulit. Jari sering salah menekan senar dan otak membutuhkan waktu untuk mengoordinasikan gerakan. Setelah berlatih berulang kali, gerakan tersebut menjadi lebih otomatis.
Proses seperti ini merupakan bagian dari neuroplastisitas. Tinjauan penelitian tentang kemampuan belajar manusia menunjukkan bahwa pengalaman dan latihan dapat menghasilkan perubahan pada kemampuan perseptual, kognitif, maupun motorik.
Apakah Otak Dewasa Masih Bisa Belajar Cepat?
Bisa, tetapi ada perbedaan antara bisa belajar dan belajar dengan cara yang sama seperti saat masih muda.
Seiring bertambahnya usia, beberapa kemampuan kognitif memang dapat mengalami perubahan. Kecepatan memproses informasi, misalnya, dapat menurun. Menghafalkan sesuatu yang benar-benar baru mungkin juga terasa lebih lambat dibandingkan ketika masih remaja.
Namun, manusia dewasa memiliki keunggulan lain: pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan menghubungkan informasi baru dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya. Karena itu, seseorang yang lebih tua belum tentu kalah dalam semua bentuk pembelajaran.
Penelitian mengenai penuaan kognitif juga menunjukkan bahwa orang dewasa yang lebih tua tetap memiliki potensi neuroplastisitas. Latihan kognitif dan aktivitas fisik dapat memengaruhi fungsi maupun struktur otak, meskipun besarnya manfaat berbeda-beda pada setiap orang.
Belajar dan Bergerak Sama-Sama Penting
Menariknya, menjaga otak tetap aktif tidak hanya berarti mengerjakan teka-teki atau membaca buku. Aktivitas fisik juga berhubungan dengan kesehatan otak.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa olahraga dapat mendukung fungsi kognitif pada orang dewasa yang menua. Aktivitas fisik dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan memengaruhi berbagai mekanisme biologis yang berkaitan dengan kemampuan otak beradaptasi. Namun, para peneliti juga menekankan bahwa manfaat olahraga terhadap kemampuan kognitif umumnya tidak bersifat ajaib dan dapat berbeda berdasarkan jenis latihan, kondisi seseorang, serta faktor lainnya.
Artinya, berjalan kaki secara rutin, berolahraga, belajar bahasa baru, membaca, memainkan alat musik, atau mencoba keterampilan baru dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan otak.
Bukan Berarti Kita Bisa Terus "Menaikkan IQ"
Ada satu hal yang perlu diluruskan. Neuroplastisitas bukan berarti seseorang bisa terus meningkatkan semua kemampuan otaknya tanpa batas hanya dengan belajar.
Kemampuan belajar tetap dipengaruhi usia, kesehatan, tidur, stres, pendidikan, lingkungan, motivasi, dan berbagai faktor biologis. Selain itu, manfaat latihan tertentu tidak selalu otomatis berpindah ke semua kemampuan lain. Seseorang yang sangat terampil memainkan gim tertentu, misalnya, belum tentu menjadi lebih pintar dalam seluruh aspek kehidupan.
Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa otak tetap memiliki kemampuan untuk berubah dan beradaptasi sepanjang kehidupan.
Konsep yang berkaitan dengan hal ini adalah cognitive reserve, yaitu kemampuan otak untuk mempertahankan fungsi kognitif meskipun mengalami perubahan akibat usia atau faktor lain. Aktivitas mental dan fisik sepanjang hidup diduga ikut berkontribusi terhadap cadangan kognitif tersebut.
Jadi, apakah kita masih bisa menjadi lebih pintar ketika usia bertambah? Ya, dalam arti kita masih bisa belajar, mengembangkan keterampilan, memperluas pengetahuan, dan membuat otak beradaptasi dengan pengalaman baru. Kita mungkin tidak belajar dengan kecepatan yang sama seperti ketika berusia 15 tahun, tetapi otak dewasa bukanlah otak yang sudah berhenti bekerja.
Bagi seseorang yang baru memasuki usia 20-an, pesan ini justru penting: tidak perlu merasa harus sudah menguasai semuanya sekarang. Belajar bukan perlombaan yang selesai ketika memasuki usia tertentu. Selama otak terus mendapatkan pengalaman, tantangan, dan kesempatan untuk belajar, proses perubahan itu masih dapat berlangsung.