Buang bin Muhammad Ali alias Ali Wallace, Asisten Alfred Russel Wallace yang Terlupakan
© Alfred Russel Wallace, Public Domain, Via Wikimedia Commons
Reporter : Abidah
Di balik perjalanan panjang Alfred Russle Wallace terdapat seorang pemuda Melayu yang jarang mendapatkan tempat dalam cerita besar sejarah sains. Ia dikenal Wallace hanya dengan nama Ali.
DREAM.CO.ID - Pada pertengahan abad ke-19, seorang naturalis Inggris bernama Alfred Russel Wallace berkeliling Kepulauan Melayu untuk mengumpulkan burung, serangga, mamalia, dan berbagai spesimen alam. Perjalanannya kelak melahirkan salah satu karya penting dalam sejarah ilmu pengetahuan, The Malay Archipelago, sekaligus ikut mengantarkan Wallace pada gagasan evolusi melalui seleksi alam.
Namun, di balik perjalanan panjang itu terdapat seorang pemuda Melayu dari Sarawak yang jarang mendapatkan tempat dalam cerita besar sejarah sains. Ia dikenal Wallace hanya dengan nama Ali. Dalam sejumlah tulisan dan proyek dokumenter modern, ia disebut Buang bin Muhammad Ali atau Buang bin Mohamed Ali, dan kemudian dikenal pula sebagai Ali Wallace.
Di sinilah kisahnya menjadi menarik. Sebab, penelitian akademik justru menunjukkan bahwa nama lengkap "Buang bin Muhammad Ali" tidak sesederhana yang sering ditulis dalam artikel populer. Sejumlah sumber primer yang ditinggalkan Wallace hanya menyebutnya sebagai Ali. Bahkan, penelitian terbaru mempertanyakan apakah "Buang bin Mohamed Ali" benar-benar merupakan nama historisnya atau nama yang muncul kemudian dalam proyek seni dan dokumenter.
Bertemu Wallace sebagai Pemuda
Wallace bertemu Ali di Sarawak pada 1855. Penelitian John van Wyhe dan Gerrell M. Drawhorn dalam Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society menyebut Ali kemungkinan berusia sekitar 15 tahun ketika mulai bekerja untuk Wallace. Ia merupakan pemuda Melayu Muslim dari lingkungan masyarakat Melayu di Sarawak, meskipun asal kelompok dan desa tepatnya tidak dapat dipastikan.
Ali pada awalnya bukan seorang ilmuwan atau kolektor spesimen. Ia direkrut sebagai pelayan dan juru masak. Wallace kemudian mengajarinya berbagai keterampilan yang dibutuhkan dalam ekspedisi.
Ali belajar menembak burung, menguliti spesimen, mengawetkannya, dan secara bertahap memahami pekerjaan pengumpulan sejarah alam. Ia juga merupakan seorang pengemudi perahu yang terampil dan memahami lingkungan lokal dengan cara yang tidak dimiliki Wallace.
Perubahan peran tersebut sangat penting. Penelitian van Wyhe dan Drawhorn menunjukkan bahwa Ali secara bertahap berkembang dari juru masak menjadi kolektor dan pengawet spesimen, sebelum akhirnya menjadi asisten utama atau "head man" Wallace.
Bukan Sekadar Pembantu
Selama ini, cerita mengenai ekspedisi ilmiah abad ke-19 sering menempatkan ilmuwan Eropa sebagai tokoh utama, sementara penduduk lokal hanya dianggap sebagai pembawa barang, pemandu, atau tenaga pendukung. Kisah Ali memperlihatkan bahwa pembagian tersebut terlalu sederhana.
Wallace sangat bergantung pada pengetahuan dan keterampilan Ali. Dalam My Life, Wallace mengenang Ali sebagai orang yang mampu mengemudikan perahu, memasak, menghadapi berbagai kesulitan perjalanan, serta mengajari anggota tim lain mengenai tugas mereka. Wallace juga menggambarkan hubungan kepercayaan yang semakin kuat di antara keduanya.
Bahkan, penelitian 2015 menyimpulkan bahwa kontribusi Ali tidak hanya terletak pada pengumpulan burung. Pengetahuannya mengenai lingkungan dan masyarakat di Kepulauan Melayu turut membantu Wallace memahami kawasan yang sedang ditelitinya. Ia mungkin bahkan mengumpulkan sebagian besar spesimen burung Wallace.
Wallace sendiri mengumpulkan bersama timnya sekitar 125.660 spesimen sejarah alam selama ekspedisi di Asia Tenggara antara 1854 dan 1862. Koleksi tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi karya ilmiahnya.
Dari Sarawak ke Dunia Kepulauan Melayu
Ali menemani Wallace dalam sebagian besar perjalanan ekspedisinya. Mereka bergerak dari Sarawak ke Singapura, kemudian menuju sejumlah wilayah di Nusantara, termasuk Lombok, Sulawesi, Kepulauan Aru, dan Maluku.
Di Lombok, misalnya, catatan Wallace memperlihatkan bahwa Ali awalnya masih menjalankan pekerjaan domestik seperti memasak, mencari kayu, dan mengambil air. Setelah pembantu lain meninggalkan Wallace, kemampuan Ali menguliti burung mulai semakin dibutuhkan. Wallace mencatat bahwa Ali telah belajar melakukan pekerjaan tersebut dan kemudian akan lebih banyak dilibatkan dalam pengumpulan spesimen.
Perubahan itu berlangsung secara bertahap. Ali bukan seseorang yang tiba-tiba datang sebagai "ilmuwan lapangan", melainkan belajar melalui pengalaman langsung selama ekspedisi.
Dalam konteks sejarah ilmu pengetahuan, hal ini menarik karena memperlihatkan bahwa proses menghasilkan pengetahuan ilmiah pada abad ke-19 juga melibatkan keterampilan praktis dan pengetahuan lokal.
Ekspedisi pada masa itu bukan perjalanan wisata. Wallace dan para asistennya menghadapi penyakit, cuaca, medan sulit, dan berbagai risiko lain.
Di beberapa tempat, Ali bahkan mengalami sakit. Wallace juga pernah sakit parah. Dalam salah satu perjalanan, keduanya saling membantu ketika terkena demam. Situs Alfred Russel Wallace menyebut bahwa Ali pernah merawat Wallace ketika ia terserang malaria dan kemungkinan memainkan peran penting dalam menyelamatkan nyawanya.
Hubungan tersebut kemudian dikenang Wallace sebagai salah satu persahabatan terpenting dalam perjalanan ilmiahnya.
Ketika Wallace akhirnya meninggalkan Asia Tenggara pada 1862, ia memberikan kepada Ali sejumlah barang, termasuk senjata, amunisi, peralatan, dan persediaan. Wallace menilai Ali sebagai "the best native servant I ever had", sekaligus sahabat perjalanan yang setia.
Mengapa Disebut "Ali Wallace"?
Nama Ali Wallace sendiri mempunyai sejarah yang menarik.
Pada 1907, sekitar 45 tahun setelah Wallace meninggalkan Nusantara, ahli zoologi Amerika Thomas Barbour berada di Ternate. Di sana ia bertemu seorang lelaki Melayu tua yang memperkenalkan dirinya dengan mengatakan, "I am Ali Wallace."
Barbour segera menyadari bahwa lelaki tersebut adalah mantan pendamping Wallace yang pernah membaca atau mengetahui kisah The Malay Archipelago. Saat itu Ali diperkirakan berusia sekitar 67 tahun.
Pertemuan tersebut kemudian menjadi salah satu bukti penting bahwa Ali masih hidup di Ternate pada awal abad ke-20.
Penelitian George Beccaloni pada 2025 bahkan kembali membahas persoalan nama tersebut. Beccaloni menunjukkan bahwa kemungkinan Ali memang mengadopsi "Wallace" sebagai bagian dari namanya untuk menghormati mantan majikannya. Praktik semacam itu ternyata tidak sepenuhnya tanpa preseden di lingkungan masyarakat yang pernah bekerja dengan Wallace.
Misteri Nama "Buang bin Muhammad Ali"
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Nama Buang bin Muhammad Ali banyak beredar dalam tulisan populer dan proyek dokumenter mengenai Ali Wallace. Salah satu proyek tersebut dikembangkan oleh seniman dan pembuat film Isabelle Desjeux dengan judul Buang, the Lost Malay Scientist. Proyek itu menyebut Buang sebagai pendamping Wallace dan berusaha menelusuri kehidupannya setelah ekspedisi.
Namun, penelitian akademik van Wyhe dan Drawhorn tidak memberikan nama lengkap tersebut sebagai fakta yang telah terbukti. Mereka secara konsisten menyebut tokoh tersebut sebagai Ali dan menekankan bahwa banyak detail mengenai kehidupan pribadinya masih tidak diketahui.
Karena itu, lebih tepat menulis "Ali, yang dalam sejumlah sumber populer disebut Buang bin Muhammad Ali" daripada langsung menyatakan bahwa nama tersebut telah terbukti secara definitif.
Catatan semacam ini penting karena sejarah bukan hanya tentang menemukan tokoh yang terlupakan, tetapi juga tentang membedakan mana yang didukung sumber primer dan mana yang merupakan interpretasi atau rekonstruksi kemudian.
Setelah Wallace Pergi
Setelah Wallace kembali ke Inggris pada 1862, Ali tampaknya menetap di Ternate. Pada 1907, ia masih ditemukan di pulau tersebut oleh Barbour. Ironisnya, kehidupan Ali setelah berpisah dari Wallace justru jauh lebih kabur dibandingkan masa ketika ia mendampingi sang naturalis.
Namun, justru ketidakjelasan itulah yang membuat kisahnya menarik. Seorang pemuda dari Sarawak yang awalnya bekerja sebagai juru masak kemudian menjadi kolektor burung, pengawet spesimen, pengelola perjalanan, dan orang kepercayaan salah satu naturalis terpenting abad ke-19.