Kanker Prostat Sering Tak Bergejala, Bagaimana Cara Mendeteksinya Sejak Dini?
© Pexels.com/Silverkblack
Reporter : Abidah
Kanker prostat stadium awal paling sering ditemukan melalui pemeriksaan sebelum gejala muncul.
DREAM.CO.ID - Kanker prostat menjadi salah satu jenis kanker yang kerap berkembang tanpa tanda-tanda yang mudah dikenali. Seorang pria bisa saja merasa sehat dan tidak mengalami gangguan berarti, sementara perubahan pada prostat sudah terjadi. Kondisi inilah yang membuat deteksi dini menjadi persoalan penting, sekaligus tidak sesederhana sekadar menunggu munculnya gejala.
Dilansir dari Verywell Health, ahli onkologi genitourinari dari Memorial Sloan Kettering Monmouth, New Jersey, Kristine Peregrino Lacuna, MD, menjelaskan bahwa kanker prostat stadium awal paling sering ditemukan melalui pemeriksaan sebelum gejala muncul. Salah satu pemeriksaan yang digunakan adalah prostate-specific antigen (PSA), yakni tes darah untuk mengukur kadar antigen spesifik prostat.
Menurut Lacuna, sejumlah keluhan memang dapat menjadi alasan seseorang memeriksakan diri. Gejala tersebut antara lain lebih sering buang air kecil, aliran urine melemah, muncul darah dalam urine, atau rasa ingin buang air kecil yang semakin mendesak. Namun, gejala-gejala tersebut tidak secara otomatis menunjukkan adanya kanker prostat.
Keluhan serupa juga dapat disebabkan oleh kondisi lain yang jauh lebih umum, seperti benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak. BPH bukan kanker dan pada umumnya dapat ditangani dengan obat-obatan atau tindakan operasi. Infeksi juga dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih.
Karena itu, munculnya gangguan buang air kecil bukan alasan untuk langsung menyimpulkan seseorang mengalami kanker prostat, tetapi juga tidak seharusnya diabaikan. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya dan menentukan apakah diperlukan penanganan lebih lanjut.
Pemeriksaan PSA Tidak Selalu Sederhana
Berbeda dengan beberapa jenis kanker lain, rekomendasi pemeriksaan kanker prostat tidak memiliki satu aturan universal yang berlaku untuk semua pria. Lacuna menjelaskan bahwa keputusan untuk menjalani skrining PSA biasanya perlu dibicarakan antara pasien dan dokter.
Salah satu alasannya adalah PSA dapat menghasilkan false positive. Artinya, hasil pemeriksaan dapat menunjukkan kemungkinan kanker meskipun seseorang sebenarnya tidak mengidap penyakit tersebut. Hasil semacam ini dapat berujung pada pemeriksaan tambahan, termasuk biopsi, atau pemantauan untuk melihat apakah kondisi berkembang.
Dalam bahan yang dikutip Verywell Health, U.S. Preventive Services Task Force merekomendasikan pembicaraan mengenai pemeriksaan PSA pada pria berusia 55 hingga 69 tahun dan tidak merekomendasikan pemeriksaan rutin setelah usia 70 tahun. Sementara itu, American Cancer Society menyarankan pria mulai membicarakan pemeriksaan PSA dengan dokter pada usia 50 tahun, atau lebih awal bagi mereka yang memiliki faktor risiko tertentu.
Faktor risiko tersebut antara lain riwayat keluarga kanker prostat serta mutasi genetik yang diwariskan, seperti BRCA1, BRCA2, atau Lynch syndrome. Ras juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan. Pria kulit hitam memiliki angka kejadian kanker prostat yang lebih tinggi dan cenderung mengalami penyakit yang lebih agresif, sehingga dokter dapat mempertimbangkan skrining lebih awal, terutama jika terdapat riwayat keluarga.
Jika Kanker Ditemukan, Belum Tentu Langsung Diobati
Salah satu persoalan yang perlu dipahami sebelum menjalani skrining adalah bahwa ditemukannya kanker prostat tidak selalu berarti pasien harus segera menjalani pengobatan agresif. Sebagian kanker prostat tumbuh lambat dan mungkin tidak pernah menimbulkan masalah serius selama hidup pasien.
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan active surveillance atau pengawasan aktif. Lacuna menekankan bahwa pengawasan ini bukan berarti pasien dibiarkan tanpa perhatian. Sebaliknya, pasien menjalani pemantauan secara ketat untuk melihat apakah kanker menunjukkan tanda-tanda perkembangan.
Situasi tersebut tetap dapat menimbulkan kecemasan. Karena itu, sebelum menjalani PSA, pria dapat mendiskusikan dengan dokter apa yang akan terjadi jika ditemukan kanker yang tumbuh lambat, pemeriksaan lanjutan apa yang mungkin diperlukan, serta bagaimana pengawasan aktif dilakukan jika menjadi pilihan.
Lacuna juga menyarankan pasien memahami terlebih dahulu apa arti hasil PSA dan apa yang tidak dapat disimpulkan dari angka tersebut. Informasi dari sumber tepercaya seperti Prostate Cancer Foundation dan American Cancer Society dapat membantu pasien mempersiapkan pembicaraan dengan dokter. Sebaliknya, informasi dari media sosial perlu disikapi lebih hati-hati karena berisiko mengandung informasi yang keliru.
Karena kanker prostat sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, keputusan untuk melakukan pemeriksaan tidak cukup didasarkan pada ada atau tidaknya keluhan. Usia, riwayat keluarga, faktor risiko genetik, dan kondisi individual perlu dipertimbangkan bersama dokter sebelum menentukan langkah berikutnya.