Kurang Tidur Bikin Kepala Sakit? Ini yang Terjadi pada Tubuh dan Cara Mengatasinya
© Pexels.com/Ketut Subiyanto
Reporter : Abidah
Kurang tidur dapat menurunkan ambang nyeri tubuh sehingga seseorang lebih mudah mengalami sakit kepala, termasuk migrain dan sakit kepala tegang.
DREAM.CO.ID - Bangun setelah tidur beberapa jam saja, kemudian kepala terasa berat atau berdenyut. Kondisi seperti ini mungkin pernah dialami banyak orang, terutama setelah begadang, tidur terlalu larut, atau terbangun berkali-kali sepanjang malam. Kurang tidur ternyata tidak hanya membuat tubuh lemas dan sulit berkonsentrasi, tetapi juga dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami sakit kepala.
Menurut Healthline, kurang tidur dapat menurunkan ambang nyeri tubuh sehingga seseorang lebih mudah mengalami sakit kepala, termasuk migrain dan sakit kepala tegang. Bagi kebanyakan orang dewasa, kebutuhan tidur berada di kisaran tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Tidur kurang dari tujuh jam umumnya dianggap sebagai durasi tidur yang pendek bagi orang dewasa sehat.
Mengapa Kurang Tidur Bisa Memicu Sakit Kepala?
Tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan tubuh. Ketika seseorang tidur, tubuh melakukan berbagai proses pemulihan yang membantu otak dan tubuh berfungsi dengan baik saat terjaga.
Ketika waktu tidur tidak mencukupi, tubuh menjadi lebih rentan terhadap rasa sakit. Salah satu bentuknya adalah sakit kepala. Namun, sakit kepala akibat kurang tidur tidak selalu memiliki bentuk yang sama. Dua jenis yang perlu dibedakan adalah migrain dan sakit kepala tegang.
Migrain biasanya menimbulkan nyeri yang cukup berat dan dalam beberapa kasus dapat mengganggu aktivitas. Nyeri umumnya terjadi pada salah satu sisi kepala dan dapat berlangsung selama beberapa jam hingga berhari-hari. Migrain juga dapat disertai sensitivitas terhadap cahaya dan suara, mual, bahkan muntah.
Sementara itu, sakit kepala tegang cenderung menimbulkan nyeri ringan hingga sedang pada bagian atas, samping, atau belakang kepala. Berbeda dari migrain, sakit kepala tegang biasanya tidak semakin parah akibat paparan cahaya atau suara.
Berapa Lama Waktu Tidur yang Dibutuhkan?
Kebutuhan tidur berbeda berdasarkan usia. Bayi baru lahir hingga usia tiga bulan membutuhkan sekitar 14–17 jam tidur per hari. Anak usia satu hingga dua tahun membutuhkan 11–14 jam, sedangkan anak usia tiga hingga lima tahun membutuhkan 10–13 jam.
Untuk remaja berusia 14–17 tahun, kebutuhan tidur sekitar 8–10 jam. Sementara itu, orang dewasa berusia 18–64 tahun membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur setiap malam. Setelah berusia 65 tahun, kebutuhan tidur umumnya sekitar 7–8 jam.
Insomnia juga dapat menjadi salah satu penyebab seseorang tidak mendapatkan tidur yang cukup. Kondisi ini dapat membuat seseorang sulit tertidur atau terbangun terlalu dini dan kesulitan kembali tidur.
Apa yang Bisa Dilakukan Saat Kepala Sakit karena Kurang Tidur?
Jika sakit kepala sudah muncul, penanganannya bergantung pada jenis sakit kepala dan tingkat keparahannya. Untuk sakit kepala tegang, obat pereda nyeri yang dijual bebas seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. Namun, penggunaan obat sebaiknya mengikuti petunjuk pada kemasan atau anjuran tenaga kesehatan.
Migrain biasanya membutuhkan penanganan yang berbeda. Obat seperti aspirin, acetaminophen, ibuprofen, dan naproxen dapat membantu pada migrain ringan. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat meresepkan obat seperti triptan atau ergot. Obat antimual juga dapat digunakan untuk membantu mengatasi gejala tertentu yang menyertai migrain.
Selain obat, beberapa langkah sederhana di rumah dapat membantu. Untuk sakit kepala tegang, mengurangi stres melalui olahraga, teknik relaksasi, terapi, kompres panas atau dingin selama lima hingga 10 menit, pijat, dan akupunktur dapat dicoba. Sementara ketika migrain menyerang, beristirahat di ruangan yang gelap dan tenang, menggunakan kompres dingin pada bagian belakang leher, serta melakukan pijatan lembut dapat membantu meredakan gejala.
Jangan Hanya Mengobati Sakit Kepalanya
Jika sakit kepala berulang setelah kurang tidur, memperbaiki pola tidur menjadi bagian penting dari pencegahan. Salah satu langkah paling sederhana adalah tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari.
Healthline juga menyarankan berolahraga secara teratur, tetapi menghindari olahraga terlalu dekat dengan waktu tidur. Konsumsi kafein, alkohol, dan nikotin sebaiknya dihindari sekitar empat hingga enam jam sebelum tidur karena dapat mengganggu kualitas tidur.
Lingkungan kamar juga berpengaruh. Kamar tidur sebaiknya dibuat gelap, sejuk, tenang, dan nyaman. Rutinitas sebelum tidur seperti membaca buku, meditasi, atau mandi juga dapat membantu tubuh bersiap untuk beristirahat. Penggunaan layar elektronik sebaiknya dikurangi beberapa jam sebelum tidur.
Dengan demikian, sakit kepala setelah begadang bukan sekadar tanda bahwa seseorang sedang mengantuk. Kurang tidur dapat membuat tubuh lebih sensitif terhadap rasa sakit dan memicu migrain maupun sakit kepala tegang. Memenuhi kebutuhan tidur 7–9 jam bagi kebanyakan orang dewasa, menjaga jadwal tidur tetap teratur, serta memperbaiki kebiasaan sebelum tidur dapat menjadi langkah penting agar masalah tersebut tidak terus berulang.