SBY Bicara Pemerintahan di Endgame Town Hall: Saya Tak Pernah Berselingkuh dengan Konstitusi
© 2026 Susilo Bambang Yudhoyono (Instagram @sb.yudhoyono)
Reporter : Okti Nur
SBY bicara resep pemerintahan dari pengalaman 10 tahun memimpin: jangan benturkan politisi dan teknokrat, buka komunikasi, dan jangan pernah meninggalkan konstitusi.
DREAM.CO.ID — Presiden ketujuh RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla hadir bersamaan dalam acara Town Hall di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu 19 September 2026.
Acara yang diinisiasi oleh Endgame, platform milik mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, berlangsung selama dua hari, 19–20 September 2026.
Di hadapan sekitar 2.000 peserta dari berbagai profesi dan kalangan mahasiswa, SBY mengawali sesinya dengan menyapa Jusuf Kalla, yang disebutnya sebagai sahabat.
Dalam acara tersebut, SBY menjelaskan bagaimana sebuah pemerintahan seharusnya dijalankan. Dia menyampaikan topik ini berdasarkan pengalaman selama sepuluh tahun memimpin pemerintahan Indonesia.
Ia berbicara mulai dari visi, misi, hingga eksekusi di lapangan. Menurut SBY, visi pemerintahan adalah visi presiden. “Tidak ada visi wakil presiden, karena kita harus fokus,” tegas SBY.
Dari visi tersebut kemudian disusun berbagai program yang dalam pelaksanaannya membutuhkan kerja sama banyak pihak. Karena itu, menurut SBY, semua pihak harus bekerja sama dan tidak saling dibenturkan.
“Jangan dibenturkan. Jangan dihadap-hadapkan,” ujar dia.
SBY juga menekankan pentingnya hubungan antara politisi dan teknokrat dalam menjalankan pemerintahan. Menurut dia, keduanya memiliki tugas masing-masing.
Politisi menentukan arah, sedangkan teknokrat menjalankannya. Karena itu, kerja bersama jauh lebih penting daripada menghabiskan waktu untuk saling berseberangan.
“Politisi jangan dibenturkan dengan teknokrat. Mereka punya tugas masing-masing. Politisi menentukan arah, teknokrat yang menjalankannya,” kata SBY.
Menurut SBY, presiden merupakan sebuah lembaga, bukan sekadar pribadi yang menduduki jabatan tersebut. Karena merupakan lembaga, presiden dalam menjalankan tugasnya harus merujuk pada konstitusi.
Selebihnya, kata dia, presiden harus mendengarkan suara rakyat dan membiarkan rakyat memberikan penilaian.
Yang jelas, kata SBY, selama menjalankan pemerintahan, dirinya tidak pernah meninggalkan konstitusi dan akal sehat. “Saya tidak pernah berselingkuh dengan konstitusi dan akal sehat,” ujar SBY.
Dia kemudian mengisahkan bagaimana pemerintahannya dahulu menata komunikasi, baik di dalam negeri maupun dengan pihak luar negeri. Menurut SBY, pemerintahannya ketika itu memiliki juru bicara khusus, yakni Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng.
“Dulu kami punya juru bicara khusus, yakni Pak Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng,” kata SBY.
Menurut dia, jalur komunikasi pemerintah tidak boleh dipersempit atau dibuat tersendat. Sebaliknya, komunikasi harus dibuka seluas mungkin karena hal tersebut akan membawa kebaikan bagi pemerintahan.
Pada bagian akhir, SBY berbicara mengenai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang menurutnya perlu mendapat perhatian khusus.
Belakangan ini, kata SBY, dirinya banyak mendengarkan podcast dan memperoleh informasi dari berbagai ahli mengenai perkembangan AI. Dari berbagai informasi tersebut, ia melihat AI memiliki manfaat, tetapi juga menyimpan potensi bahaya.
“Kalau kita tidak bisa mengontrol AI, jangan menyesal jika AI nanti akan mengontrol kita,” kata SBY.