Puasa 8 Jam Sehari Berpotensi Membantu Mengontrol Gula Darah pada Diabetes Tipe 1

Reporter : Abidah
Sabtu, 19 September 2026 06:00
Puasa 8 Jam Sehari Berpotensi Membantu Mengontrol Gula Darah pada Diabetes Tipe 1
Penelitian menemukan bahwa pola makan dengan jendela waktu terbatas berpotensi membantu mengendalikan gula darah penderita diabetes tipe 1 sekaligus obesitas.

DREAM.CO.ID - Membatasi waktu makan menjadi hanya delapan jam sehari mungkin terdengar seperti bentuk puasa yang cukup ketat. Namun, sebuah penelitian baru dari University of Illinois Chicago (UIC) menemukan bahwa pola makan dengan jendela waktu terbatas berpotensi membantu mengendalikan gula darah pada kelompok tertentu, yakni orang dewasa yang mengalami diabetes tipe 1 sekaligus obesitas.

Dalam penelitian tersebut, peserta hanya makan antara pukul 12.00 hingga 20.00 dan tidak diwajibkan menghitung jumlah kalori. Setelah enam bulan, kelompok yang menjalani pola makan tersebut mengalami perbaikan kadar gula darah yang lebih baik dibandingkan kelompok yang mengurangi asupan kalori sebesar 25 persen.

Penelitian yang dipimpin Krista Varady, profesor bidang kinesiology dan nutrition di UIC, melibatkan 32 orang dewasa dari wilayah Chicago. Peserta secara acak dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama menjalani time-restricted eating dengan jendela makan delapan jam, kelompok kedua mengurangi asupan kalori seperempat dari kebiasaan sebelumnya, sedangkan kelompok ketiga tidak mengubah pola makan mereka.

Hasilnya menunjukkan kadar HbA1c peserta dalam kelompok time-restricted eating turun rata-rata sekitar 0,5 persen setelah enam bulan. HbA1c merupakan pemeriksaan darah yang menggambarkan rata-rata kadar gula darah seseorang selama beberapa bulan sebelumnya, sehingga digunakan untuk menilai pengendalian gula darah dalam jangka lebih panjang.

1 dari 2 halaman

Tidak Meningkatkan Risiko Gula Darah Berbahaya

Hal yang menjadi perhatian khusus dalam penelitian ini adalah keamanan. Diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh menghasilkan sedikit atau tidak menghasilkan insulin, hormon yang dibutuhkan untuk memindahkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel. Karena itu, perubahan pola makan pada penderita diabetes tipe 1 perlu dilakukan dengan sangat hati-hati.

Para peneliti tidak menemukan peningkatan risiko kadar gula darah yang sangat tinggi maupun sangat rendah pada peserta yang menjalani pola makan dengan jendela delapan jam. Risiko diabetic ketoacidosis atau ketoasidosis diabetik juga tidak meningkat. Kondisi tersebut terjadi ketika tubuh kekurangan insulin dan dapat mengancam jiwa.

Temuan ini menjadi penting karena penelitian tersebut merupakan studi pertama yang secara khusus menguji dampak intermittent fasting pada penderita diabetes tipe 1. Hasilnya memberikan indikasi awal bahwa pembatasan waktu makan mungkin suatu hari dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu pengelolaan gula darah pada kelompok pasien tertentu.

 

2 dari 2 halaman

Bukan Berarti Puasa Cocok untuk Semua Orang

Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini masih berada pada tahap awal. Jumlah pesertanya hanya 32 orang dan semuanya merupakan orang dewasa dengan diabetes tipe 1 yang juga mengalami obesitas. Karena itu, hasil penelitian belum dapat dianggap berlaku untuk seluruh penderita diabetes tipe 1, apalagi orang yang tidak memiliki diabetes.

Krista Varady juga menekankan bahwa temuan tersebut bukan alasan bagi penderita diabetes untuk mengubah pola makan secara mandiri. Perubahan waktu makan dapat memengaruhi pengelolaan gula darah dan kebutuhan insulin, sehingga perlu dibicarakan dengan dokter.

Para peneliti berencana melakukan penelitian yang lebih besar dan melibatkan beberapa lokasi untuk mengetahui apakah hasil tersebut tetap terlihat pada populasi yang lebih luas.

Dengan demikian, manfaat puasa yang terlihat dalam penelitian UIC bukanlah bukti bahwa semakin lama seseorang tidak makan, semakin baik pula kesehatannya. Temuan ini lebih spesifik: membatasi waktu makan menjadi delapan jam berpotensi membantu pengendalian gula darah pada sebagian orang dewasa dengan diabetes tipe 1 dan obesitas, tanpa meningkatkan beberapa risiko komplikasi serius dalam penelitian tersebut.

Masih diperlukan penelitian lanjutan sebelum pola makan ini dapat dipertimbangkan sebagai strategi pengelolaan diabetes secara lebih luas. Bagi penderita diabetes, puasa bukan sekadar persoalan menahan lapar, melainkan perubahan pola makan yang berkaitan langsung dengan pengelolaan kondisi medis dan karena itu perlu dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan.

Beri Komentar