Mengapa Banyak Orang Suka Menonton Konten Misteri? Ternyata Bisa Membantu Mengelola Rasa Cemas

Reporter : Abidah
Jumat, 18 September 2026 10:00
Mengapa Banyak Orang Suka Menonton Konten Misteri? Ternyata Bisa Membantu Mengelola Rasa Cemas
Konten kriminal dapat memberikan ruang bagi sebagian orang untuk memikirkan bahaya dan kemungkinan buruk tanpa benar-benar berada dalam situasi berbahaya.

DREAM.CO.ID - Malam hari, lampu kamar mulai diredupkan. Alih-alih memilih tontonan ringan sebelum tidur, sebagian orang justru membuka podcast tentang pembunuhan, menonton dokumenter kriminal, atau membaca kisah kejahatan nyata. Bagi orang lain, pilihan itu mungkin terdengar mengherankan. Mengapa seseorang yang sedang cemas justru mencari cerita yang menakutkan?

Fenomena tersebut ternyata memiliki penjelasan psikologis. Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2025 dan melibatkan 199 orang dewasa di Jerman menemukan bahwa ketertarikan terhadap konten misteri mungkin berkaitan dengan cara seseorang mengelola emosi, terutama kecemasan, rasa takut, dan perasaan tidak aman.

Penelitian tersebut tidak sekadar menanyakan apakah seseorang menyukai tayangan kriminal. Para peserta mencatat aktivitas mereka setiap hari selama dua minggu, termasuk apakah mereka mengonsumsi konten misteri, berapa lama mereka menikmatinya, seberapa keras atau brutal materi yang ditonton, serta apakah mereka berencana mengonsumsinya sebelum tidur. Peserta juga melaporkan suasana hati dan emosi yang mereka rasakan.

Metode catatan harian seperti ini memungkinkan peneliti menangkap pengalaman peserta ketika benar-benar terjadi, bukan hanya mengandalkan ingatan setelah beberapa minggu atau bulan. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan menarik antara tingkat kecemasan seseorang dan kecenderungannya mencari konten kriminal.

Saat Cemas, Orang Justru Mencari Cerita Kriminal

Salah satu temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan pada satu hari dapat memprediksi seberapa banyak konten kriminal dan misteri yang dikonsumsi pada hari berikutnya. Semakin cemas seseorang, semakin besar kecenderungannya mencari cerita kriminal, termasuk kisah yang mengandung kekerasan.

Sekilas, hubungan ini tampak bertentangan dengan intuisi. Bukankah cerita tentang pembunuhan, penculikan, atau kekerasan seharusnya membuat orang semakin takut?

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk merasa memiliki kendali. Bagi seseorang yang sering memikirkan berbagai kemungkinan buruk, menyaksikan bagaimana sebuah kejahatan terjadi dan bagaimana korban atau pihak lain menghadapinya dapat menjadi semacam simulasi mental.

Seseorang mungkin secara tidak sadar membayangkan, " Apa yang akan saya lakukan jika berada dalam situasi tersebut?" atau " Bagaimana saya bisa menghindari bahaya seperti itu?" Dengan cara tersebut, cerita kriminal memberikan kesempatan untuk mempelajari skenario berbahaya dari tempat yang aman.

Proses itu dapat menciptakan perasaan lebih siap dan kompeten. Bagi sebagian orang, mengetahui berbagai kemungkinan ancaman justru membuat dunia terasa sedikit lebih dapat diprediksi.

1 dari 4 halaman

Semakin Brutal, Suasana Hati Justru Bisa Lebih Baik

Temuan lain yang cukup mengejutkan adalah tingkat kekerasan dalam konten *true crime* berkaitan dengan suasana hati yang lebih positif pada hari berikutnya. Dalam penelitian tersebut, peserta yang mengonsumsi cerita kriminal dengan tingkat kekerasan lebih tinggi justru memiliki kemungkinan lebih besar melaporkan suasana hati yang baik keesokan harinya.

Namun, temuan ini tidak berarti semakin brutal tontonan seseorang, semakin sehat kondisi mentalnya. Penelitian tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa menonton kekerasan secara langsung menyebabkan suasana hati membaik.

Kemungkinan yang ditawarkan peneliti adalah adanya rasa penguasaan. Ketika seseorang menghadapi cerita yang sangat menakutkan tetapi dapat mengikutinya sampai selesai dalam kondisi aman, ia mungkin memperoleh pengalaman psikologis bahwa dirinya mampu menghadapi emosi yang tidak nyaman.

Pengalaman tersebut dapat menyerupai latihan menghadapi situasi buruk. Bedanya, " latihan" itu berlangsung melalui cerita, bukan pengalaman nyata.

 

2 dari 4 halaman

Benarkah Konten Misteri Bisa Membuat Orang Lebih Takut?

Anggapan bahwa konsumsi konten kriminal otomatis meningkatkan kecemasan ternyata tidak mendapat dukungan dari penelitian tersebut. Para peserta tidak menunjukkan peningkatan kecemasan, kemarahan, atau emosi negatif pada hari setelah mengonsumsi konten kriminal.

Temuan ini tentu perlu dibaca secara hati-hati. Peserta penelitian merupakan orang dewasa dengan usia rata-rata sekitar 23 tahun. Hasilnya belum tentu berlaku dengan cara yang sama pada anak-anak atau remaja yang perkembangan emosional dan kemampuan regulasi dirinya masih berlangsung.

Selain itu, penelitian ini tidak membuktikan bahwa konten kriminal merupakan cara yang tepat untuk menangani gangguan kecemasan. Ada perbedaan besar antara menggunakan tontonan sebagai hiburan atau ritual pribadi dengan menjadikannya pengganti bantuan profesional.

 

3 dari 4 halaman

Mengapa Cerita Menakutkan Bisa Menenangkan Sebelum Tidur?

Salah satu temuan paling menarik muncul pada kebiasaan menonton atau mendengarkan konten kriminal dan misteri sebelum tidur. Peserta yang melakukan hal tersebut cenderung melaporkan tingkat kecemasan yang lebih rendah pada hari berikutnya.

Fenomena ini dapat berkaitan dengan apa yang disebut anticipatory emotional regulation, yaitu upaya mengatur emosi sebelum menghadapi kondisi tertentu. Bagi sebagian orang, cerita menakutkan yang sudah dikenal justru dapat menjadi ritual yang memberikan rasa nyaman karena alurnya dapat diprediksi.

Fenomena serupa sebenarnya tidak sepenuhnya asing. Banyak cerita anak yang dibacakan sebelum tidur juga mengandung unsur bahaya, kehilangan, monster, atau ancaman. Anak-anak dapat mendengarkan kisah menakutkan tersebut sambil tetap berada dalam lingkungan yang aman bersama orang tua.

Dalam konteks konten kriminal, orang dewasa mungkin memperoleh pengalaman yang serupa: menghadapi ketakutan melalui sebuah cerita sambil tetap memiliki jarak aman dari ancaman nyata.

 

4 dari 4 halaman

Bukan Terapi, tetapi Bisa Menjadi Cara Mengelola Emosi

Peneliti mengingatkan bahwa menikmati konten kriminal bukanlah bentuk terapi. Namun, bagi sebagian orang, pengalaman tersebut mungkin memiliki kemiripan dengan prinsip exposure dalam psikologi, yakni menghadapi sumber ketakutan secara bertahap dalam kondisi yang terkendali.

Seseorang yang takut terhadap anjing, misalnya, dapat memulai dengan melihat gambar anjing sebelum secara bertahap mendekati situasi yang lebih nyata. Tujuannya adalah meningkatkan toleransi terhadap rasa takut tanpa langsung menghadapi situasi yang paling berat.

Demikian pula, konten kriminal dapat memberikan ruang bagi sebagian orang untuk memikirkan bahaya dan kemungkinan buruk tanpa benar-benar berada dalam situasi berbahaya. Dengan memahami skenario tersebut, mereka mungkin merasa lebih siap dan tidak terlalu kehilangan kendali jika suatu saat menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.

Meski begitu, jika konsumsi konten tersebut justru mengganggu tidur, meningkatkan ketakutan, memicu pikiran mengganggu, atau membuat seseorang terus-menerus merasa tidak aman, kebiasaan tersebut sebaiknya dikurangi. Pada kondisi seperti itu, mencari bantuan profesional tetap jauh lebih tepat daripada mengandalkan tontonan kriminal sebagai cara mengatasi kecemasan.

Beri Komentar