Otak Manusia Ternyata Dirancang untuk Terhubung dengan Orang Lain, Ini Penjelasannya

Reporter : Abidah
Jumat, 18 September 2026 08:00
Otak Manusia Ternyata Dirancang untuk Terhubung dengan Orang Lain, Ini Penjelasannya
Otak kita berkembang dalam hubungan, dan sepanjang hidup, sebagian dari kemampuan kita untuk merasa tenang, dipahami, serta terhubung dengan dunia tetap bergantung pada keberadaan orang lain.

DREAM.CO.ID - Bayangkan seseorang baru saja melewati hari yang melelahkan. Pekerjaan menumpuk, percakapan dengan rekan kerja membuat kesal, sementara berbagai persoalan lain belum menemukan jalan keluar. Namun, ketika akhirnya bertemu dengan orang yang dipercaya, tubuh perlahan terasa lebih rileks. Napas menjadi lebih teratur, ketegangan di rahang berkurang, bahkan tawa kecil bisa muncul tanpa direncanakan.

Menariknya, masalah yang dihadapi sebenarnya tidak berubah. Pekerjaan masih menunggu, persoalan belum selesai, dan keputusan sulit tetap harus diambil. Yang berubah adalah cara seseorang mengalami masalah tersebut. Kehadiran orang lain yang dipercaya dapat membuat beban terasa lebih mudah ditanggung. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya tidak hanya memiliki otak yang bekerja secara individual, tetapi juga otak yang berkembang dalam hubungan dengan orang lain.

Otak Manusia adalah Organ Sosial

Sejak awal kehidupan, manusia belajar memahami dunia melalui interaksi sosial. Bayi mengenali wajah dan suara, meniru ekspresi, merespons sentuhan, mengikuti perhatian orang lain, kemudian secara bertahap belajar berkomunikasi, bermain, dan bekerja sama.

Selama bertahun-tahun, penelitian mengenai otak sosial banyak dilakukan dengan mengamati satu orang di dalam pemindai otak sambil memperlihatkan gambar atau video orang lain. Namun, perkembangan teknologi memungkinkan ilmuwan mempelajari sesuatu yang lebih mendekati kehidupan sehari-hari: bagaimana dua otak bekerja ketika dua manusia benar-benar berinteraksi.

Salah satu pendekatan yang berkembang disebut hyperscanning. Metode ini memungkinkan aktivitas otak dua orang atau lebih direkam secara bersamaan ketika mereka berbicara, bekerja sama, belajar, atau melakukan aktivitas sosial lainnya. Salah satu teknologi yang semakin banyak digunakan adalah functional near-infrared spectroscopy (fNIRS), yang memanfaatkan cahaya untuk mengukur perubahan kadar oksigen dalam darah di otak.

Tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam Annual Review of Psychology pada 2025 menunjukkan semakin banyak bukti mengenai fenomena yang disebut interpersonal neural synchrony. Istilah tersebut merujuk pada pola aktivitas saraf yang dapat menjadi selaras secara waktu ketika dua orang berinteraksi.

Sinkronisasi semacam ini ditemukan dalam berbagai aktivitas, termasuk percakapan, kerja sama, perhatian bersama, dan proses belajar. Para peneliti mengaitkannya dengan kemampuan berkomunikasi, koordinasi sosial, keterlibatan dalam interaksi, serta pembelajaran.

Artinya, interaksi sosial bukan sekadar pertukaran kata. Ketika dua orang benar-benar saling merespons, aktivitas mereka dapat mengalami koordinasi pada tingkat perilaku, fisiologis, bahkan saraf.

1 dari 5 halaman

Tubuh Kita Juga Ikut Merespons Orang Lain

Pengaruh hubungan sosial sebenarnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika memasuki ruangan yang baru saja diliputi pertengkaran, seseorang terkadang dapat merasakan ketegangan meski tidak mengetahui apa yang terjadi. Sebaliknya, menghabiskan waktu bersama orang yang membuat kita merasa dihargai dapat membuat tubuh terasa lebih tenang.

Respons tersebut menunjukkan bahwa sistem saraf manusia terus menerima informasi dari lingkungan sosial dan menyesuaikan diri terhadapnya. Nada suara, ekspresi wajah, gerakan tubuh, perhatian, serta respons emosional orang lain dapat memengaruhi keadaan kita.

Karena itu, hubungan yang sehat bukan hanya memberikan dukungan secara psikologis. Kehadiran orang yang dipercaya juga dapat membantu seseorang mengatur respons emosional dan fisiologisnya ketika menghadapi tekanan.

 

2 dari 5 halaman

Ketika Hubungan Sosial Mulai Menghilang

Persoalannya, kesempatan untuk terhubung dengan orang lain tidak selalu bertahan sepanjang hidup. Kesepian dan berkurangnya interaksi sosial menjadi perhatian penting, terutama pada usia lanjut.

Sebuah meta-analisis pada 2024 yang menggabungkan data longitudinal dari lebih dari 600.000 orang menemukan bahwa kesepian berkaitan dengan sekitar 31 persen peningkatan risiko mengalami demensia. Temuan tersebut tidak berarti kesepian secara langsung menyebabkan demensia. Kondisi kesehatan atau perubahan kognitif juga dapat membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial. Namun, hubungan antara kesepian dan risiko demensia tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan depresi, isolasi sosial, dan sejumlah faktor risiko demensia lainnya.

Penting pula membedakan kesepian dengan isolasi sosial. Isolasi sosial lebih berkaitan dengan kondisi objektif, seperti sedikitnya hubungan atau jarangnya seseorang berinteraksi dengan orang lain. Kesepian bersifat subjektif, yakni perasaan bahwa hubungan sosial yang dimiliki tidak memenuhi kebutuhan emosional.

Seseorang dapat tinggal sendirian tetapi tetap merasa terhubung dengan orang lain. Sebaliknya, seseorang juga bisa berada di tengah banyak orang tetapi merasa sangat kesepian.

 

3 dari 5 halaman

Demensia dapat Membuat Hubungan Semakin Sulit

Pada orang dengan perubahan kognitif atau demensia, persoalan sosial dapat menjadi semakin rumit. Kesulitan menemukan kata, mengikuti alur percakapan, mengingat cerita, memahami isyarat sosial, atau mengikuti aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan dapat membuat interaksi menjadi melelahkan.

Dalam kondisi seperti itu, lingkungan sosial seseorang terkadang ikut menyusut. Teman mungkin tidak tahu bagaimana harus bersikap, undangan semakin jarang datang, sementara aktivitas seperti mengikuti kelompok olahraga, komunitas keagamaan, klub buku, atau kegiatan lingkungan mulai ditinggalkan.

Padahal, ketika kemampuan otak seseorang untuk mempertahankan hubungan secara mandiri mulai berubah, dukungan dari orang-orang di sekitarnya justru menjadi semakin penting.

Penelitian sebelumnya yang mengamati berbagai aspek kehidupan sosial, seperti pernikahan, tempat tinggal, anak, saudara, aktivitas kelompok, dan keberadaan orang kepercayaan menemukan satu hal menarik. Tidak memiliki seseorang yang dapat dipercaya untuk berbicara berkaitan dengan peningkatan risiko demensia.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kualitas hubungan mungkin lebih penting daripada sekadar jumlah orang di sekitar kita. Memiliki satu orang yang membuat kita merasa dikenal, diterima, dipahami, dan dianggap penting dapat memiliki makna yang besar.

 

4 dari 5 halaman

Hubungan Sosial Bukan Sekadar Aktivitas Tambahan

Selama ini, manusia sering memandang hubungan sosial sebagai sesuatu yang dilakukan setelah pekerjaan, kewajiban, dan urusan penting lainnya selesai. Padahal, ilmu mengenai otak sosial memberikan perspektif berbeda.

Manusia tidak harus memiliki lingkaran pertemanan yang besar untuk mendapatkan manfaat dari hubungan sosial. Yang lebih penting adalah memiliki hubungan yang memungkinkan seseorang merasa benar-benar hadir dan terhubung.

Menghubungi orang yang dipercaya, makan bersama daripada selalu makan sendirian, bergabung dengan kelompok berjalan kaki, komunitas hobi, kegiatan sukarela, klub buku, kegiatan keagamaan, atau aktivitas lingkungan dapat menjadi cara sederhana untuk mempertahankan koneksi tersebut.

Aktivitas itu bukan sekadar membuat seseorang tetap sibuk. Interaksi yang dilakukan berulang kali memberi kesempatan bagi otak untuk menjalankan fungsi sosial yang memang berkembang sepanjang sejarah manusia.

 

5 dari 5 halaman

Manusia Memang Saling Membutuhkan

Masyarakat modern sering menempatkan kemandirian sebagai tanda keberhasilan. Sejak kecil, seseorang belajar makan sendiri, mencari penghasilan, mengambil keputusan, dan mengurus kehidupannya tanpa selalu bergantung pada orang lain.

Namun, kemandirian bukan berarti manusia tidak membutuhkan hubungan. Sepanjang hidup, manusia tetap saling membantu mengatur emosi, memberikan keberanian, mengajarkan sesuatu, memberikan rasa aman, menghibur, sekaligus memengaruhi cara satu sama lain memahami dunia.

Dalam konteks demensia, kenyataan tersebut menjadi semakin jelas. Ketika kemampuan seseorang untuk melakukan berbagai hal secara mandiri mulai berkurang, orang-orang di sekitarnya bukan hanya berperan dalam membantu menyelesaikan tugas sehari-hari. Mereka juga dapat membantu mempertahankan akses terhadap percakapan, pengalaman, kedekatan, dan hubungan yang membuat kehidupan tetap terasa bermakna.

Dengan kata lain, menjadi manusia memang bukan pekerjaan yang sepenuhnya dilakukan seorang diri. Otak kita berkembang dalam hubungan, dan sepanjang hidup, sebagian dari kemampuan kita untuk merasa tenang, dipahami, serta terhubung dengan dunia tetap bergantung pada keberadaan orang lain.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More