Social Contagion: Mengapa Tren Memakai Parfum Bisa Ikut Menyebar di Kalangan Anak SD?
© Pexels.com/Sosas Sosay
Reporter : Abidah
Social contagion adalah proses ketika perilaku, kebiasaan, sikap, atau emosi seseorang menyebar kepada orang lain melalui interaksi sosial.
DREAM.CO.ID - Di depan gerbang sekolah, pemandangan anak-anak yang baru pulang belajar biasanya tidak jauh berbeda. Seragam masih dikenakan, tas sekolah menggantung di bahu, dan beberapa anak sibuk bercerita dengan teman-temannya. Namun, belakangan muncul fenomena yang menarik perhatian: sebagian anak sekolah dasar mulai menggunakan parfum atau produk pewangi tubuh seperti yang biasa digunakan remaja dan orang dewasa.
Bagi orang tua, hal ini mungkin terasa agak mengherankan. Anak yang sebelumnya tidak terlalu memikirkan penampilan tiba-tiba meminta parfum dengan aroma tertentu. Ketika ditanya alasannya, jawabannya sederhana: "Teman-teman juga pakai."
Fenomena semacam ini dapat dijelaskan melalui konsep social contagion, yaitu proses ketika perilaku, kebiasaan, sikap, atau emosi seseorang menyebar kepada orang lain melalui interaksi sosial. Dalam psikologi, pengaruh teman sebaya tidak hanya terjadi pada remaja. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah dasar juga sudah dapat dipengaruhi oleh perilaku teman di lingkungan sosialnya.
Bermula dari Satu Anak
Bayangkan satu anak membawa parfum ke sekolah. Ia menggunakannya sebelum masuk kelas atau setelah berolahraga. Teman-temannya kemudian mencium aroma tersebut dan bertanya, "Pakai apa?" Anak itu mungkin menjelaskan merek atau jenis wanginya.
Beberapa hari kemudian, satu atau dua teman lain ikut membawa parfum. Lama-kelamaan, penggunaan parfum bisa berubah dari sesuatu yang dilakukan satu anak menjadi kebiasaan kelompok.
Tidak selalu ada ajakan langsung seperti "Kamu harus pakai parfum." Pengaruh sosial sering bekerja dengan cara yang jauh lebih halus. Anak melihat apa yang dilakukan temannya, memperhatikan respons teman-teman lain, lalu menilai bahwa perilaku tersebut merupakan sesuatu yang normal atau menarik untuk dicoba.
Penelitian tentang peer influence menunjukkan bahwa anak dapat mengubah perilaku atau penilaiannya setelah berinteraksi dan mengamati teman sebaya. Proses tersebut bahkan dapat berlangsung tanpa disadari.
Mengapa Anak Ingin Ikut?
Pada usia sekolah, teman memiliki peran penting dalam kehidupan sosial anak. Mereka mulai membangun kelompok pertemanan, mencari penerimaan, dan belajar memahami bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain.
Karena itu, sesuatu yang dilakukan teman dapat memiliki nilai sosial yang lebih besar daripada yang diperkirakan orang dewasa. Parfum bukan lagi sekadar benda untuk membuat tubuh harum. Bagi anak, parfum bisa menjadi bagian dari penampilan, cara menunjukkan selera, atau bahkan tanda bahwa dirinya menjadi bagian dari kelompok tertentu.
Hal ini tidak selalu negatif. Social contagion juga dapat menyebarkan perilaku positif. Penelitian mengenai pengaruh sosial di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa perilaku akademik dan prososial juga dapat dipengaruhi oleh teman sebaya.
Jadi, jika seorang anak mulai memakai parfum karena melihat temannya, mekanismenya sebenarnya sama dengan ketika anak tertarik membaca buku karena temannya suka membaca atau mulai rajin berolahraga karena lingkungan pertemanannya melakukan hal serupa.
Media Sosial Bisa Mempercepat Tren
Fenomena tersebut menjadi semakin menarik di era media sosial. Anak-anak kini dapat melihat tren penampilan bukan hanya dari teman di sekolah, tetapi juga dari video dan konten digital.
Parfum dapat muncul sebagai bagian dari rutinitas harian, konten get ready with me, rekomendasi produk, atau gaya hidup yang ditampilkan oleh kreator. Apa yang awalnya menjadi tren di media sosial kemudian dapat dibawa ke lingkungan sekolah dan kembali menyebar melalui pertemanan.
Namun, tidak berarti setiap anak yang memakai parfum pasti terpengaruh media sosial. Pengaruh teman, keluarga, iklan, kebiasaan orang tua, dan keinginan pribadi dapat bekerja secara bersamaan.
Tetap Perhatikan Usia dan Kandungannya
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: anak SD bukanlah orang dewasa dalam ukuran lebih kecil. Kulit anak dapat lebih sensitif terhadap berbagai bahan yang terkandung dalam produk kosmetik dan pewangi.
Penelitian terhadap produk kosmetik yang dipasarkan untuk anak-anak menemukan bahwa lebih dari separuh produk yang diteliti mengandung pewangi, sementara sejumlah produk mengandung bahan pewangi yang dikenal dapat memicu alergi kontak.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya bertanya, "Mengapa kamu ingin memakai parfum?" tetapi juga melihat jenis produk yang digunakan, cara pemakaiannya, serta apakah anak mengalami iritasi atau keluhan setelah menggunakannya. Produk pewangi juga sebaiknya disimpan dengan aman karena parfum umumnya mengandung alkohol dan dapat menimbulkan masalah jika tertelan.
Pada akhirnya, tren parfum di kalangan anak SD tidak perlu langsung dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Yang menarik justru proses sosial di baliknya. Satu anak melakukan sesuatu, anak lain melihat, kemudian perilaku tersebut perlahan menjadi kebiasaan kelompok.
Inilah gambaran sederhana dari social contagion: manusia belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan kepada mereka, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Pada anak-anak, lingkungan pertemanan dapat menjadi salah satu ruang penting tempat kebiasaan dan selera mulai terbentuk.