Pakai Skincare yang Mengandung Alkohol, Bagaimana Hukumnya?

Reporter : Mutia Nugraheni
Minggu, 9 Oktober 2022 18:01
Pakai Skincare yang Mengandung Alkohol, Bagaimana Hukumnya?
Hukum kenajisan alkohol berbeda di beberapa ulama fikih.

Dream - Tren penggunaan skincare di Indonesia kini naik pesat. Beragam produk pun bermunculan dengan berbagai formula. Salah satu bahan yang sering digunakan dalam skincare adalah alkohol.

Bagi para muslimah, mungkin ragu untuk menggunakan skincare yang beralkohol. Pasalnya, dalam Islam alkohol diharamkan. Bagaimana penjelasan hukum fikihnya? Dikutip dari Bincang Muslimah, hukum kenajisan alkohol berbeda di beberapa ulama fikih.

Misal,beberapa ulama di kalangan empat mazhab mengatakan bahwa alkohol hukumnya najis. Bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa alkohol dikategorikan sebagai najis mugholadzoh. Begitu juga Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menyebutkan bahwa alkohol hukumnya najis.

Sedangkan Imam asy-Syaukani menyatakan bahwa alkohol tidak najis, teks agama hanya menyebutkan keharamannya untuk dikonsumsi. Beliau menyatakan dalam kitab As-sailul Jarar bahwa makna rijsun pada ayat 90 dari surat al-Maidah adalah haram bukan najis:

kitab As-sailul Jarar© Bincang Muslimah

Artinya: tidak ada dalil yang kuat untuk menyokong pendapat yang menyatakan kenajisan sesuatu yang memabukkan. Adapun ayat “ Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji yang Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”(Al-Maidah : 90). Kata rijsun disini bukan bermakna najis melainkan bermakna haram.

1 dari 4 halaman

Adapun terkait kandungan alkohol pada skincare, ada keterangan dari salah satu ulama fikih perbandingan, Abdurrahman al-Jaziri menyatakan dalam kitabnya, al-Fiqh ‘alaa Madzahib al-‘Arba’ah :

al-Fiqh alaa Madzahib al Arbaah© Bincang Muslimah


Termasuk najis yang ditoleransi adalah cairan-cairan najis yang dicampurkan untuk komposisi obat dan parfum. Cairan tersebut bisa ditoleransi dengan kadar yang memang diperlukan untuk komposisi yang seharusnya.

Jika melihat fatwa ini, kandungan alkohol pada skincare dengan konsentrasi rendah diperbolehkan dan demi kepentingan tertentu. Selain itu, penghukuman najis terhadap alkohol pun beragam, maka kandungan alkohol pada skincare hukumnya boleh.

Sumber: BincangMuslimah

2 dari 4 halaman

Hukum Sulam Alis dalam Islam, Apakah Boleh Dilakukan?

Dream – Mempercantik diri sangat penting bagi perempuan. Apalagi di zaman modern dengan teknologi yang semakin maju, mempercantik diri sangat mudah dilakukan untuk memaksimalkan penampilan, mulai dari wajah hingga bagian tubuh lainnya.

Bahkan tidak sedikit perempuan yang rela mengeluarkan biaya besar demi bisa mendapatkan penampilan yang diinginkan. Salah satu upaya mempercantik diri yang sedang populer saat ini adalah melakukan sulam alis. Metode yang digunakan hampir mirip dengan tato.

Meskipun begitu, apapun yang dilakukan oleh setiap orang, terutama umat Islam, memiliki batasan-batasan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Jangan sampai karena berusaha untuk menyempurnakan penampilan, justru melanggar syariat Islam dan mendatangkan dosa. Begitu juga dengan melakukan sulam alis.

Tentu perlu untuk diketahui bagaimana sebenarnya hukum sulam alis dalam Islam ini. Dengan begitu, kaum Hawa yang ingin mempercantik diri bisa tetap melakukannya tanpa harus melanggar syariat Islam.

Untuk mengetahui secara lebih jelas terkait hukum sulam alis dalam Islam, berikut sebagaimana telah dirangkum oleh Dream dari berbagai sumber.

3 dari 4 halaman

Mengenal Sulam Alis

Mengenal Sulam Alis© Shutterstock.com

Bagi perempaun yang tidak pernah ketinggalan untuk mengikuti tren kecantikan, pastinya sudah tidak asing lagi dengan metode sulam alis. Seperti dikutip dari hellosehat.com, sulam alis adalah prosedur kosmetik untuk mengisi alis dengan menggunakana pigmen berwarna. Nah, pigmen yang digunakan tersebut seperti rambut asli yang dipasang dengan mengikuti jalur tumbuhnya rambut asli.

Nantinya pigmen warna yang dipilih akan disesuaikan dengan warna rambu alis yang asli. Sehingga hasil dari sulam alis pun akan tampak natural. Sulam alis ini berbeda dengan tato yang proses menggambarnya menggunakan jarum sampai menembus kulit dan membuat gambar tersebut menjadi permanen.

Untuk sulam alis, pewarnaan hanya ada pada lapisan epidermis kulit saja. Sehingga sulam alis hanya bertahan untuk beberapa tahun saja dan bisa melakukannya kembali setelah hilang. Dengan melakukan sulam alis, hal ini bisa membuat penampilan alis sahabat Dream lebih cantik. Di mana yang memiliki alis tipis, bisa terlihat lebih tebal. Dan juga warna alis pun bisa tampak lebih jelas karena telah diberikan pigmen warna.

4 dari 4 halaman

Hukum Sulam Alis dalam Islam

Hukum Sulam Alis dalam Islam© Shutterstock.com

Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Baik laki-laki maupun perempuan sudah memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh karena itu, sudah seharusnya sebagai hamba Allah SWT bersyukur atas segala hal yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Hal ini seperti dijelaskan dalam firman Allah SWT melalui surat At-Tin ayat 4 yang bunyinya berikut ini:

لَقَدْخَلَقْنَاالْاِنْسَانَفِيْٓاَحْسَنِتَقْوِيْمٍۖ

Artinya: “ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4).

Namun pada kenyataannya, manusia masih kerap kali merasa ada yang kurang dalam dirinya, terutama dari segi penampilan. Misalnya saja seperti yang dilakukan oleh sebagian perempuan yang melakukan sulam alis. Dalam praktik ini, penting para perempuan untuk mengetahu terkait hukum sulam alis dalam Islam, apakah diperbolehkan atau tidak.

Dalam hal ini, Islam telah memberikan batasan berpenampilan pada perempuan agar tidak melanggar syariat Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis berikut ini:

عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله قال لعن الله الواشمات والمستوشمات والنامصات والمتنمصات والمتفلجات للحسن المغيرات خلق الله

Artinya: “ Dari Ibrahim bin Alqomah dari Abdillah Ra. berkata Allah melaknat wanita yang memasang tato, orang yang meminta ditato, yang menghilangkan rambut dari wajahnya, yang meminta dihilangkan rambut wajahnya dan yang mengikir giginya untuk memperindah dan mengubah ciptaan Allah.”

Dikutip dari bincangsyariah.com, dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa istilah al-Waasyimah adalah bentuk fail (subjek) yang asal katanya dari wasyama yang berarti memasukkan jarum ke salah satu anggota tubuh untuk menanamkan warna. Di mana warna itu akan berubah menjadi biru atau disebut juga dengan tato. Sama halnya dengan metode sulam alis, walaupun dalam metode ini tidak sampai memasukkannya ke lapisan yang dalam.

Sulam alis sendiri masuk ke dalam aktivitas mentato (al-wasym) serta bagian dari an-nashimah, yakni pelaku yang mencukur rambut wajah. Masih dalam kitab yang sama, dijelaskan oleh Imam Nawawi bahwa mencukur rambut yang ada di wajah seperti pada alis dan di pinggir wajah hukumnya adalah haram. Tapi akan berbeda jika ada perempuan yang memiliki kumis dan jenggot, maka hukumnya boleh bahkan sunah untuk mencukurnya.

Masalah yang muncul dari sulam alis ini adalah metodenya yang menyerupai tato. Selain itu hal ini juga menimbulkan rasa sakit, hingga mengubah ciptaan Allah SWT. Nah, seperti yang diketahui bahwa tato dilarang dalam agama Islam. Sedangkan sulam alis seperti dikutip dari umma.id adalah bagian dari perkembangan dunia medis untuk kecantikan yang menggunakan metode baru, di mana cara kerjanya memiliki kemiripan dengan tato. Wallahu’alam.

Beri Komentar