Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Dompet Dhuafa
Dream - Rasanya kasus gizi buruk di negeri ini tak bisa sepenuhnya hilang, kendati tahun terus berganti. Luasnya wilayah Indonesia, hingga sulitnya akses menuju lokasi terpencil, kadang membuat beragam problem kesehatan di Tanah Air, termasuk masalah gizi buruk, tak bisa langsung teratasi.
Setidaknya hal inilah yang dialami saudara-saudara kita di pedalaman Papua. Alih-alih hidup sehat layaknya anak perkotaan, calon generasi bangsa dari Suku Asmat justru harus bergulat dengan problem gizi buruk.

Betapa tidak, setahun yang lalu saja, sekurangnya 70 anak di Asmat meninggal dunia lantaran kebutuhan nutrisinya tak terpenuhi secara maksimal. Apalagi kejadian tersebut juga diakibatkan kasus campak, sontak saja berita yang memilukan tersebut tersiar hingga seantero negeri.
Tak berlangsung lama, kejadian itu pun membuat pemerintah segera bertindak dan lekas menetapkan status Kasus Luar Biasa di daerah pesisir Laut Arafuru tersebut.
Meski begitu, penanganan tak langsung bisa terdistribusikan dengan lancar. Sulitnya akses menuju lokasi di beberapa distrik di kawasan tersebut, membuat kasus campak dan gizi buruk di Asmat tak bisa langsung tertangani.

Hal tersebut belum ditambah lagi dengan pemukiman suku Asmat yang semakin memprihatinkan. Jika dibiarkan lebih lama lagi, bukan tak mungkin akan semakin banyak anak-anak Asmat yang meregang nyawa akibat kasus serupa.
Mengetahui kondisi tersebut, Tim Dompet Dhuafa tak bisa berdiam diri.
Lewat tim Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Papua, Tim Dompet Dhuafa menerjunkan dokter dan tim relief. Beratnya medan dan sulitnya akses, membuat tim yang terjun perlu menerapkan strategi khusus agar bisa cepat merespon bencana di Asmat.

Beruntung, relawan dari beragam penjuru dan latar belakang berdatangan, sehingga target pemeriksaan kesehatan sekaligus perbaikan gizi buruk yang terjadi pada anak-anak di Distrik Agats bisa tercapai.
Lebih lanjut, selama masa tanggap darurat kejadian tersebut, speed boat dan long boat bahkan membanjiri kota dengan tim medis.
Sekalipun kondisi di Asmat kini telah tertangani, tetapi tim Dompet Dhuafa terus melakukan pendampingan selama 2018 hingga awal 2019. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi kehidupan sosial sekaligus mengupayakan kesehatan anak-anak Asmat akan tetap terjaga, dan tak sampai mengalami gizi buruk maupun gangguan kesehatan lainnya lagi.
Karena bagaimanapun perlu kerjasama dari semua pihak, guna mengatasi kasusu gizi buruk tak hanya di Asmat, tetapi juga di daerah-daerah lain di Indonesia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya