Kesulitan Pulang Kampung Lewat Laut, Pria Pangkalpinang Ini Bikin Maskapai Penerbangan Sendiri

Reporter : Alfi Salima Puteri
Senin, 21 November 2022 14:45
Kesulitan Pulang Kampung Lewat Laut, Pria Pangkalpinang Ini Bikin Maskapai Penerbangan Sendiri
Sebelumnya dia harus naik kapal selama 11 jam dan seringkali juga terhalang ombak besar.

Dream - PT Sriwijaya Air adalah perusahaan swasta yang didirikan oleh Chandra Lie, Hendry Lie, Johannes Bunjamin, dan Andy Halim. Sriwijaya Air memulai bisnis dengan satu Boeing 737-200.

Beberapa tenaga ahli yang turut merintis berdirinya Sriwijaya Air adalah Supardi, Capt. Kusnadi, Capt. Adil W, Capt. Harwick L, Gabriella, Suwarsono, dan Joko Widodo.

Menurut laman resminya, pada 10 November 2003, Sriwijaya Air memulai penerbangan perdana dengan rute Jakarta-Pangkalpinang PP, Jakarta-Palembang PP, Jakarta-Jambi PP, dan Jakarta-Pontianak PP.

Salah satu pendirinya, Chandra Lie, mulanya merupakan pengusaha garmen. Pria yang lahir di Pangkalpinang, 4 April 1965, ini sejak kecil dikenal sebagai sosok yang ulet dalam bekerja.

Ia juga semangat menimba ilmu hingga memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Awalnya ia memiliki cita-cita menjadi guru olahraga dan pengacara, namun justru berakhir di bisnis garmen.

Bisnis itu mulanya ia geluti dengan modal kecil yakni 7 mesin untuk memproduksi pakaian. Ia terus mengembangkan bisnisnya hingga memiliki 150 mesin. Tak puas menekuni bisnis garmen, Chandra kemudian mulai merambah ke bisnis penerbangan.

1 dari 4 halaman

Awal mula keinginan itu muncul lantaran Chandra sering mengalami kesulitan untuk pulang kampung dari Jakarta ke Pangkalpinang. Ia harus naik kapal selama 11 jam dan seringkali juga terhalang ombak besar.

Maka dari itu ia berpikir akan lebih mudah bila pulang ke kampungnya dapat terbang menggunakan pesawat. Ia pun akhirnya menyerahkan bisnis garmen itu kepada temannya dan mulai merintis bisnis penerbangan.

Chandra Lie bersama dengan saudaranya yakni Hendry Lie, Johannes Bunjamin, dan Andy Halim akhirnya mengajukan izin untuk membentuk maskapai pada tahun 2000.

Chandra Lie pemilik Sriwijaya Air.© Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Saat itu, mengajukan izin berbisnis maskapai bukan sesuatu yang sulit. Ini karena adanya deregulasi penerbangan yang memungkinkan siapapun mendirikan maskapai penerbangan dengan hanya dua atau satu unit pesawat. Hal tersebut diatur dalam UU Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 10 November 2003, mereka akhirnya diizinkan mengoperasikan maskapai yang diberi nama Sriwijaya Air.

Saat itu, Chandra Lie hanya memiliki satu unit pesawat Boeing 737-200. Pesawat itu melayani rute Jakarta-Pangkalpinang dan Pangkalpinang-Jakarta.

Sriwijaya Air terbilang berani bersaing dengan maskapai-maskapai pendahulunya seperti Garuda Indonesia dan Lion Air yang saat itu sudah lebih dulu dipercaya publik. Pada tahun 2003, maskapai ini menjual tiket Jakarta-Pangkalpinang seharga Rp175 ribu.

Perlahan tapi pasti, Sriwijaya Air pun menambah rute yakni Jakarta Palembang, Jakarta-Jambi, dan Jakarta-Pontianak. Sriwijaya Air kemudian menambah armada mereka yakni empat pesawat Boeing 737-200.

3 dari 4 halaman

Bisnis milik Chandra Lie ini kian berkembang karena dianggap mampu mengisi kekurangan dari maskapai-maskapai saingannya. Misalnya mereka membuka rute-rute baru dan membuka jadwal terbang lebih pagi dari jadwal maskapai lainnya.

Bermula dari hanya 1 pesawat dan 1 rute perjalanan pulang-pergi, saat ini Sriwijaya Air memiliki 48 pesawat Boeing dan melayani 53 rute penerbangan.

Saat ini, Sriwijaya Air memiliki 48 pesawat Boeing dengan melayani total 53 rute termasuk rute regional Medan-Penang PP dan rute internasional lainnya.

Dalam rangka pengembangan rute dan pangsa pasar, Sriwijaya Air telah mendatangkan pesawat Boeing 737-800 Next Generation (NG) dan Boeing 737-900 Extended Range (ER).

Untuk perawatan armada, Sriwijaya Air telah menjalin kerjasama dengan Garuda Maintenance Facility (GMF) sebagai penyedia perawatan terpercaya di Indonesia dengan standar internasional.

4 dari 4 halaman

Kerja sama ini memberikan Sriwijaya Air keamanan dan kenyamanan yang optimal. Selain itu, tim kami di Sriwijaya Air terampil, ramah, dan dapat diandalkan.

Sejak berdiri pada 10 November 2003, Sriwijaya Air berhasil mencapai target-target yang dikemas dalam misi dan visinya, seperti mengendapkan layanan berkualitas, menjadi maskapai penerbangan yang mampu bersaing secara nasional maupun regional.

Sriwijaya Air yang berbasis di Jakarta selamat dari krisis global pada tahun 2008 dengan hampir tidak ada kerugian dalam bisnis. Bahkan memperluas layanan ke Indonesia timur dengan banyak tambahan pesawat baru.

Pada November 2018, Sriwijaya Air dan NAM Air mulai masuk dalam manajemen Garuda Indonesia Group melalui anak perusahaan PT Citilink Indonesia. Namun kerja sama ini tak bertahan lama.

Mulai akhir Oktober 2019, kedua grup maskapai itu sudah memilih jalannya masing-masing.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More