Petani & Tukang Sapi Sudah Jalankan Ekonomi Syariah, Tapi...

Reporter : Kurnia
Selasa, 29 September 2015 10:31
Petani & Tukang Sapi Sudah Jalankan Ekonomi Syariah, Tapi...
"Jangankan kita yang berpendidikan, petani di daerah-daerah itu sudah pakai sistem bagi hasil"

Dream - Berstatus sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia, sistem ekonomi syariah di Indonesia dirasa justru belum berkontribusi besar bagi perekonomian nasional. Bahkan, banyak penduduk yang belum terbiasa dengan sistem ekonomi ini. 

Pengamat ekonomi syariah Muhammad Syakir Sula memandang, minimnya pengetahuan ekonomi syariah penduduk Indonesia ini disebabkan masyarakat terlalu lama dibiasakan dengan sistem ekonomi riba.

Buktinya, menurut pendiri Lembaga Asuransi Islam Takaful ini, para pelaku maupun pemerintah kerap mengeluhkan sulitnya penerapan konsep-konsep yang ada pada sistem ekonomi berbasis Islam ini. Salah satunya yang sering terjadi adalah konsep bagi hasil.

Menurut Muhammad Syakir Sula, masyarakat Indonesia semestinya tak asing dengan konsep tersebut. Sebab, sejak puluhan tahun silam, masyarakat perdesaan cenderung menerapkan bagi hasil meski tanpa mengistilahkannya secara resmi.

“ Jangankan kita yang berpendidikan, petani di daerah-daerah itu sudah pakai sistem bagi hasil. Orang tua saya dulu jika punya sapi, itu dibagi hasilkan dengan para perternak. Misalnya ada 10 sapi yang melahirkan 3 anak, nanti 1 sapi akan diberikan kepada peternak dan 2 sapi untuk pemiliknya,” ujarnya saat dihubungi Dream melalui telepon.

Sistem bagi hasil juga sudah membudaya pada masyarakat persawahan. Mantan Wakil Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) itu menjelaskan, terutama di wilayah Jawa, para pemilik lahan sudah biasa membagi hasil sawahnya dengan para petani penggarap.

“ Di Jawa itu, kalau saya punya sawah petak seluas 1 hektar, kemudian dikerjakan oleh petani penggarap itu akan dibagi hasil. Oke, modal dari saya, tanah dari saya, pupuk dari saya, nanti hasilnya dibagi 60:40. 60 untuk pemilik dan 40 untuk petani penggarap,” lanjutnya menjelaskan.

Untuk memahami ekonomi syariah khususnya sistem bagi hasil, Syakir justru mengusulkan agar masyarakat tak perlu banyak diceramahi referensi akademis. “ Orang tua saya yang tidak sekolah saja mengerti bagi hasil, masa selevel pejabat di Indonesia itu ribet bagi hasil, kan itu ngawur,” tegasnya.

Lebih jauh, Syakir menilai sulitnya penerapan sistem ekonomi syariah juga dipicu sistem edukasi dan sistem yang membudaya sejak puluhan tahun. “ Itu sisa-sisa Islam phobia zaman Orde Baru sih,” keluhnya.

Beri Komentar
Roger Danuarta Ogah Lihat Cut Meyriska Tampil Modis