Dream - Riyad Marhez begitu dikenal di dunia sepak bola Inggris. Kegigihannya membela klub papan atas Inggris, Leichester United telah diakui. Tak ada lawan mampu menembus sayap kanan tim itu kala bertanding.
Atas kegigihannya, Riyad menjadi salah satu pemain kebanggaan Leichester. Dia sukses mengawal klub itu bertarung di jajaran klub papan atas di Liga Premier Inggris. Bahkan, pemain muda ini tercatat di bursa transfer pemain sepakbola memiliki nilai transfer sebesar 11 juta euro, setara Rp162 miliar.
Kemampuan dalam mengolah si kulit bundar terasah dari pengalaman yang cukup panjang. Hal pahit pun sempat dia rasakan saat meniti karir di dunia sepak bola. Banyak orang memandang sebelah mata, lantaran postur tubuhnya yang terlihat kurus dan lemah.
Riyad terlahir di Sarcalles, Perancis, pada 21 Februari 1991 dari pasangan imigran asal Aljazair. Ayahnya, Ahmed Marhez, mengambil keputusan pindah dari Aljazair untuk mencari penghidupan yang layak.
Keluarga Marhez hidup dalam kondisi ekonomi yang sederhana. Mereka juga tinggal di kawasan pemukiman di pinggiran Perancis, yang juga banyak didiami oleh para imigran. Kesulitan ekonomi kerap menjadi masalah yang dihadapi keluarga itu. Meski demikian, orangtua Riyad selalu berusaha agar anak-anaknya bisa cukup makan.
Riyad tumbuh menjadi anak dengan postur tubuh begitu kurus. Tampak seperti anak yang kekurangan gizi. Banyak yang menilai staminanya kurang kuat untuk bisa berlari menyusuri lapangan hijau sembari menggiring bola. Terlebih jika harus beradu badan dengan pemain lain, mereka memastikan Riyad tidak akan mampu.
Kondisi tubuh seperti itu sempat membuat Riyad Marhez kecil minder. Dia pun sudah punya pikiran sepak bola bukan jalan yang pas untuk meraih sukses. Ditambah pandangan sebelah mata dari orang-orang di sekitarnya semakin menyurutkan keinginannya menjadi atlet bola.
Tetapi, ada orang yang punya penilaian lain. Anak ini bisa sukses dengan bermain bola. Pikiran itu berasal bukan dari orang lain, melainkan ayahnya sendiri. Sehingga sejak dini sang ayah, Ahmed, memutuskan untuk menyekolahkan Riyad kecil di sekolah sepak bola milik salah satu klub amatir di Sarcalles.
Setiap berlatih sepakbola, Ahmed selalu ada di pinggir lapangan. Dia ingin selalu ada di samping Riyad kecil. Menyemangati Riyad agar melupakan rasa mindernya dan terus berusaha menjadi yang terbaik sebagai pemain sepakbola.
***
© Dream
Tahun 2006 menjadi tahun yang menyedihkan bagi Riyad. Sang ayah meninggal akibat serangan jantung di usia 53 tahun. Riyad merasa terpukul dengan kepergian Ahmad. Dia tidak hanya merasa kehilangan ayah, juga sahabat dan pendukung setia. Tidak ada lagi orang yang akan menyemangatinya bermain bola.
Kematian sang ayah membuat Riyad rajin pergi ke masjid untuk mengobati kesedihannya. Kebiasaan pergi ke masjid ditanamkan oleh Ahmed kepada Riyad sejak kecil. Di masjid, menghapus lara dan untuk mendoakan ayahnya.
Satu hal yang tidak pernah bisa dia lupakan dari sang ayah adalah mimpi untuk menjadi pemain sepak bola profesional. Dia selalu ingat bagaimana perjuangan sang ayah untuk memacu semangatnya agar tidak mudah menyerah meski berbadan kecil. Mimpi itulah yang kemudian menjadi modal Riyad serius menggeluti dunia sepak bola.
Meski sudah punya niat yang besar, Riyad ternyata masih menemui kendala. Belum ada satupun klub yang melirik kemampuan dia. Alhasil, Riyad mengasah kemampuan bermain bola di jalanan. Sampai suatu saat, tepatnya pada 2009, dia dilirik oleh klub non-liga, Quimper.
Manajer Quimper cukup menyadari kondisi badan Riyad. Tetapi, melihat kemauan keras dan tanggung jawab bocah itu, hati sang manajer kemudian luluh. Dia lalu berpesan kepada Riyad untuk melatih potensi lain dari tubuhnya untuk bisa bermain bola, kecerdasan.
“ Salah satu manajer Quimper berpesan pada saya, ‘Anda harus bermain dengan menghindari kontak badan, Anda harus cerdas karena Anda tidak cukup kuat’,” ujar Riyad kepada The Telegraph.
Pesan sang manajer begitu membekas pada diri Riyad. Sejak saat itu, dia terus berlatih strategi di lapangan. Sayap kanan merupakan posisi yang tepat untuk Riyad dan dia terus berkembang dari pemain amatir menjadi profesional. Hal itu menjadi daya tawar bagi Riyad hingga sejumlah klub tertarik untuk mengandengnya.
Bermain di Quimper hanya dijalani Riyad selama enam bulan. Tiga klub jajaran divisi kedua Perancis, Paris Saint-Germain, Marseille, dan Le Havre mengajaknya bergabung. Tetapi, dia memutuskan untuk bergabung dengan Le Havre.
“ Le Havre adalah pilihan paling tepat bagi saya karena mereka punya sistem yang baik untuk pemain muda,” kata dia.
Karir Riyad semakin menanjak. Dia lalu tergabung dalam skuad tim nasional Perancis U-21. Sejak saat itu, dia mulai berpikir untuk pindah ke klub jajaran utama. Sebab, dia merasa permainannya tidak akan berkembang lantaran pola permainan klub-klub divisi kedua yang cenderung memilih bertahan.
Mimpinya terwujud dengan munculnya tawaran dari klub divisi utama Liga Premier Inggris, Leichester City pada 2014, dengan nilai kontrak sebesar 450.000 euro, setara Rp6 miliar. Dia menerima tawaran itu dan kini merumput di Inggris.
Sempat dia mendengar selentingan dari sejumlah koleganya. Mereka berkomentar miring dengan mengatakan Liga Inggris bukan tempat yang cocok bagi Riyad.
“ Semua orang mengatakan kepada saya: 'Riyad, Inggris bukan untuk Anda, terlalu kuat dan terlalu mengandalkan fisik. Sepak bola Spanyol mungkin tempat yang sesuai dan Anda akan lebih baik’,” ungkap Riyad.
Dia sempat akan mengurungkan niat untuk tidak menerima tawaran itu. Tetapi, orang yang menjadi agen dia justru mengatakan Inggris adalah pilihan yang bagus. Riyad lalu menyampaikan ke keluarganya dan dia mendapat jawaban yang sama.
“ Aku berkata: 'OK, saya akan mencobanya,’ dan ketika saya sampai di sini saya benar-benar menyukainya. Ketika saya mulai pelatihan dan bermain, saya berpikir: 'saya begitu bodoh karena ragu’,” tutur dia.
Kemampuannya memainkan bola ternyata menarik perhatian negara kelahiran ayahnya, Aljazair. Terkesima, negara itu meminta Riyad bergabung memperkuat timnas mereka. Alhasil, Riyad akan membela negara sang ayah dalam ajang Piala Dunia 2018 yang akan datang.
***
© Dream
Meski sebagai pemain sepak bola yang berkarir cemerlang di usia muda, Riyad tidak pernah sekalipun melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia berusaha sebisa mungkin terus menjalankan salat secara berjamaah di masjid.
Di lingkungan sekitar, Riyad memang dikenal sebagai sosok yang sangat religius. Dia selalu berusaha untuk pergi ke masjid tepat waktu. Hal itu dibenarkan oleh salah satu sahabatnya, Youssef Ghanmi.
“ Dia adalah sosok yang sangat religius. Dia begitu kuat memegang keyakinan agamanya,” kata Ghanmi.
Ghanmi begitu mengenal sosok Riyad. Meski sebagai pemain sepak bola sukses, dia tidak menangkap kesan sombong dari temannya. Riyad tetap saja menjadi pribadi yang ramah dan hangat.
Padahal, gaya hidup Perancis begitu bebas. Individualitas di sana juga cukup tinggi. Tetapi, itu tidak bisa membuat Riyad berubah. Hingga kini, dia tetap dikenal sebagai sosok yang teguh menjalankan perintah agama.
Advertisement