Sentimen Capres Mereda, Indeks Syariah Menguat

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 22 Mei 2014 09:38
Sentimen Capres Mereda, Indeks Syariah Menguat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 21,06 poin (0,43%) ke level 4.931,361.Penguaan juga dialami Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII).

Dream - Indeks bursa saham Indonesia masih bisa melanjutkan penguatan yang terjadi pada penutupan kemarin. Kembali masuknya dana pemodal ke pasar saham kemungkinan membantu indeks bertahan di zona hijau.

Pelaku pasar juga cukup yakin setelah sentimen pertemuan The Fed memberikan sinyal tak adanya kenaikan suku bunga acuan.

Pada pembukaan perdagangan Kamis, 22 Mei 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 21,06 poin (0,43%) ke level 4.931,361.

Aksi penguatan juga dialami indeks saham syariah baik Jakarta Islamic Index (JII) maupun Indonesia Islamic Syariah Index (ISSI).

Indeks ISSI membuka perdagangan dengan menguat ke level 162 dan masih terus bergerak di zona hijau. Hingga perdagangan pukul 09.32 WIB, indeks ISSI menguat 0,65 poin (0,41%) ke level 162,01.

Aksi jual-beli saham syariah mencapai 3,74 miliar dengan nilai transaksi sebesar Rp 643,39 miliar. Kenaikan juga dialami indeks saham bluechips syariah yang menguat 3,18 poin (0,48%) ke level 667,96.

Transaksi perdagangan saham bluechips kali ini mencapai 1,67 miliar lembar saham dengan nilai Rp 423,35 miliar.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menjelaskan, gerak IHSG kemarin terlihat mencoba bertahan diatas suport 4875 dan berhasil ditutup dengan kenaikan.

" Satu hal yang membuat kami khawatir adalah posisi dari pemodal asing yang kemarin mencatatkan net sell sebesar Rp 77,9 miliar. Ini adalah net sell pertama setelah mereka selalu net buy dalam tujuh hari perdagangan terakhir," kata Satrio.

Jika pada hari ini pemodal asing sudah kembali melakukan aksi beli, Satrio menduga aksi jual tersebut hanya aksi profit taking sesaat. Namun, jika asing kembali melakukan net sell dalam jumlah yang lebih besar, maka bisa jadi ini adalah awal dari aksi profit taking yang akan dilakukan dalam jumlah yang lebih besar, seiring dengan meredanya sentimen pemilu presiden. (Ism)

Beri Komentar