Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Ada Instrumen Keuangan Syariah Yang Akan Mencapai Momentum Tahun Ini. (Foto: Shutterstock)
Dream – Sukuk atau surat utang syariah akan menjadi instrumen keuangan yang mendapatkan momentum positif di tahun ini. Instrumen ini pernah 'jatuh' pada 2015 lalu.
Pasar sukuk global disebut menunjukkan geliat pertumbuhan yang cukup menggembirakan. Pertumbuhan ini didorong oleh berbagai faktor seperti inovasi produk, jumlah sukuk terbit yang semakin banyak, serta meningkatnya permintaan dari bank ritel.
“ Kami memprediksi sukuk negara akan tumbuh pada 2018 seiring dengan upaya pemerintah untuk mendiversifikasi pembiayaan campuran dan memenuhi kebutuhan likuiditas bank syariah ritel,” kata Vice President Senior Credit Officer Moody's Investor Service, Christian de Guzman, dikutip dari Moody's, Rabu, 3 Januari 2018.
Guzman mengatakan ada beberapa aspek pendukung penerbitan sukuk pemerintah. Beberapa di antaranya seperti kebutuhan utang yang tinggi dari pemerintah di Negara Teluk.
Diperkirakan surat utang pemerintah yang diterbitkan Negara-negara Teluk bernilai mencapai US$148 miliar, setara Rp1.995,78 triliun.
Kawasan Teluk mendorong pertumbuhan pasar surat utang syariah sejak tahun 2017. Arab Saudi memegang andil cukup banyak sebesar 40 persen terhadap pasar sukuk global, Oman 11,9 persen, dan Bahrain 13,4 persen.
Faktor lainnya yang berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah sukuk adalah penerbitan dari bank domestik dan inovasi produk. Faktor ini dianggap bisa menjadi solusi dari dua tantangan yang dihadapi oleh penerbit, yaitu kekurangan aset fisik untuk restrukturisasi sukuk dan larangan transfer kepemilikan aset ke special purpose vehicles (SPV).
Guzman mengatakan saat ini pasar sukuk terbesar dunia adalah Malaysia dan Indonesia. Kemudian, ada juga negara-negara lain yang bakal menjadikan sukuk sebagai pembiayaan infrastruktur, seperti Nigeria, Niger, Kenya, Ghana, Maroko, Tunisia, dan Aljazair.
Sekadar informasi, pada akhir 2017, nilai sukuk global diprediksi mencapai US$95 miliar (Rp1.281,07 triliun), didominasi sukuk negara. Secara total, angkanya naik 50 persen dari 2016.
(Sah)
Advertisement

3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya

Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil


Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?