Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Baru beberapa hari berganti kepemimpinan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menhhadirkan terobosan dalam perumusan kebijakan pembangunan nasional. Yaitu melakukan peningkatan kualitas perencanaan pembangunan melalui pengembangan perencanaan berbasis fakta (evidence-based planning), untuk dikembangkan menjadi kebijakan berbasis fakta.
Kepala Bappenas Sofyan Djalil mengaku, selama ini kebijakan yang diambil pemerintah tidak selalu menggunakan landasan penelitian yang valid serta metodologi yang sahih. " Kebijakan berbasis bukti (evidence based policy) memang sangat penting. Di kantor saya dulu, banyak kebijakan yang dibuat tanpa data dan bukan berbasis riset," kata Sofyan di kantornya, Rabu 19 Agustus 2015.
Menurut Sofyan, perencanaan pembangunan akan lebih efektif apabila menggunakan pendekatan ilmiah atau akademis. " Sehingga betul-betul merepresentasikan kebutuhan dan efektif saat pelaksanaan," tambahnya.
Direktur Industri, IPTEK dan BUMN Bappenas, Mesdin Kornelius Simarmata pun menganggap model pengambilan kebijakan yang didasarkan pada fakta saat ini amat mendesak untuk diterapkan. Alasannya, memasuki masa demokratisasi dengan kondisi keterbukaan informasi yang makin luas, pemerintah tidak bisa semena-mena dalam menentukan kebijakan.
" Masyarakat ini kan sekarang semakin pintar, jadi kita nggak bisa asal-asalan dalam membuat kebijakan," ujar Mesdin.
Untuk mewujudkannya, Bappenas bekerjasama mengadakan konferensi dengan 9 universitas negeri yaitu Universitas Padjajaran, Universitas Negeri Sebelas Marer, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegori, Universitas Indonesia, Universitas Sriwijaya, Universitas Gajah Mada, Universitas Hassanuddin serta tiga organisasi masyarakat sipil Percik, Prakarsa dan CSIS.
Kegiatan ini juga disokong oleh Knowledge Sector Initiative, Australian Aid sebagai lembaga donor.
Kepala Biro Humas dan Tata Usaha Pimpinan Bappenas, Thohir Afandi mengatakan, dari konferensi tersebut diharapkan terjadi proses pengenalan berbagai pengalaman pembangunan di dalam maupun luar negeri untuk diterapkan di Indonesia.
Selain itu, lanjut Thohir, diharap ada perbaikan kebijakan pembangunan melalui evaluasi, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembuatan kebijakan pembangunan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya