Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Pangeran Mutaib Al Saud (kanan) Bersama Pangeran Charles (kiri). (Foto: Houseofsaud.com)
Dream – Mutaib al-Saud menjadi pangeran Arab Saudi pertama yang bisa menghirup udara usai keluar dari penjara “ antikorupsi” di Hotel Ritz Carlton, Arab Saudi. Dia bebas setelah membayar tebusan US$10 miliar (Rp135,35 triliun).
Dilansir dari Al Arabiya, Sabtu 2 Desember 2017, putra mendiang Raja Abdullah dan Menteri Keamanan Nasional Saudi itu ditahan pada awal November sebagai bagian dari operasi bersih-bersih terhadap pangeran dan pengusaha yang terlibat suap dan korupsi.
Menurut sumber dari pihak oposisi Saudi, Pangeran Mutaib ditahan setelah terlibat “ suap dalam jumlah yang fantastis”. Agar bebas dari tahanannya, Pangeran Mutaib menyerahkan uang tebusan senilai US$10 miliar kepada Kerajaan Arab Saudi.
Dia tidak membayar uang tebusan tersebut sendiri. Tapi kedua saudara dan teman-temannya mengumpulkan uang yang digunakan untuk menebus dirinya. Selain uang, aset Pangeran Mutaib, seperti hotel di Prancis dan tanah di Saudi, juga turut disita oleh kerajaan.
Mantan kepala protokol kerajaan, Mohammed al-Tubaishi, juga ikut dibebaskan tak lama setelah Pangeran Mutaib bebas.Dia meninggalkan Hotel Ritz-Carlton setelah mencapai kesepakatan dengan Raja Salman.
Menurut The New Arab, Al-Tubaishi menyerahkan tebusan senilai 6 miliar riyal (Rp21,65 triliun) agar bisa bebas dari hotel mewah itu.
Sumber tersebut menambahkan bahwa lebih banyak tahanan akan dilepaskan dalam beberapa hari mendatang. Sekira 95 persen tahanan telah mencapai kesepakatan finansial dengan Raja Salman agar bisa dibebaskan.
Sementara itu, nasib Pangeran Alwaleed bin Talal saat ini tidak diketahui karena tidak jelas apakah dia telah mencapai kesepakatan atau tidak.
Lebih dari 200 orang ditahan oleh kerajaan karena dianggap melakukan penggelapan pajak dan korupsi senilai US$100 miliar (Rp1.353,58 triliun). Ini adalah operasi pembersihan elit kerajaan terbesar dalam sejarah modern Arab Saudi.Tapi, banyak yang menduga bahwa pembersihan itu bukan tentang korupsi. Tapi lebih banyak karena uang dan perebutan kekuasaan.
Awal bulan ini, pejabat Amerika Serikat menyatakan keprihatinan atas tindakan 'sembrono' Raja Salman dalam beberapa pekan terakhir.
Raja Salman dianggap sedang mengkonsolidasikan kekuasaannya di Arab Saudi, bukan membersihkan pejabat dan pengusaha yang terlibat dalam skandal korupsi dan penggelapan pajak
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya