Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Bio Farma Akan Libatkan Farmasi Swasta Produksi Vaksin Covid-19

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 24 Juli 2020 19:48
Bio Farma Akan Libatkan Farmasi Swasta Produksi Vaksin Covid-19
Pemerintah memfokuskan perhatian terhadap tiga faktor dalam produksi vaksin.

Dream - PT Bio Farma memastikan proses produksi vaksin Covid-19 nantinya akan dikerjasamakan dengan perusahaan farmasi swasta. Salah satu yang sudah ada dalam rencana BUMN ini adalah PT Kalbe Farma Tbk. 

Untuk saat ini, Bio Farma masih fokus menjalankan uji klinis terhadap calon vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech China. Jika sukses, calon vaksin tersebut akan diproduksi massal dan siap digunakan untuk penyembuhan pasien Covid-19.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan proses produksi vaksin dilakukan pada waktu yang dinilai tepat oleh Bio Farma.

" Sudah pasti kita menginginkan bahwa produksi vaksin dilakukan oleh perusahaan yang berasal dari Indonesia, dalam hal ini ada PT Bio Farma sebuah BUMN, demikian ada rencana juga dengan pihak swasta yaitu PT Kalbe," ujar Wiku, dikutip dari Merdeka.com.

Wiku menerangkan tidak menutup kemungkinan adanya kerja sama Bio Farma dengan perusahaan farmasi lainnya. Persyaratan utamanya adalah perusahaan tersebut harus beroperasi di Indonesia.

1 dari 5 halaman

Selanjutnya, Wiku mengatakan Satgas Covid-19 membentuk tim pakar dalam pembuatan vaksin. Tik ini akan fokus pada bidang vaksin serta obat dan memastikan kandidat vaksin yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

Wiku menerangkan terdapat tiga hal yang menjadi fokus perhatian pemerintah dalam produksi vaksin. Pertama yaitu keamanan, artinya vaksin harus dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat dari Covid-19 dan tidak ada efek samping,

Kedua, tepat dalam menimbulkan kekebalan spesifik dari ancaman Covid-19. Sedangkan ketiga, harus cepat memberikan perlindungan kepada manusia, khususnya rakyat Indonesia.

" Maka dari itu, harus dilakukan termasuk uji klinis bisa terlaksana dengan cepat dan benar," kata Wiku.

" Dalam konteks benar, harus diproduksi juga dengan baik dan dalam jumlah memadai untuk betul-betul bisa memberikan vaksin kepada rakyat Indonesia yang perlu diberikan perlindungan," ucap dia melanjutkan.

(Sah, Sumber: Merdeka.com/Supriatin)

2 dari 5 halaman

WHO: Bukan yang Kaya atau Miskin, Vaksin Covid-19 Untuk Semua Orang

Dream - Kepala Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan, menyatakan pihaknya bekerja memastikan distribusi vaksin Covid-19 yang adil. Ini agar semua orang dapat mengakses vaksin untuk kesehatan bersama.

Ryan mengatakan WHO juga akan memperluas akses ke vaksin potensial. Juga membantu meningkatkan kapasitas produksi.

" Kita harus adil soal ini, karena ini adalah barang global. Vaksin untuk pandemi ini bukan untuk orang kaya maupun orang miskin, vaksin untuk semua orang," ujar Ryan, dikutip dari NDTV.

Sejauh ini, kata Ryan, para peneliti membuat kemajuan yang menggembirakan dalam pengembangan vaksin. Sejumlah calon vaksin kni telah memasuki fase ketiga uji klinis dan belum ada satupun yang gagal dalam hal keamanan atau kemampuan menghasilkan respon kekebalan.

" Realistisnya vaksin pertama baru tersedia tahun depan sebelum kita mulai menjalankan vaksinasi," kata Ryan.

 

3 dari 5 halaman

AS Bersedia Keluar Rp28 Triliun

Pemerintah Amerika Serikat akan membayar US$1,95 miliar, setara Rp28,5 triliun untuk 100 juta dosis vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer Inc dan perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech. Hal itu jika terbukti aman dan efektif.

Ryan mengingatkan seluruh sekolah agar berhati-hati sebelum mengaktifkan kembali kegiatan belajar mengajar tatap muka sampai transmisi Covid-19 lokal terkendali.

" Kita harus melakukan segala yang mungkin untuk membawa anak-ana kita kembali ke sekolah, dan hal paling efektif yang bisa kita lakukan adalah mengentikan penyakit di masyarakat kita. Karena jika Anda mengendalikan penyakit di masyarakat, Anda bisa membuka sekolah," kata dia.

4 dari 5 halaman

Kapan Calon Vaksin Covid-19 dari Bio Farma Bisa Digunakan?

Dream - PT Bio Farma (Persero) menyatakan pengujian klinis tahap 3 terhadap calon vaksin produksi Sinovac Biotech membutuhkan waktu setidaknya 6 bulan. Rentang waktu yang dibutuhkan tidak bisa kurang dari yang ditetapkan.

Head of Corporate Communication Bio Farma, Iwan Setiawan, mengatakan enam bulan merupakan waktu optimal pelaksanaan uji klinis secara scientific. Dalam rentang waktu tersebut reaksi vaksin dapat terlihat.

" Untuk uji klinis ini kita kan harus memenuhi standar regulasi maupun secara validity fact, ada masa inkubasi yang tidak bisa kita tawar," ujar Iwan dikutip dari Merdeka.com.

 

5 dari 5 halaman

Iwan menjelaskan saat uji klinis, relawan akan disuntik calon vaksin sebanyak dua kali dalam rentang waktu yang berbeda. Yaitu pada hari pertama dan 14 hari setelah penyuntikan pertama.

Setelah disuntik, relawan dipantau oleh tim yang uji klinis. Tim akan memeriksa efek samping dari penyuntikan vaksin tersebut secara berkala hingga enam bulan lamanya.

" Setelah enam bulan kita lihat lagi kandungan antibodinya. Kalau memang berhasil, kita bisa gunakan vaksin tersebut," kata Iwan.

Pernyataan Iwan ini sekaligus menjawab permintaan Presiden Joko Widodo terkait lama pelaksanaan uji klinis. Dalam pertemuan dengan tim uji klinis di Istana Negara pada Selasa, 21 Juli 2020, Jokowi meminta uji klinis dilakukan paling lama 3 bulan.

Calon vaksin Covid-19 dari Sinovac yang sudah masuk ke Indonesia sebanyak 2.400 dosis. Sedangkan uji klinis terhadap calon vaksin tersebut dilakukan di Bandung melibatkan relawan sebanyak 1.620 orang dengan rentang usia 18-59 tahun.

" Itu kita akan melakukan uji klinis terhadap 1.620 subjek (relawan). Jadi subjek ini nanti mendapat suntikan vaksin ya, bukan virus," kata Iwan.

Sumber: Merdeka.com/Rifa Yusya Adilah.

Beri Komentar