Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Meski kerap menjadi areal konflik Palestina dan Israel, wilayah Gaza mampu mencetak sejarah tersendiri. Gaza selama ini dikenal sebagai tempat lahirnya para pebisnis baru yang bergerak di bidang startup.
Seperti dikutip Dream.co.id dari laporan Huffingtonpost, Jumat, 25 Juli 2014, Nina Curley, seorang konsultan kewirausahaan dan masalah Timur Tengah menilai, para perempuan pendiri startups di Gaza lebih maju dibandingkan Amerika Serikat.
Meski tidak ada angka pasti mengenai perempuan Gaza yang mendirikan startup, namun menurut sebuah survei dari Wamda menunjukan, 23 persen dari 1000 pendiri startup di Gaza adalah perempuan. Sementara 38 persen dari perusahaan itu setidaknya memiliki satu perempuan sebagai pendirinya dan 13 persen bahkan dijalankan tim yang semuanya perempuan.
Realitas ini kontras kondisi yang terjadi di AS. Global Entrepreneurship Development Institute, mencatat hanya 2 persen dari perusahaan teknologi di AS didirikan oleh perempuan. Sebuah studi dari Harvard Business School bahkan menunjukkan jumlah perusahaan yang dipimpin perempuan naik hanya 7 persen di AS.
Dalam gelaran tahunan, Gaza Startup Weekend terbukti sebagian besar peserta adalah perempuan berusia muda. Salah satunya Sofiya Mosalem yang berusia 16 tahun. Selama penyelenggaraan Gaza Startup Weekend, Abultewi menjadi mentor Mosalem. Awalnya Mosalem tak mengerti apa itu startups.
Mentoring Mosalem bersama Abultewi merupakan bagian dari program mentor Intalqi yang mendapat dukungan dana dari Google. Dana tersebut disalurkan melalui Mercy Corps kepada Gaza Sky Geeks. Gaza termasuk dalam payung inisiatif Google bernama #40Forward senilai US$ 1 juta yang dialokasikan kepada 40 komunitas startups.
Mosalem membuat startups bernama Baby Boom Boom yang ditujukan untuk ibu-ibu yang tinggal di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dia mengatakan melalui Baby Boom Boom ibu dapat mengakses informasi up-to-date tentang kehamilan, kesehatan dan life style.
Sayangnya di akhir acara, startup milik Mosalem tidak berhasil memenangkan lomba meski dia tetap mendapat hadiah uang sebesar US$400.
Dari 140 peserta Gaza Startup Weekend, 60 di antaranya adalah perempuan. Mereka telah mencurahkan banyak energi dan berharap bisa mendapat tempat di hati para juri. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya