Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pakar Ekonomi Menyebut Ada Pergeseran Pola Konsumsi Masyarakat.
Dream – Pakar ekonomi menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat saat ini. Pola konsumsi bergeser dari belanja ritel menjadi belanja wisata.
Pergeseran pola konsumsi ini didorong oleh keinginan masyarakat untuk tampil gaya, padahal pendapatannya pas-pasan. Pergeseran pola ini melahirkan sebuah fenomena baru.
“ Mereka tidak membeli pakaian karena pendapatannya digunakan untuk jalan-jalan, menginap di hotel, atau pergi wisata ke Bali dan negara lain,” kata Dekan dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, di Jakarta, dilansir dari Merdeka.com, Selasa 15 Agustus 2017.
Ari mengatakan perubahan ini dilihat dari banyaknya kelas menengah yang hidup hura-hura. Mereka menabung uangnya dan mengurangi belanja ritel. Lalu, kelas ini menghabiskan uangnya untuk jalan-jalan, padahal pendapatannya tidak meningkat.
Dikatakan bahwa ini merupakan pengamatannya terhadap fenomena yang berkembang di masyarakat di mana mereka mengunggah foto jalan-jalan ke media sosial.
“ Ketika kebutuhan untuk menunjukkan aktualisasi sebagai kelas menengah timbul, tetapi pendapatan tidak naik, mereka harus memilih yang dibeli. Barang yang bisa menunjukkan eksistensi mereka sebagai kelas menengah adalah jalan-jalan,” kata dia.
Ari juga mengatakan masyarakat Indonesia saat ini mementingkan tampil trendi walaupun pendapatannya pas-pasan. Dia juga menampik anggapan terjadi penurunan daya beli di masyarakat.
“ Jadi, pendapatan pas-pasan, tapi ingin bergaya lebih, gengsi. Ini gaya hidup hedonis yang baru. Intinya mereka masih punya daya beli,” kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya