Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Internet telah memberi kemudahan pada kita yang ingin melakukan perjalanan wisata. Di internet, kita disuguhi berbagai pilihan paket perjalanan wisata yang menarik, mulai dari yang murah hingga yang super mewah.
Namun booming perjalanan wisata online tidak luput dari tangan-tangan jahil yang ingin mengeruk untung tetapi merugikan konsumen.
Seperti dikutip dari Gulf News¸Jumat, 14 Agustus 2015, sekira 1.569 kasus penipuan pemesanan perjalanan wisata telah dilaporkan pada tahun 2014, menurut Biro Intelijen Nasional yang mengurus penipuan online di Kepolisian London.
Kerugian yang ditimbulkan sangatlah tidak sedikit. Sebanyak 2,2 juta pounds atau setara Rp 47 miliar uang wisatawan yang tertipu berhasil dibawa lari oleh perusahaan perjalanan wisata online abal-abal.
Tetapi jumlah penipuan yang terjadi sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, kata Sean Tipton, juru bicara asosiasi agen dan operator perjalanan wisata Inggris, ABTA.
" Sebagian besar konsumen tidak mau melaporkan penipuan yang dialami karena tidak tahu ke mana harus melapor. Mereka menganggap hal itu akan merepotkan atau membuat mereka malu."
Penipuan paling umum adalah 'spoofing', di mana penipu membuat situs agen perjalanan wisatawan fiktif atau iklan yang menawarkan perjalanan wisata palsu. Mereka berpura-pura sebagai pemilik atau pegawai agen perjalanan wisata terkenal dengan mengirim email dengan tulisan dan foto-foto yang meyakinkan sehingga calon wisatawan tertipu.
Jenis penipuan lainnya termasuk penerbangan palsu. Wisatawan ditawari tiket penerbangan asli tapi palsu dari penyedia perjalanan wisata online palsu. Yang paling sering adalah tiket olahraga yang melibatkan acara berskala internasional seperti Piala Dunia. Atau perjalanan haji atau umrah yang sering ditawarkan dengan harga yang sangat murah dengan berbagai janji manis.
Perusahaan sewa rumah HomeAway di Inggris mengatakan menghubungi pemilik sebelum dan setelah melakukan pemesanan adalah salah satu cara terbaik agar tidak tertipu.
Erica Chang, direktur senior regional HomeAway, mengatakan orang yang hendak liburan sebaiknya menghubungi nomor telepon pada iklan tersebut dan menanyakan pertanyaan spesifik tentang pemesanan, hal-hal yang dibutuhkan saat liburan, tentang tanggal, dan tentang ketersediaan.
" Jika ingin menyewa sebuah rumah untuk liburan, pastikan untuk mengetahui bahwa nomor telepon yang dipasang atau diberikan bukan nomor palsu. Selain itu, cobalah untuk bertanya sedetail mungkin tentang pesanan Anda," kata Chang.
Seorang penipu sangat pintar menyamar sebagai 'pemilik asli' saat berbincang di telepon. Tetapi kebanyakan mereka mencari keuntungan cepat dan akan enggan untuk menghabiskan waktu menjawab pertanyaan rinci tentang properti palsu.
Jika mereka ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan dan meminta pembayaran lengkap di muka, maka harus menjadi bendera merah bagi wisatawan yang ingin menyewa rumah untuk liburan.
Hal lain yang patut dicermati saat memesan perjalanan wisata atau menyewa rumah untuk liburan adalah sedikit atau bahkan tidak adanya ulasan positif.
" Semakin banyak ulasan positif, semakin tenang Anda memesannya. Ini menunjukkan bahwa banyak orang yang pergi ke sana. Namun kita harus tetap waspada, bukan tidak mungkin ulasan dibuat sendiri oleh penipu," kata Chang.
Di samping itu, kita harus hati-hati saat memesan melalui agen perjalanan wisata online. Selalu perhatikan tulisan nama perusahaan di alamat website, jangan sampai ada kesalahan sedikit yang bisa mengarah ke spoofing. Jika membayar secara online, harus ada koneksi aman yang ditunjukkan dengan https:// di awal alamat website.
Bagi mereka yang memesan di menit terakhir harus sangat waspada karena penipu biasanya beraksi di periode puncak seperti liburan musim panas atau liburan sekolah.
Mereka bisa meminta bayaran lebih selama periode ini karena permintaan yang tinggi. Hal yang sama, wisatawan yang ingin menyewa rumah harus curiga dengan bangunan cantik di lokasi strategis dan terkenal ditawarkan sangat murah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya