Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Pusing dengan tumpukan utang yang seolah tak pernah habis? tenang Anda tak sendirian. Banyak orang mengalami hal serupa dan berjuang keras mengatasinya.
Namun harus diakui, hanya sedikit yang berhasil selamat. Itupun dengan pengorbanan yang tak sedikit.
Mark dan Lauren Greutman adalah salah satu contoh pasangan yang berhasil keluar dari jerat utang. Padahal 8 tahun lalu, mereka masih punya utang US$ 40 ribu atau sekitar Rp 552 juta.
Belum lagi pendapatannya setiap bulannya tak sanggup menutup anggaran belanja. Alhasil, saban bulan pasangan ini tekor Rp 13 juta per bulan.
Setelah berjuang selama tiga tahun, pasangan ini akhirnya merasakan kebebasannya dari lilitan uang.
Ingin berbagi kisahnya dengan para pengutang, Lauran mengaku punya satu trik jitu mengurangi tagihan utangnya.
Kunci suksesnya ternyata terletak pada uang belanja dan tak mau membeli barang diskonan.
Langkah pertama yang dilakukan Lauren adalah hanya berbelanja menggunakan uang tunai di supermarket. Cara ini membuat berpikir dua kali sebuah memasukan barang belanja ke dalam troli.
Dia juga menemukan kenyataan jika menghabiskan waktu merencanakan barang belanjaan bisa membuatnya menghemat uang lebih banyak.
" Jika saya menghabiskan satu jam mendata barang belanja dan menyusun voucher diskon untuk menghemat US$ 50, saya tidak akan menghabiskan uang itu untuk membeli barang yang tak perlu. Alasannya saya sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang itu," katanya seperti dikutip laman businessinsider, Jumat, 14 Agustus 2015.
Selanjutnya, Lauren memutuskan hanya membeli belanja di toko yang membuatnya bisa menghemat uang lebih banyak. Pasar tradisional pun disambanginya.
Dengan fokus pada pengeluarannya, Lauren akhirnya bisa melunasi utang US$ 5.000 atau Rp 69 juta dalam setahun.
Saat tak ada lagi ruang untuk berhemat, Lauren memutuskan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Di Negeri Paman Sam, penduduk kerap mendapatkan uang tau voucher dari mengisi survei online yang biasanya dilakukan perusahaan.
Setelah perjuangan panjang tak kenal lelah itu, Lauren kini hanya tinggal menyelesaikan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dia sudah mengajukan KPR untuk jangka waktu 11 tahun.
Mau mencoba?
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya