Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Bursa saham Indonesia yang dibuka menguat justru berbalik melemah di sesi penutupan. Aksi jual investor yang mengekor pemodal asing membuat indeks saham melemah.
Dua sektor saham menjadi pemberat laju bursa saham Indonesia. Emiten pertanian dan properti mencatat pelemahan terbesar masing-masing 1,18 persen dan 1,04 persen.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 22 Desember 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 18,849 poin (0,37%) ke level 5.125,77.
Menukiknya harga saham dari 198 emiten mendorong IHSG terseret ke zona merah. Padahal, bursa saham dipenuhi kenaikan harga saham dari 127 emiten dan 82 lainnya bergerak stagnan.
Pelaku pasar cukup atraktif melakukan aksi jual beli saham dengan melibatkan 120,71 miliar saham. Transaksi ini membuat dana berputar di pasar modal Indonesia menembus angka Rp 5,39 triliun.
Pemodal asing yang memborong saham di awal perdagangan justru berbalik melepas portofolionya jelang penutupan perdagangan. Asing mencatat nett sell Rp 322,53 miliar, sekaligus memperpanjang tren jual asetnya yang bertahan 5 hari terakhir.
Di tengah dominasi pelemahan indeks sektoral, emiten industri dasar justru mencetak penguatan. Indeks sektoral ini naik tipis 0,09 persen.
Aksi lepas saham investor jelang libur panjang ini turut menyeret dua saham syariah ke zona merah. Padahal kedua indeks saham ini memulai perdagangan di teritori positif.
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) sore ini ditutup melemah 0,77 poin (0,47%) ke level 164,85. Koreksi saham yang meland 125 emiten memaksa ISSI merelakan laju positifnya di awal perdagangan.
Beruntung masih ada 71 emiten syariah yang melaju di zona hijau sementara 53 lainnya diam di tempat.
Di awal pekan ini, pemodal mentransaksikan 45,91 miliar saham bernilai Rp 3,06 miliar.
Upaya tak kenal lelah justru ditunjukan emiten-emiten bluechips syariah. Terbukti indeks Jakarta Islamis Index (JII) sempat bertahan di zona hijau jelang penutupa perdagangan.
Maraknya aksi jual pada akhirnya memaksa JII ikut terkapar di zona Merah. JII ditutup melemah 2,820 poin (0,42%) ke level 676,36.
Sebanyak 11 emiten unggulan syariah mengakhiri transaksi perdagangan dengan bergerak menguat. Sementara 17 emiten menyerah dengan melemah ke zona merah dan 2 lainnya stagnan.
Dari kawasan regional, indeks saham utama Asia justru didominasi penguatan. Indeks Hang Seng dan Kospi Korea Selatan bergerak menguat 1,17 persen dan 0,54 persen.
Pasar modal Indonesia justru memilih mengekor indeks saham Nikkei Jepang yang mencetak koreksi 0,18 persen.
Di pasar keuangan, rupiah masih mampu bertahan di level 12.400. Sore ini rupiah bahkan bergerak naik 62 poin (0,50%) ke level 12.435 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya