Pertamina Hulu Energi Akuisisi PI 3 WK di Kaltim, Salah Satunya di Lokasi Temuan Cadangan Gas Raksasa Tahun 2023
Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran
Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah
5 Minuman yang Sebaiknya Dihindari Setiap Hari Jika Ingin Mengurangi Gula
Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A
Mengapa AC Mobil Listrik Tetap Bisa Aman Menyala Meski Mesin Mati?
Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya
Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan
Ilustrasi
Dream - Uang haram yang beredar di negara-negara berkembang di dunia ditaksir mencapai US$ 991,2 miliar atau sekitar Rp 12.298 triliun. Dalam satu dekade terakhir aktivitas terlarang ini terus meningkat.
Dana haram ini biasanya digunakan untuk aksi kejahatan, korupsi, penggelapan pajak, dan aktivitas terlarang lainnya.
Mengutip laporan Global Financial Integarity (GFI) yang dikutip Dream, Senin, 22 Desember 2014, negara berkembang dan emerging contries ditaksir mengalami kerugian hingga US$ 6,6 triliun akibat aliran dana haram sepanjang 2003-2014.
Uang haram yang mengalir keluar negeri itu meningkat rata-rata 9,4 persen per tahun. Pertumbuhan ini hampir dua kali lipat dari PDB dunia.
Negara-negara sub sahara Afrika tercatat sebagai kawasan paling banyak mengalami kerugian akibat modal terlarang ini. Di kawasan ini, aliran keluar dana haram mencapai 5,5 persen dari PDB tahunan.
GFI melaporkan pelanggaran dalam transaksi perdagangan tercatat merupakan pemicu terbesar dari aliran dana haram tersebut. Porsinya mencapai 77,8 persen dari total aliran dana haram seluruh dunia.
Pemicu kedua adalah aliran keluar dana panas terlarang yang nilainya ditaksir mencapa US$ 1,48 triliun.
Presiden GFI, Raymond Baker meperkirakan hasil laporannya ini baru merupakan perhitungan konservatif. Diperkirakan lebih dari 10 kali lipat dana bantuan dari luar negeri telah diterima negara-negara berkembang ini.
" Aliran dana terlarang merupakan masalah besar yang bisa merupakan perekonomian negara berkembang dan emerging economies," kata Baker.
Mengutip laporan GFI, berikut adalah 10 negara dengan aliran dana gelap terbesar selama satu dekade terakhir:
1. China
Rata-rata per tahun: US$ 125,24 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 1,25 triliun
2. Rusia
Rata-rata per tahun: US$ 97,38 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 973,85 miliar
3. Meksiko
Rata-rata per tahun: US$ 51,42 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 514,25 miliar
4. India
Rata-rata per tahun: US$ 43,95 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 439,58 miliar
5. Malaysia
Rata-rata per tahun: US$ 39,48 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 394,86 miliar
6. Arab Saudi
Rata-rata per tahun: US$ 30,86 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 308,62 miliar
7. Brasil
Rata-rata per tahun: US$ 21,70 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 217,10 miliar
8. Indonesia
Rata-rata per tahun: US$ 18,78 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 187,84 miliar
9. Thailand
Rata-rata per tahun: US$ 17,16 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 171,67 miliar
10. Nigeria
Rata-rata per tahun: US$ 15,74 miliar
Kumulatif 2003-2012: US$ 157,45 miliar
Advertisement

3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar

Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan

9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes

Bukan Sekadar Hantu, Teror Rambut Sewu Berawal dari Dendam Keluarga


Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran

Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah