AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?
10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah
Ilustrasi Uang Koin.
Dream – Sahabat Dream yang pernah menyaksikan film-film China bertema masa kerajaan pasti pernah sekali dua kali melihat para pemainnya menunjukan uang koin mereka. Berbeda dengan koin masa kini, uang logam itu memiliki bentuk bolong di tengahnya.
Model uang logam serupa ternyata pernah juga dimiliki Indonesia di masa pemerintahan Hindia Belanda.
Dikutip dari laman Bank Indonesia, uang koin ini bernama sen bolong. Uang itu berbahan tembaga dan diterbitkan antara 1936-1945. Uang tersebut dibuat dalam enam periode cetakan yaitu tahun 1936, 1937, 1938, 1939, 1942, dan 1945.
Sen bolong ini memiliki nominal 1 sen. Dilansir dari sumber lainnya, uang ini berbahan dasar tembaga.

Di bagian muka, terdapat gambar padi, tulisan Nederlandsch-Indie, dan angka 1 sen. Sementara itu, di bagian belakang, ada aksaran jawa dan arab yang berarti seperseratus rupiah. Koin ini berukuran berat 4 gram, diameter 23,5 milimeter, dan tebal 1,25 milimeter.
Menariknya, uang koin 1 sen ini digunakan setelah Indonesia merdeka pada 1945. Kala itu, Indonesia belum punya uang koin. Indonesia baru punya uang koin pada tahun 1950-an.
Dream - Kerokan merupakan cara tradisional mengobati masuk angin di kalangan masyarakat Jawa. Untuk kerokan, mereka biasanya menggunakan uang koin.
Di zaman dulu, selain sebagai alat bayar, uang koin Hindia Belanda yang disebut dengan uang Benggol juga dijadikan alat untuk kerokan.
![]()
Koin Benggol, khususnya pecahan 2,5 sen, dipakai untuk kerokan karena bentuknya yang besar dan tebal sehingga sangat nyaman.
Yang membuat koin berbahan tembaga ini jadi pilihan untuk kerokan karena bagian pinggirnya yang rata sehingga tidak sakit jika beradu dengan kulit.
Untuk diketahui, koin Benggol dicetak sejak tahun 1856, saat VOC masih beroperasi, hingga 1945. Koin Benggol berlaku hingga zaman kemerdekaan, sekitar tahun 1950-an.
Dalam kurun waktu 16 tahun tersebut, koin Benggol dicetak dengan jumlah yang bervariasi setiap tahunnya. Pencetakan paling sedikit terjadi pada 1896, sebanyak 1.120.000 keping.
Sementara pencetakan koin terbanyak terjadi pada 1945. Saat itu, koin Benggol dicetak sebanyak 200.000.000 keping.
Terdapat jenis cetakan khusus pada koin Benggol tahun 1902. Koin Benggol dicetak menggunakan bahan emas dan perak dengan berat 13,5 gram dalam jumlah yang terbatas.

Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan uang koin Benggol dalam dua cetakan dengan sejumlah perbedaan yang cukup signifikan.
Pada kelompok cetakan pertama, huruf Arab ditulis dalam dua baris. Sedangkan pada kelompok cetakan kedua, huruf Arab ditulis dalam tiga baris. Perbedaan kedua terletak pada jenis huruf Arabnya.
Kelompok cetakan pertama menggunakan huruf Arab gundul, sedangkan pada kelompok cetakan kedua huruf Arab dilengkapi dengan harokat. Perbedaan ketiga terletak pada mahkotanya.

Pada kelompok cetakan pertama, bentuk mahkota bagian atas lebih lebar dari bentuk pada kelompok cetakan kedua.
Perbedaan terakhir terletak pada ornamen mawar di koin Benggol tersebut. Pada kelompok cetakan pertama bentuknya lebih besar daripada kelompok cetakan kedua.
Selain perbedaan tersebut, pada koin Benggol keluaran 1945 terdapat huruf P pada bawah angka 45 yang menunjukan bahwa uang tersebut dicetak di Philadelphia, Amerika Serikat. Sementara tanda prify pada uang tersebut bergambar pohon palm.
Keunikan lainnya dari koin Benggol terdapat pada uang keluaran 1856, yaitu penggunaan huruf mim yang memiliki gaya penulisan terbuka dan tertutup.
Selain koin Benggol, Pemerintah Hindia Belanda juga mencetak uang koin dengan lubang di tengahnya atau disebut dengan uang 'sen bolong'.
Sama dengan koin Benggol, sen bolong ini juga berbahan tembaga. Sen bolong diterbitkan sejak 1936 hingga 1945 dalam 6 tahun periode cetakan, yaitu 1936, 1937, 1938, 1939, 1942, dan 1945.
Sumber: BI
Advertisement
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli


Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?

Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya