Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menampik kondisi ekonomi tahun ini sama dengan kondisi ekonomi tahun 1998, di mana nilai tukar rupiah saat itu juga melemah.
Menurut Jokowi, kondisi ekonomi saat ini jauh lebih baik dibandingkan saat krisis ekonomi tahun 1998. Pasalnya, depresiasi rupiah tidak sedalam yang terjadi pada tahun 1998.
“ Itu berangkatnya dari Rp 1.800 meloncat menjadi Rp 16.000, hampir 7 kali lipat. Yang sekarang, kemarin Rp 12.500 waktu saya masuk, tapi itu juga sebetulnya memberatkan kita semuanya karena memang kita terlalu banyak impor barang dari luar,” ujar Jokowi seperti dikutip Dream dari laman situs Sekretariat Kabinet, Rabu, 16 September 2015.
Jokowi menjelaskan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini pun juga terjadi pada mata uang negara lain. Hal ini karena kondisi perekonomian dunia yang dipengaruhi penguatan dolar AS dan keadaan ekonomi Tiongkok. Sayangnya, pelemahan rupiah ini diperparah dengan besarnya impor Indonesia.
" Kita tidak melulu impor barang elektronik, tetapi juga jagung, kedelai impor, gula, cabai, bawang merah, apalagi garam. Padahal kita punya potensi, kekuatan untuk menyelesaikan yang impor-impor tadi, tapi memang butuh waktu,” tuturnya.
Untuk itu, lanjut Jokowi, pemerintah tengah berupaya mensubtitusi barang-barang impor tersebut. Dengan mengurangi impor, tambahnya, maka gejolak nilai tukar ini tidak begitu memengaruhi perekonomian tanah air.
" Kalau ini nanti ketemu kita tidak impor, baru gejolak-gejolak dollar apapun tidak akan banyak mempengaruhi kita," pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya