Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Miranda Gultom, yang sempat menjadi terpidana kasus suap cek pelawat (traveller cheque) ke anggota DPR untuk pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), telah merasakan udara bebas sejak Juni lalu.
Setelah terkurung jeruji selama 3 tahun, Miranda kembali pada aktivitasnya di dunia pendidikan dan ekonomi.
Pada seminar yang diselenggarakan di Kementerian Keuangan dengan tajuk “ Restrukturisasi Jangka Menengah dan Jangka Panjang Untuk Mencapai Target Pertumbuhan”, Miranda menyampaikan beberapa pandangannya terkait kondisi ekonomi saat ini.
Menurut Miranda, ada dua hal yang dialami Indonesia saat ini, yaitu ketidakpastian ekonomi global dan kelemahan struktural. Dari sisi ketidakpastian ekonomi Global, Indonesia harus berhadapan dengan harga komoditas Global yang merosot tajam, pemulihan ekonomi global yang di bawah harapan, ketidakpastian Fed Fund Rate dan Quantitative Easing Tiongkok dalam menanggapi perlambatan ekonomi.
Sementara dari dalam negeri, Indonesia menghadapi tantangan ekspor yang melemah terutama dari Sumber Daya Alam (SDA), konsumsi yang melambat, Counter Cylical Policy yang tidak berjalan karena kapasitas penyerapan belanja modal yang belum optimal, dan investasi dimana kurangnya infrastruktur dan kapabilitas industrial dari Indonesia.
" Kendala eskternal dan internal tersebut mengakibatkan kurangnya kepercayaan Investor terhadap Indonesia," ujarnya, seperti dikutip dari laman situs Kementerian Keuangan, Senin 2 November 2015.
Menurut Miranda, solusi untuk meningkatkan kepercayaan investor saat ini adalah peningkatan resiliensi dan confidence yang dapat dilakukan dengan langkah seperti menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, memperdalam pasar keuangan, meningkatkan produksi dan nilai tambah produk barang dan jasa, memperbaiki konektivitas, serta manajemen risiko dan penanganan krisis.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya