Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Masih mandeknya perkembangan ekonomi syariah di tanah air menjadi fokus perhatian Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI). Tidak mau melewatkan kesempatan, organisasi ini langsung menggandeng Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk turut mendorong perkembangan sistem syariah di Indonesia.
Seperti dikutip dari laman wapresri.go.id, Rabu, 11 Maret 2015, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (IAEI) yang juga Menteri Keuangan RI Bambang Brodjonegoro datang menyambangi JK di kantornya. Tujuan kedatangan Bambang adalah mengundang JK untuk membuka muktamar IAEI dan juga menjadi pembicara utama pada 30 April 2015.
“ Muktamar itu bukan hanya untuk pergantian pengurus, tetapi juga seminar internasional tentang ekonomi Islam, penandatanganan nota kesepahaman dengan berbagai pemangku kepentingan seperti BI, OJK dan beberapa kementerian,” papar Bambang.
Dalam pertemuan itu, Bambang menjelaskan bahwa IAEI lahir karena menyadari semangat untuk meningkatkan ekonomi syariah di Indonesia. Tetapi, lanjut Bambang, IAEI memfokuskan pada kegiatan akademik, karena ekonomi Islam bukan hanya monopoli Universitas Islam Negeri, tetapi juga harus tumbuh dan berkembang di universitas biasa.
“ IAEI bertujuan agar perguruan tinggi membuka program studi ekonomi Islam dan perguruan tinggi besar mau memberi perhatian pada ekonomi Islam,” ujarnya.
Hasilnya, menurut Bambang, sudah banyak perguruan tinggi yang membuka program studi ekonomi Islam, baik untuk program S1, S2 maupun S3.
“ Yang kami dorong adalah agar mahasiswa memahami dulu ekonomi keuangan, baru mempelajari sisi syariahnya. IAEI bersama Ditjen Pendidikan Tinggi bersama-sama menyusun kurikulum,” tambahnya.
Bambang juga melaporkan total aset ekonomi Islam yang masih rendah. “ Total aset perbankan syariah hanya lima persen dari total aset perbankan nasional,” tandasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya